Pak Ustadz I Love You

Pak Ustadz I Love You
Perkelahian


__ADS_3

"Mas Rafan kemana ya ?. Lama banget." Ara celingukan mencari Rafan di sebrang toko. Namun, iya tak mendapatkan keberadaan Rafan disana.


Ara memutuskan keluar untuk mencari Rafan. Ia menuju sebrang jalan bertanya kepada penunggu toko apakah melihat Rafan atau tidak. Sayangnya penjaga toko juga tak melihat, ia bilang tadi mereka disana tapi kemudian pergi.


Ara pergi menyusuri sekitar sana, dan mendengar suara orang tertawa terbahak-bahak di samping toko.


Ara mendekat dan mencoba melihat mungkin Rafan diantara lima orang yang dilihat Ara.


"Lihatlah si culun ini, bagaimana dia bisa berubah seperti ini." laki-laki itu mendorong bahu seseorang di depannya.


Ara tak bisa melihat jelas karena tertutup badan orang lain.


"Hey kenapa lihat-lihat seperti itu, kau melawan ya!!" bentak yang lain.


Bughhh.


Bughhh.


Pukulan keras itu mendarat di perut yang dipanggil culun.


Ara bergidik ngeri pasti sakit sekali, suaranya sampai sekuat itu. Dia tak mau ikut urusan orang lain, kemudian mau melangkah pergi meninggalkan sekelompok orang itu.


"Rafan Ghifari Abdullah !!!" Seru salah satu diantara rombongan itu yang memanggil "si culun" .


Deg


Langkah Ara berhenti.


Mas Rafan. Apa jangan jangan itu tadi mas Rafan.


Ara berbalik, langsung menuju sekelompok orang yang sedang memukuli sese yang diyakininya sebagai suaminya.


"Stoppp!! hentikan !!" seru Ara. Teriakan nya menghentikan kegiatan pemukulan disana.


Ara lantas menerobos kerumunan dan kaget ternyata benar suaminya yang dipukuli.


"MAS RAFANNN!" meraih tubuh Rafan memeluknya.


Rafan mendongak kaget melihat Ara disana. "Ara !"


"Mas ngapain disini, kenapa mereka mukulin mas ?" Ara memegang wajah Rafan yang sedikit babak belur. Ujung bibirnya berdarah.


"Hei, kau siapa haa ?!, beraninya mengganggu kami." bentak salah satu orang.


"Dia mengenal Si culun bos." jawab satunya.


Ara tak menggubris, ia mengusap wajah Rafan yang terluka.


"Wahhh, bagus sekali. Sekalian saja kita sikat istrinya." sahut yang di panggil bos.


"Aku mohon, jangan sakiti istriku." Rafan memohon sambil menyentuh sepatu bos itu.


"Mass ada apa sebenarnya." Ara bertanya cemas.


"Wahhh. Sikat kuy, dia istrinya culun."


"Akhh." Sakitt. Lepaskan." Ara menjerit jilbabnya di tarik ke belakang oleh salah satu pria.


"Araa !!!" panggil Rafan. "Aku mohon kalian nolwh sakiti aku, tapi tolong lepaskan istriku. Bagas kumohon lepaskan istriku." Rafan memohon lagi dengan bos yang bernama Bagas.


Bughh.


"Mas Rafan!!." seru Ara.


Rafan terjungkal terkena pukulan Bagas.


"Hahaha, lihatlah si culun. Masih Lemah sekali seperti dulu ternyata. Heh bangsatt, kau lemah begini kenapa sudah beristri hahh?!!. Bagaimana bisa kau melindungi istrimu jika kau lemah haha."


Bughh.


Tendangan keras mendarat di perut Rafan.


"Akhh."


"Hahaha" Mereka tertawa melihat kondisi Rafan seperti itu.

__ADS_1


"Mas Rafan!!" Ara memberontak agar lepas dari pegangan laki-laki di belakangnya.


Bagas mendekatinya, mencoba mencengkeram kuat rahang Ara.


"Kau cantik kenapa kau mau menikah dengannya hahh ?!!. Kau hanya akan mati konyol dengan culun itu."


"Persetan dengan mu brengsek." Jawab Ara dengan berapi-api.


Rafan yang masih setengah sadar terkejut mendengar Ara berkata kasar.


"Dasar jalang !! "


Plakk.


Tamparan keras di pipi Ara, ia meringis kesakitan.


"Ara !" Rafan ingin menggapai Ara, tapi dia di tendang lagi dengan laki-laki di depannya.


"Besar juga ya nyali mu hah !!" menjambak sanggul di jilbab Ara.


"Dasar brengsek kau Bagas !" seru Ara.


Bughh.


Tendangan keras mendarat di perut Bagas, sampai pria itu terjatuh. Dengan cepat Ara memutar tangan laki-laki di belakangnya dan membanting keras lawannya.


Bugh


Bugh


Bugh


Pukulan dan tendangan keras dengan cepat melumpuhkan lawan Ara yang mencekalnya.


Rafan masih bisa melihat gerakan Ara yang begitu hebat,


Ara!! Bagaimana bisa Dia ?


"Brengsek, kalian jangan diam saja habisi dia." titah Bagas melihat Ara tengah memukuli pasukannya.


Bugh


Bugh


Bugh.


Baku hantam pun terjadi, dengan cepatnya Ara menghindari pukulan, menahannya dan memberi serangan balik. Tak butuh waktu lama dua orang berbadan besar itu tumbang. Terlihat diantara mereka ada yang Ara patahkan tulangnya.


Karena terdengar seperti suara tulang yang patah saat Ara memberikan serangan.


"Bangsat kau!!, beraninya menghabisi mereka." bentak Bagas yang hendak menyerang Ara.


"Kemari bajingan, Beraninya kau keroyokan Hah!! Cih menjijikkan." Ara meludah merasa jijik.


"Bangsatt!!." Bagas menyerang bertubi tubi. Ara sedikit kewalahan. Namun, Ara tetap berusaha menghindari pukulan Bagas.


Bughhh


Bughh


Bughh


"Akh !!" Lenguhan panjang Bagas terdengar. Tubuhnya jatuh ke belakang, setelah Ara memberikan tendangan keras di wajah Bagas. Tak lama kemudian Bagas pingsan, atau mungkin mati.


Ah, entahlah Ara tak peduli.


"Rasakan bajingan, berani sekali kau mengganggu suamiku. Itu balasan untukmu." Ara masih menendang perut Bagas yang sudah terkapar tak berdaya. Ketiga orang lainnya bernasib sama seperti Bagas.


"Ara " panggil Rafan lemah.


"Mas Rafan." Ara membangunkan Rafan yang terkapar. "Mas tahan ya mas kita ke rumah sakit." Ara mengangkat Rafan dan memapahnya meninggalkan tempat itu.


"Araa." Rafan memanggil lagi dengan nada lemas.


"Tahan mas, kita ke rumah sakit."

__ADS_1


Ara menghentikan Taxi. "Pak tolong pak cepat ke rumah sakit terdekat." pinta Ara cemas.


"Baik non." Mobil Taxi melesat dengan cepat.


"Mas tahan ya," Ara tampak panik melihat wajah Rafan sudah sangat pucat dan banyak lebam. Tubuh Rafan lemas bersandar ditubuh Ara yang mendekapnya.


Tak lama mereka sampai di rumah sakit. Rafan langsung mendapatkan pertolongan.


******


"Dok gimana keadaan suami saya ?" tanya Ara pada dokter yang menangani Rafan.


"Alhamdulillah suami anda tidak mengalami luka serius. Tapi ada beberapa luka lebam di bagian wajah dan perut, dan sudah kami obati


"


"Alhamdulillah, terimakasih dokter. Saya boleh masuk kedalam dok. "


"Oh boleh silahkan. Suami anda akan sadar beberapa saat lagi."


"Baik dok terimakasih atas bantuannya."


" sama-sama, itu sudah menjadi kewajiban iami. Saya permisi."


"Silahkan dok."


Dokter itu pergi, lalu Ara bergegas masuk melihat Rafan.


"Ya Allah mas, kenapa bisa gini si? sebenarnya mereka siapa ? kenapa mereka memukuli mas." Ara menangis sambil menggenggam tangan Rafan. Ia sedih melihat suaminya terbaring lemas.


Setelah beberapa saat kemudian, Rafan menggerakkan kepalanya. Melihat Ara tengah tersenyum padanya.


"Ra."


"Alhamdulillah mas akhirnya bangun." mencium tangan Rafan si genggaman nya.


"Aku dimana Ra ?" memegang kepalanya yang mungkin terasa berat.


"Mas ada di rumah sakit. Aku juga udah hubungin Mama, Mungkin lagi di perjalanan."


Rafan menggeleng pelan mengusir sakit dikepalanya, berusaha mengingat yang telah terjadi.


"Udah mas jangan gitu, nanti nambah sakit kepalanya."


"Makasih ya Ra" Rafan tersenyum kecil sambil membalas genggaman Ara.n"Terimakasih udah nolongin aku."


"Iya sama-sama, gak usah dipikirin dulu ya. Nanti malah sakit kepalanya." tangan Ara terulur mengelus rambut Rafan.


Rafan tersenyum malu mendapat perhatian serius dari Ara.


"Kamu tadi hebat banget." celetuk Rafan.


"Ah biasa aja itu mah." Ara tersipu di puji Rafan.


"Mana tangan kamu." Rafan meraih tangan Ara dan dilihatnya . "Ini gak sakit. Kan tadi hanis mukulin orang." mengelus kedua tangan Ara dengan lembut.


Ara menggeleng.


"Maafin mas ya sayang, gak bisa jagain kamu tadi." mengecup tangan Ara.


"Udah gakpapa mas." tersenyum tulus. "Mas makan dulu ya, ini tadi Ara beli di depan rumah sakit. Bubur Ayam. mas makan ya."


Rafan mengangguk, lalu menerima suapan dari Ara. Sampai beberapa waktu Laras datang, dengan paniknya Laras menangis memeluk anak semata wayangnya.


Setelah dijelaskan Ara Laras paham lalu berganti memeluk Ara.


"Makasih ya Ra, udah jagain Rafan. Mama beruntung banget punya mantu kamu." Laras memeluk erat sambil menangis.


"Iya ma, udah mama jangan nangis. Mas Rafan baik-baik aja kok." Ara mengusap punggung Laras menenangkan.


Sore hari tiba. Rafan diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Karena Rafan tak mengalami cedera serius. Merekapun pulang bersama dengan Laras.


Hai up lagi nih.


Jangan lupa untuk like, komen and favorit ya.

__ADS_1


🤗🤗


__ADS_2