
Suara bariton pria mengalihkan perhatian Yasmin, ia menatap pria yang tadi bertemu di toilet, yang membuat Yasmin kaget adalah ketika pria itu mengatakan Jika dirinya ayah dari dua anak perempuan yang tengah di suapinya.
Apa dia Pa Bima kakak nya Pa Adam jika iyah berarti dia ayahnya Zea dan Rumi. Isss pantas saja wajahnya mirip pa Adam.
Yasmin berkata dalam hatinya sambil memegang sendok yang hendak di suapkan ke dalam mulut Rumina, namun karena tatapannya pada Bima tidak bisa berpaling sendok berisi sup itu Bima masukan ke dalam mulutnya, melihat apa yang di lakukan Bima Yasmin menjadi malu sendiri ia tarik sendoknya dari mulut Bima.
" Papah mengapa papah yang makan." Rumina dan Zea kesal pada papah Ibrahim.
" Maaf papah tidak sengaja." Bima mengangkat tangannya tanda berdamai dan meminta maaf.
" Tidak perlu marah ini tante ambilkan lagi." Jawab Yasmin menengahi ayah dan anak itu.
" Oh iya namamu Yasminkan." Bima memulai percakapan.
" Iya pak. Apa Bapak?" belum selesai Yasmin berkata Bima memotongnya.
" Iya saya kakak Adam ." Jawab Bima
" OH.." Yasmin nampak bingung harus menjawab apa karena Bima yang selalu menatapnya membuat Yasmin jadi salah tingkah, ia lalu berpindah duduk ke dekat Zea dan melanjutkan untuk menyuapi Zea.
Di meja Lydia, ia duduk dengan Widia adi iparnya ibu dari Ardi dan Arka.
" Kedua menantumu sedang mengandung , kau akan mendapatkan 2 cucu sekaligus." Ucap Lydia sambil tersenyum menatap meja dimana Hanum , ana dan Alya berada.
" Iya , Mba." Widia menjawab singkat, membuat Lydia mengangkat alisnya.
" Kau masih belum menerima menantumu, dengarkan aku Widia mereka wanita yang baik dan kamu jangan menilai seseorang dari harta atau kedudukannya tapi lihatlah hatinya yang baik, perhatikanlah anak-anakmu sangat bahagia menjalani kehidupan rumah tangganya." Mamah Lydia meyakinkan Widia.
Widia menarik napas dan mengeluarkannya , Ia menyadari memang benar apa yang dikatakan Lydia jika anak-anaknya bahagia dengan kehidupan rumah tangganya sekarang, ketika Arka dengan mantan istrinya yang di jodohkan oleh widia dulu sebelum menikah dengan Ana hampir setiap hari mereka beradu mulut tidak pernah akur.
" Iya Mba benar, Aku terlalu keras pada mereka, tapi lihatlah mereka begitu bahagia menikahi wanita yang diintainya."
__ADS_1
Mamah Lydia hanya menjawab dengan anggukan kepalanya sambil menoleh ke arah Bima yang sedang mengobrol dengan Yasmin, Ia melihat Bima bisa kembali tertawa setelah sekian lama selalu bersedih.
Apa Yasmin sudah punya kekasih, mereka tampak serasi.
Ucap Batin mamah Lydia yang berharap Bima dan Yasmin dapat berjodoh.
Acara pesta telah selesai, semua tamu sudah pulang begitupun dengan Adam yang sudah berada di mobilnya membawa pulang anak dan istrinya.
" Loh Mas mau kemana, mansion Papahkan belok kanan." Hanum merasa Aneh karena suaminya membelokan mobilnya ke arah Kiri.
Mobil berhenti tepat di mansion yang sama luas dan sama mewahnya dengan mansion papah Ibrahim. Hanum dan Zea heran melihat Adam memarkirkan mobilnya di halaman tersebut, terlihat seseorang menghampiri Adam dan menunduk hormat.
" Mas Kita di mana ? Mansion siapa ini? " Hanum semakin penasaran.
" Iya Daddy mansion siapa ini?" Zea menambahkan.
" Ini Mansion Kita, dan Kita akan tinggal di sini bersama." Adam menatap Hanum sambil tersenyum.
" Ini rumah baru kita Dad,, yey Asyikkkk." Zea berlari masuk kedalam ingin mencari kamarnya.
" Tapi mas ini terlalu besar." Hanum melangkah masuk ke mansion ia melihat sekeliling ruangan yang luas dan mewah.
" Tentu saja kita perli tempat yang luas sayang, untuk anak anak kita, kita akan membuat anak yang banyak bukan." Adam tersenyum genit sambil mengelus perut hanum.
" Apaan sih mas, Ini aja belum lahir sudah siap mencetak lagi." Hanum mencubit pinggang suaminya.
" Aww sakit sayang." mereka tertawa bersama , Tawa yang memancarkan kebahagiaan setelah lama terpisah akhirnya mereka bisa bersama dan mwnghilangkan kesalah fahaman.
" Ayo aku tunjukan kamar kita." Adam menggenggam tangan istrinya Ia menaiki tangga untuk naik kelantai atas lebih tepatnya ke kamar utama kamar hanum dan Adam.
Adam membawa istrinya yang sedang hamil besar menaiki tangga dengan hati-hati.
__ADS_1
Sampailah mereka di kamar utama , Ruangan yang Luas dengan desain Interior yang indah , Furnitur yang sudah lengkap dan terlihat mewah, Hanum berjalan lalu duduk di ranjang king size dengan kasur yang empuk dan nyaman.
" Kau menyukainya Sayang." Adam duduk di sebelah Hanum sambil merangkul istrinya.
" sangat sangat suka Mas, Terima kasih Aku sangat mencintaimu." Hanum menyenderkan kepalanya pada dada Adam sambil menghirup wangi tubuh maskulin adam yang menjadi candu bagi Hanum.
Adam melepas pelukannya Ia lalu angkat wajah istrinya Ia pandangi sang istri dengan penuh cinta.
" Aku mencintaimu juga, terima kasih sudah hadir dalam hidupku, menjadi pendamping hidupku." adam ******* bibir ranum Hanum yang selalu menggodanya. Ciuman yang semakin menuntut dengan saling bertukar saliva hingga mereka kehabisan nafas dan melepas pagutannya lalu menempelkan kening merka dengan nafas yang sudah memburu menahan sesuatu yang menginginkan lebih.
" Sayang Dokter mengajurkan bukan agar membuka jalan lahir, Bolehkah Mas mengunjunginya lagi." Adam berbisik di telinga membuat Hanum meremang. Mendengar keinginan sang suami Hanum menganggukan kepalanya.
Tanpa menunda lagi Adam langsung merebahkan istrinya di kasur, Ia mulai dengan mencium kening , lalu bibir dan turun pada jenjang leher sang istri.
Pergulatanpun terjadi, suara-suara syahdu mulai mengisi ruangan sepasang suami istri tengah mendaki bersama, hentakan hentakan sang suami membuat istrinya melayang dalam kenikmatan seolah terbang menembus langit dan menghasilkan bintang-bintang yang begitu Indah.
Kebahagiaan itu tidak bisa di beli dengan Uang, kebahagiaan akan hadir pada setiap insan yang bisa bersyukur dan meng4hargai satu sama lain.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih sudah setia dan memberikan likenya...
Seperti Biasa mohon jangan lupa tinggalkan jejak yah
Like
Vote
Comen
Agar Author bisa lebih semangat😊
__ADS_1