Panggil Aku Daddy

Panggil Aku Daddy
Papah Ibrahim kritis


__ADS_3

Pria gagah itu berbaring lemah sudah 36 tahun menemaninya melewati biduk rumah tangga.


Lidia tampak terlihat sedih melihat suaminya terbaring lemah, air matanya berjatuhan tak tertahan lagi kala mendapatkan kabar dari dokter Budi jika papah Ibrahim mengalami kerusakan sistem saraf.


Saat di lakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap Ibrahim ditemukan adanya Zat Neurotoxin(neurotoxin), Zat ini adalah zat alami atau campuran yang bisa mengganggu dan merusak fungsi sistem saraf pusat dan atau sistem saraf tepi. Sebutan lain untuk zat ini adalah racun saraf.


Ceklek.....


Pintu terbuka, Bima Masuk ke ruangan menghampiri ibunya. Melihat putra pertamanya datang Lidia langsung memeluk putranya menyandarkan kepalanya pada dada kokoh sang putra.


" Dam papah hek....hek..hek!" Lidia menangis tersedu-sedu ia takut kehilangan suaminya.


" Mamah yang sabar, Kita akan usahakan papah akan segera sembuh." Bima menenangkan Ibunya.


Mereka lalu keluar ruangan untuk membicarakan mengenai Masalah putra kedua Lidia.


" Bagaimana dengan Adam!" Lidia menyeka air matanya.


" Masih dalam penyelidikan, Bima juga sedang mencari bukti kuat , agar Adam bisa segera bebas." Bima memegang tangan ibunya dan mengelusnya.


Lalu Leon datang membawa sample obat yang di minum oleh papah Ibrahim untuk melakukan pengujian di lab.


" Tuan muda anda sudah kembali!" Sapa Leon pada Bima


Bima menganggukan kepalanya Ia fokus melihat pada kotak kecil yang di bawa Leon.


" Om apa itu?" Tanya Bima penasaran


" Ini Obat yang di minum oleh Tuan besar saya mencurigai jika racunnya berasal dari obat ini." jelas Leon yang menaruh kecurigaan ketika melihat Ibrahim mengkonsumsi Obat tersebut.


" Tapi obat papah sudah habis , dari mana kau mendapatkan itu?" Sela Nyonya Lidia kepada Leon.


" Maaf Nyonya saya lancang masuk kamar pribadi anda, tadinya hanya ingin memeriksa tapi tidak sengaja saya menemukan kapsul ini di bawah ranjang sepertinya terjatuh." Jawab Leon.


Kapsul itu terjatuh ketika Bella memasukan kedalam botol lain. Mamah Lidia dan Bima menyetujui untuk menguji Obat itu, karena selama ini hanya itu obat yang dikonsumsi papah Ibrahim.


Leon berpamitan pergi membawa obat tersebut ke Lab untuk di periksa.


Di tempat lain Bryan sedang membaca email yang di kirimkan oleh Orang suruhannya untuk mencari tahu tentang masalah adam.


Bryan tersenyum Lega, ia lalu menghubungi seseorang dan pergi keluar apartemennya.


**

__ADS_1


Bima memasuki Rumahnya, Seorang ART membukan pintu untuk tuannya.


" Dimana Nyonya Bella?" Tanya Bima kepada ART.


" Nyonya belum pulang Tuan!" Jawab ART menundukan kepalanya dan pergi melanjutkan kembali pekerjaannya di dapur.


Rumah mewah itu terlihat sepi, Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar karena merasakan kehampaan dalam jiwanya, selama ini ia melewati rumah tangga bersama Bella sangat tidak harmonis.


Saat bima sedang dalam lamunannya Ia di kejutkan dengan tangan kecil yang menutup dua matanya dari belakang, Bima yang duduk di kursi pura-pura tidak tau.


" Siapa ini?" Tanya Bima berpura-pura membuat Rumina kesal karena papah Bima tidak mengenalinya.


" Papah jahat papah tidak mengenali rumi!" Rumina melepas tangannya wajahnya terlihat bersedih, terlihat di matanya ada air mata yang berembun.


" Loh loh ternyata anak papah yang paling cantik! Jangan bersedih sayang papah hanya bercanda , papah tau saat rumi datang kemari papah bisa merasakannya." Bima membawa Rumina dalam pangkuannya ia menciumi pipi putrinya dan membereskan rambut rumina yang sedikit berantakan.


" Papah lama sekali Rumi kangen!"


" Papah juga kangen rumi!" Bima megelitik putrinya hingga Rumi tertawa , tawa rumina meleburkan kesunyian d rumah mewah Bima.d


" Sayang kau sudah pulang!" Bella tiba-tiba sudah berdiri di ruang tamu masih memegang tas mahalnya.


Suara Bella membuat Tawa Rumi dan Bima berhenti.


" Jangan sekarang mamah lelah!" Ucap Bella dengan dingin pada Rumi.


" Bella....!" Bima berteriak kesal kepada Bella yang sudah menghiraukan putrinya.


" Rumina Sayang masuk ke kamarmu, Nanti papah akan menyusul mu!" Rumi pergi dengan bersedih.


Di ruangan itu hanya ada Bella dan Bima. Bima memegang bahu Bella dengan Kasar.


" Apa tidak bisa memberikan perhatian untuk putrimu sendiri?" Bima marah


" Lepas mas! Aku lelah mas, lagi pula Rumi sudah besar jangan di manja " Bella melepas tangan Bima.


" Jika kau tidak bisa menjadi istri yang baik, jadilah ibu yang baik untuk rumi, jangan buat dirimu menyesal." Bima pergi meninggalkan Bella yang terdiam.


**


Adam sedang duduk termenung, Barra masuk membawa makan malam untuknya.


" Makanlah dulu! Sejak tadi siang Anda belum makan." Adam hanya melirik makannya Rasanya ia tak berselera untuk makan sebelum mendapatkan kabar keberadaan istri dan putrinya.

__ADS_1


" Ardi sudah kembali?" Adam bertanya pada Barra.


" Asisten Anda belum datang. Sambil menunggu makanlah dulu , jangan sampai anda sakit itu akan merepotkan Tuan Adam Wijaksono." Bara membuka tutup makanannya.


Saat penutup makanan di buka aroma lezat makanan masuk dalam penciuman Adam , membuatnya tiba-tiba mual rasanya ia ingin muntah dengan langkah besarnya Ia menuju Wastapel yang ada di toilet ia memuntahkan cairan bening.


Melihat Adam muntah Bara mengikutinya ia tidak tega dan dengan telaten Ia memijat tengkuk Adam.


" Sudah Baikan!" Tanya Bara melepaskan tangannya.


Adam mengangguk ia lalu mencuci mukanya agar lebih segar.


" Makanlah dulu!" Bara menyodorkan piring berisi makanan itu pada Adam.


" Singkirkan makanannya membuatku ingin muntah." Adam menolak sambil mendorong piring ke arah Bara.


Bara hanya mengelengkan kepalanya, bagaimana bisa makanan enak dari lestoran ternama yang di beli langsung oleh bagas untuk Adam ternyata di tolak Adam.


" Ck... Anda ternyata merepotkan." Bara berdecak kesal ia lalu meronggoh saku bajunya dan mengeluarkan coklat.


kresak ....kresak


Bara membuka pembungkus coklatnya, tanpa ia sadari ada sepasang mata yang memperhatikannya.


" Aku mau itu?" ada keinginan dalam diri adam untuk mencicipi coklat milik Kapten Bara yang hampir masuk ke mulutnya.


Mendengar permintaan Adam barusan Bara hanya melongo kaget bagaiman bisa Adam mau memakan coklat murahnya itu.


Tanpa basa-basi dan Dengan cepat Adam merebutnya tanpa ada rasa bersalah.


" Hei.... Itu coklatku! Tingkahmu sepertu orang mengidam saja." Barra tidak suka makanannya di ambil.


Sedangkan Adam seolah tidak perduli ia memakan coklat Bara hingga tak bersisa , Adam tidak mengerti mengapa Ia bisa menginginkan coklat bara, padahal ia tidak menyukai coklat.


Melihat itu Bara hanya bisa menahan amarahnya yang selalu membuatnya kesal.


...****************...


Mohon tinggalkan jejak like dan komen🙏🏻


Untuk hanum dan Zea Author sembunyiin dulu yah🤭


Kita fokus pada Masalah Bima dan Bella.

__ADS_1


Terima kasih sudah mau mampir di karya pertama Author🙏🏻🙂


__ADS_2