
Waktu tak terasa telah berlalu , Zea masih bersikap acuh pada Adam padahal hatinya ingin sekali mendekap ayahnya , sungguh Zea merindukan Daddy Adam.
Ketika sarapan pagi, Adam menyiapkan roti bakar untuk Rumina, Zea tertegun melihat hal itu ada rasa cemburu dalam dirinya. Zea tidak menyadari jika Hanum memperhatikannya sejak dari tadi.
" Ze... Kau merindukannya bukan? Mommy tau meski kau bersikap acuh tapi hatimu berkata lain." Zea tersentak kaget mendengar ucapan Hanum yang sudah berdiri di belakangnya.
" Mommy.... Aku?" Ze menundukan kepalanya.
" Sayang, maafkan lah Daddy kau tau Daddy sangat merindukanmu! " Zea terdiam sambil menatap Daddynya.
Hanum lalu menarik tangan Zea membawanya menuju ke meja makan.
" Selamat pagi!" Hanum menyapa semua orang yang ada di meja makan.
" Pagi juga." Ucap Adam, Rumi , papah Ibrahim dan Lydia
Adam menatap putrinya yang belum membuka piringnya, Ia lalu berpindah duduk mendekati Zea. Adam membuka piring putrinya lalu membuatkan Roti dengan selai strawbery dan segelas susu coklat hangat untuk Zea.
" Sarapanmu sayang bukankah kau menyukai ini!" Adam mengelus kepala Zea.
Zea yang mendapatkan perhatian tiada henti dari Ayahnya meski dirinya bersikap acuh merasa sedih dan bersalah , tapi bibirnya tidak mampu untuk berbicara betapa Ia merindukan Daddynya.
Saat Zea melamun dengan pikirannya tiba-tiba telpon Adam berdering.
Drt....drt....drtt
Halo ..'. Adam , Bima.....Bima..
Ada apa dengan kak Bima?
Kak Bima sudah Siuman segeralah kemari.
Adam berdiri Ia menutup telpon dari Arka yang memberikan kabar jika Bima sudah siuman.
" Pah Mah Kak bima sudah siuman ." Ucap Adam dengan bahagia
" Benarkah!" Semua orang begitu bahagia, Akhirnya Bima siuman, mereka sangat bersyukur, tanpa menunggu lama mereka berangkat bersama ke W Hospital.
Adam berjalan bersama dengan mamah lydia dan papah Ibrahim di ikuti oleh Hanum Zea dan Rumina, mereka bersama - sama masuk di ruangan Bima.
Terlihat Bima yang sedang bersandar pada bantalnya, alat-alat kesehatan yang menempel di tubuhnya sudah dilepas. Wajahnya tampak terlihat kurus, rambut yang sedikit panjang.
Ketika melihat keluarganya datang Bima tersenyum pada mereka semua, Rumina langsung berlari menuju Papah Bima
" Papah..... Papah Terima kasih sudah berjuang untuk kembali, Rumi rindu papah." Rumina memeluk Bima.
Bima mengelus punggung putrinya menciumi puncak kepala Rumina dengan sayang.
" Bima sayang kau sudah siuman? Syukurlah sayang kami merindukanmu! " Lydia dan Ibrahim memeluk putra pertamanya.
" Terima kasih Mah , Paah .. Maafkan Bima." Bima lalu mencium tangan kedua orang tuanya.
" Selamat datang kembali Kak." Adam memeluk kakaknya.
" Terima kasih Dam." Ketika Bima melepas pelukan Adam kedua matanya menatap dua orang wanita berbeda usia yang pernah hadir dalam mimpinya saat Ia koma.
Flashback on
__ADS_1
Bima berjalan di tempat yang ia tidak ketahui, ia berjalan tidak tentu arah kemana Ia harus pergi yang ia lihat hanya hamparan padang rumput yang tak berujung. Hingga ada seorang wanita mengenakan pakaian putih menghampirinya.
" Siapa Kau? Dan Aku ada di mana?" Bima bertanya pada wanita yang belum terlihat wajahnya dengan jelas karena terhalang asap putih.
Hingga wanita itu semakin dekat ke arahnya, dan tersenyum dengan sangat manis, membuat mata Bima membola Ia terkejut karena ia bisa melihat Nisa di hadapannya.
" Nisa.... Ini Kau!" Bima memeluk nisa , ia mencurahkan rasa rindunya pada Nisa
" Maaf...maaf tolong maafkan aku, sudah menyakitimu." Bima melepas pelukannya. dan memandang wajah cantik Nisa yang di rindukannya.
" Mas Bima , Aku sudah memaafkanmu, lihat lah kesana mereka menunggumu." Nisa menunjuk dua wanita berbeda usia berdiri jauh dekat sebuah pintu.
" Hanum, Zea." Ucap Bima dengan pelan.
" Pergilah Mas, Ini bukanlah tempatmu, bayarlah penyesalanmu dengan menjaga putri kita." Nisa melepas pegangan tangannya dari Bima.
" Tidak.. Aku tidak mau pergi aku ingin bersamamu! "
" Tidak mas ada banyak hal yang harus kamu selesaikan, Zea membutuhkan ayah kandungnya. Pergilah mas aku sudah memaafkanmu." Nisa pergi menjauh dari Bima.
Menghilang dan tak terlihat lagi, Bima melihat ke arah Hanum dan Zea yang sudah tidak ada, terlihat pintu terbuka. Ia menengok ke arah Nisa menghilang lalu melihat ke arah pintu yang terbuka.
Flashback end
Bima menatap Hanum dan Zea, Ia menangkupan kedua tangannya pada Hanum dan Zea.
" Maafkan aku, yang sudah menyakiti kakakmu aku adalah laki-laki yang membuat kakakmu menderita.. Maafkan aku Hanum." semua orang terdiam mendengar permintaan maaf Bima.
" Aku sudah memaafkan kak Bima, Cepatlah pulih." Ucap Hanum tersenyum padanya.
" Papah..." Suara anak perempuan selain Rumina memanggil Bima.
Bima mengangkat kepalanya melihat ke arah Zea yang berjalan ke ranjangnya.
" Zea sudah tahu jika kakak adalah ayah kandungnya." Adam Berbisik pada Bima, mendengar itu Bima tersenyum bahagia air matanya jatuh ia lalu membuka kedua tangannya.
" Zea.... Zea maafkan papah Nak?" Bima memeluk putrinya dengan erat.
Zea membalas pelukan Bima tangisnya pecah, ia yang awalnya merasa marah pada Bima tiba-tiba hilang saat melihat wajah penyesalan Bima.
" Papah... Zea sudah memaafkan papah, cepatlah sembuh banyak hal yang ingin Zea tanyakan tentang Mamah Nisa." Bima menganggukan kepalanya Ia memeluk kembali putri yang tidak diakuinya dulu.
Melihat Bima dan Zea berpelukan membuat semua orang di ruangan menitikan air matanya.
Adam mundur perlahan meninggalkan ruangan Bima, Hanum yang melihat suaminya keluar ia mengikutinya. Terlihat Adam duduk di kursi tunggu.
" Mas...!" Hanum memegang bahu suaminya dan duduk di sebelahnya.
" Mengapa rasanya sakit Ketika Zea memeluk Kak Bima." Adam menundukan kepalanya.
" Apakah suamiku ini cemburu pada putrinya karena memeluk ayah yang lain." Hanum menggoda Adam.
Adam tersenyum hambar pada istrinya itu. Jujur hatinya merasa sakit saat anak yang ia rawat memanggil ayah pada yang lain , meskipun Ia tahu jika kak Bima adalah ayah kandungnya, entah mengapa ada rasa kesal dan cemburu dalam hatinya.
Bima belum bisa pulang karena kondisinya masih belum stabil paska koma, ia yang lama berbaring mengakibatkan kakinya susah digerakan dan harus melakukan Terapi untuk merespon kembali saraf - sarafnya.
**
__ADS_1
Tiga hari berlaru, Langkah Kecil Zea menyusuri koridor menuju Ruangan Papah Bima. Zea berjalan masuk ke kamar Bima terlihat Bima sedang membaca buku, ketika melihat putrinya masuk ruangannya Bima menghentikan kegiatannya.
" Zea dengan siapa kemari?" Tanya Bima.
" Dengan Oma, tapi Oma sedang mengobrol dulu dengan dokternya." Jawab Zea sambil naik ke ranjang Bima.
" Ada apa kau terlihat sedih, ada yang kau pikirkan? Apakah Papah harus bercerita lagi tentang mamah." Bima mencubit pipi Zea yang menggemaskan.
" Aku rindu Daddy Adam?" Zea menundukan kepalanya terlihat butiran bening jatuh di pipinya.
" Jika kau Rindu , mengapa tidak kau katakan pada Daddy Adam sayang."
Bima mengangkat wajah Zea dan menghapus air mata Zea. Bima sudah mengetahui Jika Zea marah pada Adam karena merasa kecewa mengetahui dirinya bukan anak Adam.
" Aku ..... !" Zea Ragu menjawab
" Sayang , Siapa yang menjagamu , merawatmu selama ini?" Tanya Bima
" Daddy Adam."
" siapa yang selalu ada jika kamu kesulitan?"
" Daddy Adam."
" Dan mengapa kau masih marah padanya? Dengar Zea mengapa Daddy Adam tidak mengatakan kebenarannya karena Dia sangat menyayangimu dan tidak ingin melukai perasaanmu. Papah Yakin Daddy Adam akan mengatakan kebenarannya tapi Ia menunggu waktu yang baik."
Zea terdiam mendengar ucapan Papah Bima. sebenarnya Zea juga tidak bisa marah pada Daddy Adam tapi Ia merasa kecewa karena Mengetahui semuanya dari orang lain.
" Zea bisa memaafkan Papah yang begitu banyak kesalahan padamu, lalu Mengapa Ze tidak bisa memaafkan Daddy Adam yang begitu baik padamu Nak?"
Zea terdiam benar juga apa yang dikatakan oleh Papah Bima, mengapa dia harus marah pada orang yang merawatnya dan menyayanginya.
" Zea , putri kandung papah .. Tapi kau tumbuh dengan Daddy Adam, Kau tetap putri Kesayangan Daddy Adam Wijaksono."
Zea menatap papah Bima ia lalu tersenyum dan mencium kening Bima.
" Terima kasih papah, Zea sayang papah! Seharusnya Zea bersyukur punya Dua ayah yang selalu menyayangi Zea."
Zea memeluk Bima Ia sekarang tidak akan merasa bingung harus memilih siapa , selama ini Zea menjauh dari Adam selain rasa kecewa karena ia merasa bingung harus memilih siapa , karena keduanya adalah ayahnya.
Zea berpamitan dan berlalu pergi untuk segera pulang menemui Daddy Adam dan meminta maaf padanya.
Ia berlari ke dalam mansion tanpa menghiraukan panggilan omanya.
" Daddy...!" Zea mencari Adam le ruang kerja, tapi tidak ada lalu ia berlari ke kamar Adam.
" Daddy...!Dimana? Apa masih ada di kantor." Zea mencari Adam namun tidak ada di manapun
" Zea, Ada apa?" Hanum keluar dari kamar mandi di kamarnya.
" Mommy Daddy dimana?"
" Daddy sudah berangkat ke Australi ada urusan bisnis."
Mendengar jawaban Hanum , Zea terduduk di ranjang kamar Ia terlihat bersedih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1