
Laki-laki berparas tampan itu berdiri didepan pintu meremas jemarinya yang berkeringat. Peluhnya sudah mengalir begitu saja tanpa permisi, padahal hari cukup mendung. Dia mengangkat tangannya memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah. Tapi, diturunkan lagi tangannya, sudah ke empat kalinya laki-laki itu mengangkat dan menurunkan kembali tangannya.
Rasa ragu, cemas dan was was menggelayuti. Ah terasa mengerikan, seperti mau bertemu dengan malaikat maut saja. Padahal sudah dari semalam Rafan memikirkan bagaimana dan apa yang harus dilakukan dan ia katakan saat menghadapi mertuanya. Eh Ralat, mantan mertua maksudnya.
Ayo Rafan ketuk pintunya. Kenapa kau ketakutan seperti ini. Bicarakan semuanya baik-baik, ayah mertua takkan memarahi mu.
Ayolah ketuk saja pintunya. Kau gugup bertemu dengan mantan istrimu atau takut bertemu dengan mertuamu ? Jangan bodoh ini semua terjadi karena istri mu.
Bisikan seperti malaikat dan setan memenuhi pendengaran Rafan. Laki-laki bertubuh tinggi itu menggelengkan kepalanya mengusir bisikan tidak berfaedah.
Bismillahirrahmanirrahim
Tok tok
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." terdengar suara jawaban dari dalam rumah. Pintu pun terbuka, tampaklah disana Budi yang tersenyum pada Rafan. Senyuman yang membuat Rafan semakin panas dingin saja.
"Ya ampun nak Rafan to, ayo sini masuk." ajak Budi.
"Eh, iya Pak makasih."
"Ibu ! Ibu ! menantu ibu datang !" seru Budi.
__ADS_1
Rafan sudah duduk di ruang keluarga bersama dengan Budi dan Nisa. Rafan seperti tak bernafas, dadanya hanya kembang kempis sangat pelan. Bagaimana tidak ? pasalnya mantan mertuanya tengah menatapnya dengan tatapan tak bersahabat.
"Sekarang jawab dengan jujur Rafan, Apa yang terjadi dengan kalian, kenapa Ara tak ada bersama mu ! dan dimana anak saya !" sentak Budi.
Rafan semakin gemetaran. Dia tak menyangka Ara tak kembali ke rumah orangtuanya, lalu kemana Ara pergi.
"Rafan jawab saya !!" bentak Budi lebih keras.
"Ayah sabar, jangan marah-marah dulu." Nisa memegang tangan Budi yang sudah mengepal kuat.
Rafan menghembuskan nafas pelan, mengumpulkan tenaga untuk menghadapi mertuanya. " Saya dan Ara sudah bercerai Pak." lirihnya pelan, tapi masih bisa didengar oleh Budi dan Nisa.
"Apa ! Kalian bercerai ! Kenapa tidak memberitahukan pada kami Kenapa kalian bercerai !" Nada bicara Budi semakin tinggi. Nisa sendiri tercengang tak percaya dengan perkataan menantunya itu.
Hati Budi dan Nisa tambah hancur seakan tak percaya setelah tahu bahwa Ara mandul ditambah dengan foto yang ditunjukkan oleh Rafan. Dimana Ara tengah berduaan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya.
Setelah amarah Budi reda, Rafan berpamitan untuk pulang dan di hantarkan Nisa sampai pintu.
"Rafan pulang ya Bu." pamit Rafan sambil mencium punggung tangan Nisa. Tak ada sahutan, Nisa hanya mengangguk kecil sembari sesegukan kecil.
Rafan sebenarnya tidak tega jika melihat wanita menangis, apalagi Nisa yang dianggapnya sebagai orang tuanya. Tapi, mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi.
Rafan melangkah pergi meninggalkan rumah Ara, langkah kakinya terhenti saat Nisa memanggilnya.
__ADS_1
"Nak Rafan ibu minta maaf atas apa yang Ara lakukan. Ibu tahu itu sangatlah tidak pantas. Tapi, kamu juga harus tahu bahwa ibulah yang melahirkan Ara dan membesarkannya. Jadi ibu tahu bagaimana Ara. Tidaklah mungkin Ara melakukan hal seperti itu, bukan ibu mau membela Ara. Ada baiknya sebelum mengambil keputusan Nak Rafan bisa selidiki semua kebenarannya terlebih dahulu."
Duarr
Bak di sambar petir siang bolong, Rafan seperti kecolongan. Kenapa dia tidak kepikiran untuk menyelidiki kebenarannya, kenapa dia tak mendengarkan penjelasan Ara dulu. Dia merutuki kebodohannya sendiri.
"Ah, maafin ibu terlalu banyak bicara ya." Nisa menghapus air matanya dan tersenyum getir pada Rafan. "Oh iya ibu lupa. Ibu tahu Nak Rafan pasti sedih jika tak bisa memiliki keturunan. Tapi percayalah, wanita yang tidak bisa memiliki keturunan, hatinya lebih sakit dan kecewa karena gagal menjadi seutuhnya wanita. Ibu salam ya sama Papa Mama kamu." lanjut Nisa, lalu masuk dan menutup pintu.
Membiarkan Rafan yang tengah berdiri mematung, meresapi setiap perkataan yang diucapkan Nisa.
Wanita yang tidak bisa memiliki keturunan, hatinya lebih sakit dan kecewa karena gagal menjadi seutuhnya wanita.
Kata yang terus menerus terngiang-ngiang di ingatan Rafan. Dia mengusap kasar wajahnya, merutuki kebodohannya lagi.
"Arghh !!" Rafan membanting handphonenya ke ranjang penginapannya. "Rafan bodoh ! kenapa kau tidak berpikir sampai kesana hah ! Kenapa kau bodoh sekali Rafan."
Rafan mengacak-acak rambutnya, marah dengan dirinya yang terlalu bodoh. Nafasnya memburu, air matanya menetes untuk kedua kalinya Rafan menangisi keputusannya menceraikan Ara.
...Author POV :...
...Sukurin Rafan 😒 Nyesel kan😏...
...Rafan POV :...
__ADS_1
...Please jangan buli cowok ganteng ya🥺...