
Selepas kesepakatan Adam dan Bowo, Jack dan Bowo pergi untuk mengurus pembelian tanah tersebut.
Terdengar sayup- sayup seseorang memanggil Hanum dan Zea.
" Hanum."
" Zea."
Panggilan itu membuat semua orang melihat ke arah sumber suara.
Hanum begitu bahagia karena orang yang memanggilnya adalah sahabat karibnya.
" Alya...! Mas apa aku bermimpi mereka datang kemari." Hanum tidak percaya.
Bukan hanya Alya yang datang terlihat ada Ana , Arka, Ardi , dan Rumina, mereka berjalan bersamaan sambil melambaikan tangannya.
Zea yang melihat rumina langsung berlari. Hanum hendak berlari juga mengikuti Zea namun tangannya di tahan Adam.
" Jangan berlari." Adam mencegah istrinya ia tidak ingin istri dan anaknya terluka.
" Maaf mas, aku hanya bahagia mereka datang kemari." Hanum tersenyum melihatkan deretan giginya mendapatkan perlakuan suaminya.
" Hanum , aku merindukanmu! Oh lihat perutmu sudah tampak besar seperti kak Ana." Alya memeluk sahabatnya itu.
" Hanum bagaimana keadaanmu." Ana memeluk Hanum yang sama - sama berperut besar sehingga membuat mereka kesusahan untuk berpelukan membuat semua orang tertawa.
" Makannya simpan dulu perutnya baru berpelukan." Canda Arka.
Mendengar canda arka semua orang tertawa kembali.
" Kak Ana berapa usia kandunganmu sekarang." Hanum mengelus perut Ana.
" 7 bulan." Ana menjawab sambil mengelus perut hanum
" Usianya sama dengan kandunganku." Jawab Hanum
" Jangan - jangan kalian membuatnya berbarengan." Ucap Ardi
Memancing gelak tawa semua yang ada di sana.
" Aku gak di tanya." Alya mengelus lembut perut yang masih datar.
" Al kamu juga sedang hamil.... Achhhh selamat." Hanum ikut bahagia karena sahabatnya akan menjadi ibu juga.
" Yehh.... akan banyak bayi!" Zea dan Rumina bersorak riang.
Setelah saling berpelukan mereka memutuskan untuk pulang ke rumah.
Para wanita sedang sibuk menyiapkan makan malam sambil mengobrol.
Zoya dan Yasmin membakar ayam di depan, sedangkan Ana , alya dan Hanum mereka sedang memotong buah sambil bercerita saat Hanum pergi.
" Benarkah mas Adam melakukan itu."
" Iya dia selalu datang setiap bulan menayakan perkembangan bayi." Jawab Ana
" Saat Itu Adam benar-benar kacau, tapi mengetahui kamu sedang mengandung membuatnya bangkit kembali. Dia sangat mencintaimu." Alya menambahkan
Hanum terdiam ia melihat ke arah suaminya dengan tatapan sendu, Hanum benar benar sangat menyesal sudah membuat suamiya menderita.
" Kakak ini Sudah selesai." Obrolan mereka terhenti ketika Zoya dan Yasmin datang membawa ayam bakar.
" Wah ayam kalau di bakar para gadis sepertinya enak.... ha...ha!" Ucap alya sambil mencicipi diikuti hanum dan Ana yang tergiur juga.
Melihat hal itu yasmin dan zoya tersenyum memperhatikan para bumil.
" Wah sepertinya ayam bakarnya akan habis di cicipi para bumil."
Ucap Jack yang baru datang setelah mengurus pembelian tanah dengan Bowo.
Mendapatkan tatapan tajam dari para wanita Jack berlalu pergi ke tempat para calon ayah yang sedang mengobrol.
" Kau sudah kembali." Tanya Adam
" Iya, semuanya sudah dalam proses."
__ADS_1
Adam meminta jack agar surat tanah tersebut di balikan atas nama Bu Dewi.
" Arka kau membawakan apa yang aku minta." Ucap Jack
" Hem... ini!" Arka memberikan kotan cincin berwarna beludru.
Ketika mengetahui Arka akan datang Jack meminta untuk membawakan cincin di apartemennya.
" Kau akan melamarnya." Adam ragu.
" Tentu saja , doakan ya agar Zoya mau menerima lamaranku."
Jack percaya diri setelah mendapat dukungan adam dan Hanum yang meyakinkannya jika Zoya memiliki perasaan yang sama.
" Ayo makan malam sudah siap." Bu dewi memanggil semua orang
Makan malam yang sangat berkesan, mereka bisa berkumpul bersama meski menurut Adam masih terasa kurang karena papah Ibrahim dan Mamah Lydia serta kak Bima yang tidak ada.
Zoya terlihat kesal ketika melihat Yasmin yang menyiapakn makanan untuk Jack.
Hanum memperhatikan Zoya ia tersenyum melihat Zoya yang cemburu pada Yasmin.
" Apa yang kau pikirkan." Tanya Hanum pada Zoya yang sedang melamun di dapur.
" Kakak sejak kapan ada di sini." Zoya kaget.
" Sejak kamu melamun karena cemburu kan." Hanum menggoda Zoya.
" Cemburu...cemburu apa?" zoya mengelak.
Hanum memegang tangan Zoya. " Katakan apa yang kau rasakan pada Jack."
Zoya menggeleng ia merasa tidak pantas untuk Jack, dirinya perempuan yang kotor.
" Aku malu kak. Aku tidak pantas bersama Kak Jack."
" Zoya cinta akan menerima kekurangan dalam diri kita, jangan pernah berkecil hati lupakan masa lalu. Kau harus membuka lembaran baru bersama orang yang kau cintai."
Zoya terdiam dia mencerna setiap perkataan Hanum.
Di luar rumah Zea dan Rumina di temani Ardi dan Jack bermain kembang api. Mereka terlihat bahagia bisa berjumpa kembali.
Adam tidak merespon dia hanya Diam.
" Dia merindukan Rumi, apa kau tidak akan mempertemukan mereka." Arka berusaha meyakinkan Adam.
Mendengar itu Adam menarik napas dan menghembuskannya kasar.
" Aku tidak tau."
" Apa kau tau jika rumi sering menangis diam-diam sambil memandang photo kedua orangtuanya."
" Sudahlah jangan kau bahas dulu aku tidak ingin membicarakannya." Jawab Adam kesal.
Malam semakin larut ketika semua orang akan masuk ke rumah untuk istirahat, Jack memanggil mereka agar menyaksikan acara lamarannya pada zoya.
Semua orang kembali duduk di kursi mereka lalu menunggu dengan penasaran apa yang hendak di sampaikan oleh Jack.
Jack berjalan mendekati Zoya, Ia berdiri berhadapan dengan Zoya lalu mengeluarkan kotal cincin berwarna beludru dan terlihat cincin berlian yang begitu indah.
" Zoya... menikahlah denganku jadilah istri dan ibu untuk anak - anakku."
Zoya hanya terdiam ia tidak percaya jika Jack akan langsung melamarnya. Zoya sempat ragu ia lalu melihat ke arah Hanum, terlihat hanum menganggukan kepalanya.
Benar kata kak Hanum aku berhak mendapatkan kebahagiaan.
" Aku mau ka Jack." Zoya menjawab tanpa ragu membuat semua orang di sana ikut senang dan bertepuk tangan.
" I love u Zoya."
" I Love u Jack."
Jack memasangkan cincinnya di jari manis Zoya, akhirnya sekian lama memendam rasa ia bisa menyampaikan perasaannya.
Di sudut ruangan terlihat Yasmin, merasakan kekecewaan yang mulai menaruh hati pada Jack cintanya layu sebelum berkembang.
__ADS_1
" Apa aku bisa mendapatkan laki- laki tampan dan baik seperti mereka." Yasmin pergi dengan kekecewaan dan masuk ke kamarnya.
***
Malam semakin larut semua orang sudah masuk ke kamarnya masing-masing mereka tinggal di rumah bu Dewi yang cukup besar.
Sedangkan Hanum , Adam Zea dan rumina memutuskan tidur di rumah Hanum.
Zea dan Rumina tidur bersama , mereka tidur saling berpelukan melepas kerinduan yang sempat terpisah.
Hanum menarik selimut hingga dada mereka , dan memberikan ciuman di kening Zea dan Rumi , ia lalu keluar kamar mematikan lampu dan menutup pintu kamar Zea.
Ia lalu pergi ke dapur membawa segelas air untuk suaminya, saat kakinya akan melangkah ke kamar Ia melihat Adam masih berdiri di teras rumah sambil menatap bulan Purnama.
" Mas.... mengapa masih di luar, apa ada yang kau pikirkan." Hanum berdiri di sebelah kanan suaminya sambil mengelus lengan kekar Adam.
" Bella mencoba bunuh diri, Dan Ia ingin bertemu dengan Rumi. Tapi aku tidak ingin mereka bertemu." Adam terlihat kesal.
" Mas seperti apa Bella Ia tetap ibu kandung Rumi , dan kau tidak bisa memisahkan mereka! pertemukanlah mereka." Hanum meyakinkan suaminya.
" Aku masih tidak rela, gara-gara dia papah hampir meninggal, Dan Kak Bima koma karena ulahnya."
" Aku tau, ini sangat berat untukmu! Jangan lihat Bella tapi lihat Rumi, bukankan Ia sering menangis karena merindukan ibunya."
Adam terdiam Ia membenarkan semua perkataan istrinya. Hanum lalu menyenderkan kepalanya pada bahu suaminya ia mencoba menenangkan hati Adam agar bisa tenang dan berpikir jernih.
" Baiklah sayang aku akan mempertemukan mereka." Hanum tersenyum.
" Besok kita pulang."
" Besok, tapi mas aku tidak bisa pulang besok?"
Adam mengerutkan alisnya, bertanya-tanya mengapa istrinya tidak bisa pulang.
Hanum tidak bisa ikut pulang Karena harus mempersiapkan ujian akhir sekolah yang akan di selenggarakan seminggu lagi.
Adam tidak bisa tinggal lama di sini karena perusahaan tidak bisa di tinggal lama-lama. Tapi ia juga tidak bisa meninggalkan istrinya ia merasa cemas, apalagi dengan keadaan Hanum yang sedang mengandung.
Hanun menatapa wajah suamiya yang terihat bingung dan cemas.
" Sayang kau pulang duluan, aku selesaikan ujian anak-anak dulu hanya seminggu lagi, tidak baik meniggalkan perusahaan terlalu lama, meskipun ada Hardi dan Bagas."
" Tapi... Aku khawatir padamu."
" Aku baik-baik saja , lagi pula ada Bu Dewi dan Yasmin."
" Bukan itu, aku tidak bisa jauh -jauh darimu!" Hanum terkikik melihat tingkah suaminya yang menjadi manja.
" Tidak lama hanya satu minggu, aku tidak mau jika suami ku ini menjadi bangkrut karena kelamaan meninggalkan perusahaan."
Mendengar hal itu Adam mengeleng-gelengkan kepalanya ternyata istrinya itu matre juga. Mereka tertawa bersama.
" Sayang karena besok aku pergi jadi malam ini aku tengok anak kita yah." Adam mengelus perut Hanum dan menciumnya.
" Daddy sekarang tambah mesum."
Srett...
" Achhh..... Mas!! Hanum terkejut karena Adam menggendongnya membawa ke kamar.
Adam duduk di ranjang dengan Hanum yang masih dalam gendongannya, Ia mencium bibir Istrinya hingga merika saling berbalas.
Tangannya sudah berjelajah menikmati keindahan sang istri. Ia lalu membaringkan istrinya di atas ranjang.
Mereka memadu kasih bersama, meski bukan pengantin baru lagi tapi seolah seperti baru dan baru. Suara decitan ranjang di berangi suara-suara indah dua insan yang sedang mendaki membawa mereka kembali melayang hingga sampai pada tempat yang begitu indah yang hanya di rasakan mereka berdua.
...****************...
Jangan lupa tinggalkan jejak yah!
Like
Komen
Vote
__ADS_1
Agar author semakin semangat
Karena mendapatkan dukungan dari reader🙏🥰