Pak Ustadz I Love You

Pak Ustadz I Love You
Rencana


__ADS_3

Hari terus berlalu kegiatan pesantren tetap berjalan seperti biasanya. Tak disangka sudah menjelang Hari raya Idul Fitri. Suasana pesantren yang selalu ramai akan kegiatan santri, sampai hari terakhir mereka di pesantren karena mereka akan pulang ke rumah. Begitupun dengan Ara dan Ulfa.


“Ara, selamat tinggal jumpa lagi ya.” Ulfa memeluk Ara.


“Iya kamu hati-hati dijalan ya.” membalas pelukan Ulfa.


Hari itu hari yang membahagiakan bagi para santri. Hari libur yang paling ditunggu-tunggu. Jauh dari keluarga sanak saudara teman-teman yang disayang. Kerinduan yang terpendam akan terobati, dengan senyuman yang menyapa kala tiba dirumah.


Tak lain halnya dengan Ara. Dia sudah menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya pulang. Di kamar yang Ara tempati hanya tinggal beberapa santri lagi yang sedang menunggu jemputan orang terdekatnya.


Ara pulang sendiri Dia tidak mau merepotkan kedua oran tuanya. mengingat lokasi rumahnya yang sangat jauh dari Pesantren. Bahkan harus menyeberangi lautan.


Ara pulang dengan menggunakan transportasi udara. Menurutnya itu lebih nyaman dan cepat, jika ingin lewat darat Ara takut tidak kuat karena memakan waktu sampai 1 hari 2 malam di mobil.


Ara sudah sampai dirumah dan disambut dengan gembira oleh orang tuanya.


“Alhamdulillah ya Allah, Mbak sudah nyampe rumah.” ucap ibu Ara sembari memeluk anak yang sangat dirindukan itu.


“Alhamdulillah, ayo masuk nak.” Ayah masuk sambil membawa masuk barang-barang Ara.


***


Pagi hari.


“Mbak sarapan dulu mbak.” teriak Ibu Ara.


“Iya bu sebentar.” Ara merapikan alat-alat kebersihan yang ia gunakan untuk membersihkan pekarangan rumah.


Hari sudah malam Ara dan keluarganya seperti biasa berkumpul diruang keluarga bercengkrama dan menceritakan sedikit pengalaman hari ini.


“Mbak ada yang mau bicarakan sama kamu.” ucap Ayah.


“Apa yah.” Ara menjawab dengan mulut masih mengunyah keripik pisang kesukaannya yang sudah ibu siapkan jauh-jauh hari sebelum Ara pulang, dan untuk makanan hari Raya Idul Fitri nanti.


“Besok atau lusa teman ayah mau main kesini.”


“terus.” Ara masih sibuk mengunyah keripiknya.


Ayah Ara bernama Pak Budi menatap anaknya ragu untuk melanjutkan ucapannya lagi. Budi menatap anaknya intens, anak yang selalu ceria, humoris dan mampu mewarnai hari-hari mereka dirumah.


Ara juga dikenal anak yan ceria dan baik hati oleh masyarakat lingkungan sekitar. mereka menyayangi Ara.


“Ayah kok liatin aku gitu ?”. tanya Ara.

__ADS_1


Pertanyaan Ara memecah lamunan ayahnya.


“Eh gak papa Ra. Itu di mulut kamu ada bekas keripiknya. Gimana udah gede kok makan belepotan gitu.” ucapnya bohong.


“masa sih yah, kayaknya aku makan rapi kok.” memegang sekitar mulutnya.


Nisa datang membawa minum untuk suaminya dan Ara.


“Pada ngobrolin apa nih ? kok ibu gak diajak.” ujar Nisa sembari duduk di sebelah suaminya.


“Kata ayah teman ayah mau dateng gak tau besok atau lusa.” Ucap Ara.


“Oh temen ayah yang anaknya mau kita jodohkan sama Ara ya yah?”. ucap Nisa dan berhasil membuat Ara kaget.


“Uhuukk. Uhuukk.” Ara tersedak keripik yang dimakannya.


“pelan-pelan dong mbak.” menyerahkan minum ke Ara yang langsung diminumnya.


“Makanya ibu kan tadi ayah udah bilang. Jangan langsung bilang ke Ara dulu. Pake basa-basi dikit dong."


“Hehehe.Maaf yah ibu lupa..” Nisa nyengir tanpa dosa.


“Ara gak mau dijodohin !” seru Ara.


Budi dan Nisa tidak terlalu terkejut dengan jawaban Ara. mereka sudah bisa memprediksi jawaban Ara akan seperti itu.


“Mbak dengerin penjelasan kita dulu ya.” ucap Nisa.


“Yah aku kan masih kuliah. Lagian aku jugakan masih muda. Ara juga mau mengejar cita-cita aku. Aku gak mau kalau itu semua terhambat gara-gara aku nikah.” jelas Ara.


“Mbak jadi ceritanya gini. Dulu waktu kami punya kamu dan kamu waktu itu udah lahir. Sahabat Ayah yang di Bandung itu punya anak Laki-laki. Kami banyak cerita dan akhirnya Sahabat ayah itu berencana untuk jodohin kamu sama anaknya kalau anaknya itu sudah siap untuk menikah.” ucap Budi.


“Terus ayah terima gitu ?” tanya Ara.


“Iya. Tapi ayah kira waktu itu sahabat ayah bercanda. Ayah udah janji buat ngejodohin kalian kalau anaknya sudah siap menikah” terdengar seperti penyesalan dihembusan nafas Budi. “Tapi pas kemarin Om Fadil sahabat ayah itu menagih janji ayah untuk menikahkan kalian.” lanjut ayah.


“Mbak Om Fadil itu dulu yang sering bantuian usaha ayahmu, Dulu ayah sering kekurangan dana buat usaha. Om Fadil yang selalu bantu ayahmu.” tambah Nisa.


“Tapi kenapa harus Ara. kenapa gak mbak Sarah. Lagian yang siap kan anaknya sahabat ayah, aku belum siap buu” ucap Ara kesal.


“Ayah juga gak tau mbak kenapa waktu itu Om Fadil lebih milih kamu. Padahal mbk Sarah gak beda jauh usianya sama anak Om Fadil.”


“Lagian mbak Sarah kan sekarang sudah nikah Ra.” ujar Nisa.

__ADS_1


Ara hanya diam, bingung dengan situasi yang kini ia hadapi. Dia berusaha untuk menguasai emosi. Ia tau jika seperti apa akibatnya jika dia tidak bisamenahan emosinya. Ara memang ceria tapi semua akan berubah mengerikan jika sedang marah.


Ara masih sibuk dengan kebingungannya. Jika ia menolak dijodohkan dengan anak sahabat ayahnya, itu berarti akan membuat ayahnya malu didepan sahabatnya karena tidak menepati janjinya dulu. Dan bantuan yang di berikan Om Fadil kepada ayahnya sampai saat ini Dia bisa menikmati hasil kerja keras ayahnay yang di bantu Sahabatnya itu.


Tapi, kalau dia menerima perjodohan ini dia belum siap untuk menikah dan menjadi istri apalagi seorang ibu.


“Hiiihhh.” Ara bergidik ngeri membayangkan menjadi ibu yang harus melahirkan anak-anaknya. Ditambah dirinya yang sama sekali tidak meyukai anak kecil.


“Mbak.” Panggil Dina. “Mbak.” ulangnya lagi lebih keras.


“Eh. iya.” jawab Ara.


“Mbak maafin ayah ya. Kalau mbak gak mau nanti ayah bisa ngomong sama Om Fadil. Semoga Om Fadil bisa ngerti.” ucap Budi lesu.


“Nanti aku pikir dulu yah.”


Budi dan Nisa terkejut sekaligus senang dengan jawaban Ara. Ada kemungkinan anaknya mau menerima perjodohan ini.


“Mbak kamu sudah tau kan kriteria suami yang bisa bawa kamu ke surganya Allah.” tanya Nisa.


Ara hanya mengangguk dan diam mendengarnya.


“Ibu tau kok anaknya om Fadil itu masuk kriteria suami yang baik. Ibu sama ayah sudah pastiin bobot bibit bebetnya udah bagus.” lanjut Nisa.


“Ibu tau darimana ?” tanya Ara.


“Ibu nanyalah sama orang tuanya. kan sahabatnya ayah. Kami juga sebaai orang tua ingin yang terbaik buat anaknya. Apalagi dijaman udah kayak gini mbak. Kalo kita gak cari suami yang bener-bener itu bisa bahaya buat kamu.”


Ara hanya diam dan membenarkan kata kata ibunya itu. Memang benar Ara melihat berita di TV yang memberitakan bahwa ada saja suami-suami kejam dan jahat yang bahkan sampai tega membunuh istri dan anaknya.


“Calon kamu nanti itu mbak kalau jadi tapi ya. Dia itu juga santri, malah sekarang jadi ustadz. Kamu tahulah kalau ustadz itu pasti ilmu agamanya udah tinggi. tentunya bisa membimbing kamu menuju jalan keridhoan Allah.” tambah Budi.


Lagi-lagi Ara hanya diam.


Mereka saling diam tenggelam dalam pikiran masing-masing. Kehawatiran masih terlihat di guratan wajah Budi dan Nisa. Takut dan was-was putrinya akan menolak perjodohan itu menyambangi pikiran mereka.


“ Hufhh.” Ara mengghembus nafas kasar menambah tegang orang tuanya.


Ara sudah memikirkan semuanya matang-matang. Dia juga sudah memikirkan resiko yang akan ditanggungnya jika dia menolak dan menerima perjodohan itu.


“Ayah ibu.” Ara menatap kedua orang tuanya, dan mendapatkan ada binar harapan besar di tatapan orang tua yang kini di depannya.


“Ara….”

__ADS_1


Gantung ya….


baca selanjutnya ya. Jangan lupa tinggalin jejak, likeand komen.


__ADS_2