
Terbaring Seorang pria dengan banyak luka di sekujur tubuhnya, Hanum menatap Adam penuh penyesalan , terlihat di bagian kepalanya di perban karena harus medapatkan jahitan sebanyak 15 jahitan, lalu tangan kirinya terpasang deker bahu atau penyangga bahu karena cedera tertindih lampu hias yang lumayan besar.
Di bagian dadanya ada luka yang terkena pecahan kristal, yang sudah di perban
Melihat luka-luka di tubuh suaminya , Ia merasa sesak hingga butiran bening terjatuh tanpa bisa di cegah.
Hanum lalu Duduk di samping suaminya ia pandangi wajah tampan yang sedang tertidur itu.
Ia merasa sedih melihat suaminya terbaring lemah akibat ulahnya. Hanum merasa menyesal karena sudah membuat Adam celaka.
VOP Hanum
Kenapa dengan diriku, seharusnya aku bahagia melihat Mas Adam terluka seperti ini, tapi yang aku rasakan berbeda hati ini rasanya sakit sangat sakit luka di tubuhnya terasa sakit kurasa dalam diri ini.
Ya Tuhan Aku harus bagaimana? Haruskah aku akhiri saja karena sejujurnya hati dan pikiranku tidak seirama.
Apa akau memang sudah mencintainya, karena setiap melihatnya sakit Air mataku mengalir begitu saja merasakan rasa sakit yang dirasanya.
Vop End
Hanum menarik nafas dan menghembuskannya , menenangkan hatinya agar tetap tenang, Mungkin untuk saat Ini , ia akan lebih fokus merawat Adam dulu. Ia tidak ingin memikirkan balas dendamnya, karena hatinya benar benar tidak bisa di bohongi.
Ia tidak bisa melihat Adam terluka.
" eh....!" Terdengar suara lenguhan Adam .
" Mas , Kau sudah bangun!" Hanum membelai wajah suaminya yang ada beberapa luka di bagian dahi dan pipi sebelah kanan.
" Hem!" Adam menjawab singkat karena masih lemah, Ia lalu membuka matanya dan memandangi istri tercintanya yang saat ini berada di sampingnya.
" Aku haus!" Adam meminta minum, Hanum dengan sigap mengambil gelas yang ada di atas nakas tak lupa ia mengambil sedotan agar mempermudah suaminya untuk minum.
" Mas maaf kan aku gara-ga..!" Belum sempat hanum meyelesaikan kalimatnya Adam menutup mulut hanum dengan tangannya.
" Ssttt... dari tadi kau selalu meminta maaf , apa kau yang membuat lampu itu terjatuh!" Ucap Adam lirih
Deg......
" ehm itu! Aku!" Hanum bingung menjawab, ia sempat berpikir jika Adam mencurigainya.
" Ha...ha...ha. ... Sejak kapan kau menjadi tukang lampu hias! " Adam mentertawakan Hanum yang tampak bingung dan cemas.
" Maksudnya?" Hanum nampak bingung dengan candaan suaminya, tapi dia sedikit lega karena Adam tidak mencurigainya.
" Dengar sayang, ini adalah kecelakaan , jika kau dalam bahaya sudah pasti aku akan menyelamatkan orang yang berarti dalam hidupku!" Adam menatap manik coklat hanum dan merapihkan rambut yang sedikit berantakan dan menyelipkan di telinga istrinya dengan lembut.
Mendengar itu Hanum tersenyum karena bisa di cintai suaminya dengan tulus, Namun senyumannya terhenti ketika dia menyadari jika dirinya adalah orang jahat karena tega mencelakai orang yang mencintainya.
__ADS_1
Adam yang melihat perubahan mimik wajah hanum, menyuruhnya untuk berbaring di ranjang pasien, mereka menempati ruangan VVIP sehingga ranjang pasien lumayan besar cukup untuk dua orang.
Hanum menganggukan kepalanya Ia naik keranjang dan ikut berbaring di sebelah kanan suaminya.
Adam menciumi kepala istrinya, menyalurkan rasa sayangnya, ia merasa bangga karena ia bisa melindungi anak dan istrinya meski dirinya harus terluka asalkan keluarganya baik-baik saja.
Adam menatapa kedua netra istrinya , ia lalu menempelkan bibirnya di bibit ranum sang istri, menyesapnya dengan lembut, lalu melepasnya kembali larena takut tidak bisa menahan hasratnya dengan keadaaan tubuhhya yang sedang sakit.
Adam mengelap saliva yang membasahi bibir istrinya dengan ibu jarinya.
" Kau selalu menggoda sayang! Tapi tidak hari ini, karena aku sedang sakit. Maaf!" Ucap Adam pelan berbisik di telinga istrinya.
" Mas apa sih! Lagian masa iya aku mau melakukan!" Hanum menutup mulutnya kenapa dia harus berbicara mengarah ke arah perkasuran.
" Kenapa? Lanjutkan apa yang ingin kau sampaikan?" Hanum merasa malu ia lalu berdiri tidak menjawab pertanyaan suaminya itu.
" Hei jawab!" Adam menjahili hanum yang malu- malu sehingga membuat pipinya merona.
Tok....tok..tok terdengar pintu di ketuk
Terlihat Bima , papah Ibrahim, mamah Lidia dan Bella diikuti dengan dua gadis kecil wijaksono masuk keruangan Adam.
" Adam bagaimana sekarang masih sakit?" Mamah Lidia memeluk putra bungsunya itu.
" I'm fine mom, don't worry too much!" Adam mengusap lengan ibunya.
" Tidak sakit! Daddy kan hebat!" Adam meyakinkan kedua gadis kecil di sampingnya, semua orang yang ada di sana tersenyum melihat kedekatan adam bersama Zea dan Rumina kecuali Bella yang selalu memasang muka judesnya.
" Syukurlah kau baik-baik saja!" Ucap Bima sambil menurunkan zea dan rumina.
" Sebaiknya kita pulang daddy adam harus istirahat, Ze ikut dengan papah Bima ya!" Bima membujuk Zea agar mau ikut bersamanya Ia ingin mengakrabkan dirinya dengan Zea.
" ehm... !" Zea sempat ragu, lalu ia melihat ke arah daddy Adam yang mengangukan kepalanya, tanda daddynya mengizinkannya.
" Baik, Ze ikut papah!"
" Horee Ze kita tidur bersama-sama!" Rumina begiti senang Zea mau ikut pulang bersamanya.
" istirahatlah Adam , kau harus segera membaik. Apa ardi sudah mencari tau apa yang meyebabkan lampu hias itu jatuh?" Papah Ibrahim mengingatkan adam
Deg
Hanum terkejut mendengar ucapan papah Ibrahim, ada ketakutan dalam dirinya, bagaimana jika mereka tahu jika dialah otak di belakang kecelakaan Adam.
" Sudah pah!" Jawab Adam singkat.
**
__ADS_1
Malam semakin larut, semua orang sudah pulang kecuali Hanum yang masih berada di rumah sakit , karena Ia harus menemani suaminya yang mendadak menjadi manja.
" Mas tidurlah ini sudah malam!" Hanum memperbaiki selimut Adam tapi adam menurunkan selimutnya Ia merasa gerah padahal ruangan iti ber AC , badannya terasa lengket membuatnya sulit untuk tidur.
" Aku ingin mandi, badanku lengket semua!" Mendengar keinginan suaminya itu hanum menggelengkan kepalanya.
" Aku lap saja ya! karena luka jahitan di punggung dan kepala mas jangan dulu terkena air.
Adam menganggukan kepalanya, dengan cepat Hanum membawa sebuah wadah stainles berisi air hangat dan handuk kecil untuk mengelap tubuh suaminya, karena Adam tidak akan bisa tidur sebelum membersihkan dirinya.
Dengan telaten Hanum membersihkan seluruh tubuh suaminya, saat sampai di bagian perut hanum terdiam, Ia merasa malu jika harus membasuh bagian kebanggaan sang suami, meski ia pernah melihatnya tetap saja merasa malu sendiri.
" kenapa berhenti. Lanjutkan sekarang Nona Hanum perawat ++ !"
Mendengar candaan suaminya Hanum merasa kesal pada suaminya yang sejak dari tadi menjahilinya.
" hah....perawat ++ ada ada saja ! Mas lebih baik bagian bawahnya kita ke kamar mandi saja yah!"
Dengan ragu hanum mengatakan hal itu, membuat Suaminya terkekeh melihat istrinya yang merasa malu.
" Kau kan sudah melihatnya kenapa juga harus malu!" Adam masih menggoda istrinya, karena kenyataannya adapun juga tidak ingin hanum membersihkan miliknya, bisa-bisa Adam akan tergoda untuk bermain dengan istrinya.
" aku hanya bercanda, bantu aku ke toilet aku juga ingin buang air kecil!"
Hanum tersenyum lega , ia lalu memapah Adam menuju toilet, setelah selesai dengan hajatnya Adam kembali lagi dan membaringkan tubuhnya di ranjang bersama istrinya.
Hanum membelai rambut adam hingga Adam terlelap tidur, Hanum yang sudah lelah berdiri di pelaminan mulai mengantuk dan menyusul sang suami ke alam mimpi.
Di lain tempat di sebuah kamar ber cat ungu di penuhi dengan boneka, dua anak perempuan tidur di ranjang yang sama di temani papah Ibrahim yang sedang membacakan cerita. Rumina sudah tertidur terdengar dari napasnya yang teratur, sedangkan Zea masih belum mengantuk ia tidak bisa tidur karena memikirkan daddy Adam.
" Ze kau belum tidur sayang !" Bima bertanya sambil melepas tangan yang di tindih Rumi, Ia juga memperbaiki posisi tidu Rumina.
" Ze belum ngantuk keingat daddy!"
Deg....
Hati Bima begitu sakit ketika Zea berada di sampingnya tapi yang di ingat putrinya adalah Adiknya. Tidak aneh jika Zea seperti itu karena Yang dia tahu Adam lah Ayah kandungnya, Bima tau diri karena kesalahannya yang tidak mengakui Zea sebagai putrinya, membuat Zea memanggilnya dengan paman.
" Agar kamu tertidur apa yang harus papah lakukan hem!" Bima berkata dengan lembut.
" paman tolong usap usap kepalaku , daddy suka melakukannya!" Jawab dea sambil mengarahkan tangan Bima di kepalanya.
Bima tersenyum , dengan senang hati Ia akan melakukan keinginan putrinya Itu sendiri, setelah cukup lama diusap-usap Zea mulai bernapas tenang dan tertidur lelap. Bima mencium kening Zea dan berbisik pela " Maafkan papah Ze!Papah Janji akan selalu membahagiakanmu mesti kau hanya menganggap papah paman!" Bima membawa Zea dalam pelukannya menumpahkan rasa rindu pada putrinya itu.
Bella yang ada di belakang pintu merasa kesal karena Bima tidur di kamar Zea bersama putri Nisa
...****************...
__ADS_1