Panggil Aku Daddy

Panggil Aku Daddy
Kekecewaan Zea


__ADS_3

Adam membawa Hanum ke rumah sakit tempat zea di rawat, ia membawa istrinya dengan terburu-buru karena sejak dari tadi di pesawat Hanum pingsan karena mengalami pendarahan, Adam di bantu dokter dan beberapa perawat mendorong ranjang rumah sakit menuju ruangan tindakan.


" Maaf Bapak tidak boleh masuk sebaiknya tunggu di luar saja." Ucap perawat menahan Adam agar tidak masuk.


" Tapi...!." dengan terpaksa Adam menunggu di luar bersama Ardi dan Jack yang setia menemani sedangkan Bagas dan Barra masih di pulau menyelesaikan berbagai hal dengan kapten Ahmad , luka Barra tidak begituh parah ia tertembak di lenganya dokter yang datang ke pulau langsung merawatnya.


Adam sangat khawatir pada istrinya, sesekali ia mengacak rambutnya merasa frustasi ia sangat takut , takut terjadi sesuatu pada istri dan anaknya.


" Dam ... tenanglah dokter sedang menangani Hanum!" Jack meminta sahabatnya agar tenang.


" Bagaimana aku bisa tenang istriku ada di dalam dan aku tida tahu kondisinya sekarang."


Adam berjalan mondar mandir di depan pintu ruangan.


Ceklek....


Pintu terbuka terlihat dokter wanita mengenakan jas putih keluar dari ruangan Hanum.


" Dokter bagaimana keadaan istri dan anak saya?" Adam cemas ia menunggu jawaban dari dokter.


" Bapak tidak perlu khawatir ibu dan bayinya dalam keadaan baik-baik saja, meskipun tadi terjadi sedikit pendarahan tapi sudah di atasi, untuk sementara waktu istri bapak harus bed rest dan jangan sampai mengalami stres. Saya permis pak" Dokter pergi meninggalkan Adam.


Mendengar penjelasan dokter, Adam bersyukur karena istri dan anaknya baik-baik saja.


" Adam... Ardi ...Jack..!" Mamah Lydia dan Papah Ibrahim menghampiri mereka yang akan masuk ruangan.


" kalian tidak apa-apa?" Mamah lydia memeluk putranya.


" Kami baik-baik saja mah!" Adam meyakinkan lydia diikuti anggukan Jack dan Ardi.


Mereka bersama-sama masuk ruangan Hanum, terlihat istri Adam itu terbaring lemah di ranjang dengan wajah yang pucat tiga hari di sekap membuatnya harus terbaring lemah.


Adam meghampiri istrinya mencium keningnya yang masih belum sadarkan diri ia memegang tangan hanum dan menciuminya lalu mengelus perut buncit istrinya.


" Sayang cepat lah sembuh." Adam berkata pelan


" Dam kau juga harus mendapatkan perawatan." Ibrahim melihat ada luka di lengan dan perut putranya.


" Adam kau terluka , Jack Ardi kalian juga terluka dan harus di obati ...pah bawa mereka untuk di obati."


Lydia meminta suaminya untuk membawa Adam , Jack dan Ardi yang terlihat ada luka-luka pada wajah mereka.


" Tapi Mah !"


Adam tidak tega meninggalkan Hanum yang belum siuman.


" Mamah yang akan menjaganya pergilah obati luka kalian." Lydia meyakinkan Adam.


Akhirnya mereka keluar di temani Ibrahim. Jack dan Ardi berada di ruangan sebelah menadapatkan perawatan dari dokter.


Adam duduk di ranjang, seorang dokter sedang menjahit lukanya di bagian perut yang terkena pisau saat bertarung dengan Tiger, beruntung lukanya tidak begitu dalam.


Ketika dokter telah menyelesaikan tugasnya, tiba-tiba bahu Adam bergetar.

__ADS_1


Ia menangis bukan karena sakit dari lukanya, tapi menangisi dirinya sendiri yang sudah menembak Aldo.


Melihat putranya menangis Ibrahim mendekat ia memegang kedua bahu Adam.


" Adam kau melakukan itu karena tanggung jawab melindungi istri dan anakmu." Ibrahim menenangkan putranya, Ia megetahui Adam menembak Aldo dari Ardi.


" Aku ...membunuh sahabatku sendiri pah!" Adam memiliki sisi hati yang lembut di balik sikap dinginnya.


" Aldo meninggal karena ulahnya sendiri, kebencian, rasa iri dendam yang membunuhnya." Ibrahim memeluk putranya.


Di ruangan berbeda Hanum mulai membuka matanya, ia memegang kepalanya yang terasa pusing.


" Achhhh...... Mas!" Hanum mencari suaminya.


" Sayang kau sudah siuman Nak." Lydia tersenyum pada menantunya.


Melihat siapa yang ada di kamarnya hanum mebulatkan matanya ia lalu berusaha untuk bangun namun di cegah oleh Lydia.


" Jangan dulu bangun kau masih lemah." lydia menahan bahu Hanum.


" Tapi mah aku....!"


" Tidak ada tapi tapi istirahatlah, kau tidak sendiri ada bayi di perutmu yang harus di perhatikan." lydia merapihkan selimut menantunya.


" Mah maaf kan Hanum!" Hanum menarik lengan Lydia dan menciumnya air matanya membasahi pungung tangan mertuanya.


" Sayang sudahlah , mamah sudah memaafkanmu, lagi pula waktu itu kamu tidak tahu cerita sebenarnya." Ucap Lydia


" Justru mamah dan papah yang harus meminta maaf padamu , keluarga mamah sudah menyakiti kakamu." Lydia merasa bersalah


" Tidak mah , jangan meminta maaf pada anakmu! Hanum saja yang meminta maaf." Lydia mengelus punggung menantunya ia sangat bersyukur hanum menjadi menantunya.


" Mah dimana Zea bagaimana keadaannya?" Hanum melepas pelukannya ia teringat pada Zea.


" Zea baik-baik saja, tapi ada cedera di tangannya karena meloncat dari mobil." Mendengar itu hanum memegang dadanya ia merasa tenang dan bersyukur Zea baik-baik saja.


" Tapi mah, Apa Zea menayakan tentang siapa dirinya." Hanum cemas.


Lydia menganggukan kepalanya.


" Bagaimana responnya."


" Dia sangat kecewa dan marah pada Adam karena sudah di bohongi oleh Adam. Dari sejak kemarin Zea tidak pernah bertanya mengenai ayahnya, Ia hanya menayakan keadaan kamu saja." Lydia menjelaskan.


" Aku sudah menduga dia akan sangat kecewa." Hanum mengusap wajahnya.


" Mah aku ingin menemuinya!"


" Jangan sekarang kau masih harus banyak istirahat!" Lydia melarang.


" Hanum mohon mah, hanum tidak tenang jika belum melihatnya." Hanum memaksa mertuanya.


" Baiklah, tunggu dulu mamah ambilkan kursi roda." Lydia membawa kursi roda.

__ADS_1


Hanum duduk di kursi roda dan di dorong mamah Lydia menuju ruangan rawat Zea.


Di sana Ada yasmin yang menjaga Zea, terlihat Zea masih tertidur setelah meminum obat.


" kakak , kakak sudah baikan!" Yasmin menghampiri Hanum dan memeluknya.


" Iya , bagaimana keadaan mu dan Ibu."


" Baik ka, ibu juga baik hanya ada luka di bagian kakinya saja saat di seret para penjahat."


" Lalu Mateo?"


" Kata ibunya mateo sudah sadar, luka di kepalanya cukup besar tapi semua baik-baik saja. Kakak tidak perlu khawatir." Yasmin menenangkan


Yasmin dan mamah Lydia keluar ruangan Zea bersama, Yasmin akan pergi ke kamar Ibunya sedangkan Lydia pergi le ruangan Adam.


Setelah Yasmin dan mamah Lydia pergi, Hanum mendekat ke ranjang Zea ia ciumi pipi putrinya dan mengelus kepalanya dengan lembut, sentuhan kecil darinya membuat Zea terbangun.


" Hey Princess Mommy , apa masih sakit?" Hanum membelai wajah putrinya.


" Mommy, ini benar mommy ? Mommy selamat!" Zea mendekatkan dirinya pada dada ibunya.


" Zea takut mommy!" Zea menangis.


" Zea tidak perlu takut mommy baik baik saja sayang karena Daddy menyelamatkan Mommy." Mendengar kata ayahnya di sebut Zea melepas pelukannya.


" Mommy adik Bayi bagaimana?" Zea mengalihkan pembicaraannya.


" Adik bayi juga baik sayang." Hanum membawa tangan Zea menyentuh perutnya, senyum lebar menghiasi wajah putrinya.


" sayang apa Zea masih marah pada Daddy." Ucap Hanum sambil menatap putrinya.


Zea tidak menjawab hanya menganggukan kepalanya saja.


" Ze ... Daddy sangattt sayang padamu, itu sebabnya Dia tidak memberitahu kebenarannya, karena takut kau terluka Nak." Hanum menjelaskan pada Zea dengan pelan.


" Tapi Daddy sudah berbohong, Ia tidak pernah menceritakan Mommy Nisa atau memperlihatkan fhotonya, Seharusnya Daddy berkata jujur mengenai Zea bukan anaknya."


Zea menangis, air matanya berjatuhan membasahi pipi putihnya.


" Sssttt sayang maafkan Mommy, jangan bersedih yah!" Hanum tidak bisa meyakinkan Zea untuk mau memaafkan Ayahnya, ia melihat kekecewaan besar pada Zea, ini bukan waktu yang tepat untuk menasihati Zea.


Adam terdiam di balik pintu, Ia mendengarkan percakapan kedua orang wanita tersayangya.


Sebenci itu kau pada Daddy Ze, hingga enggan mendengar nama daddy.


Adam sangat sedih melihat putri yang ia sayangi menjadi membencinya.


Tok....tok...tok


Adam mengetuk pintu kamar Zea, Ia akan berusaha mendekati Zea agar Zea mau memaafkannya.


" Apa daddy boleh masuk!" Zea dan hanum sama -sama melihat ke arah pintu terlihat Adam berada di dekat pintu.

__ADS_1


Hanum melihat suaminya dengan senyum bahagia di wajahnya, Sedangkan Zea hanya diam saja, padahal dalam hatinya Ia sangat ingin memeluk Daddy Adam yang tersenyum padanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2