
Adam masih asyik tidur bersama Azlan padahal jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi, rasanya malas untuk pergi berangkat ke tempat kerja. Bagas sudah beberapa kali menghubunginya karena akan ada meeting penting yang harus di hadiri Adam.
Sudah dua minggu Adam tidak masuk ke kantor ia membawa pekerjaannya ke rumah , jika ada rapat dengan karyawannya ia akan melakukan rapat lewat zoom meeting.
" Mas cepatlah bersiap hari ini bukannya ada meeting penting? kasihan Bagas harus menyelesaikan semuanya sendiri." Hanum membawa Azlan dalam gendongannya karena ingin menyusu.
" Mengapa istriku ini malah membela bagas... itu sudah tugasnya sebagai asistenku." Adam memeluk pinggang istrinya yang terlihat agak melebar setelah melahirkan.
" Mom, ada oma di bawah!" Zea masuk ke dalam kamar orang tuanya untuk berpamitan berangkat sekolah.
" Zea... berangkat dengan siapa? tunggu di bawah Daddy siap-siap dulu." Adam beranjak dari rebahannya.
" Gak mau, daddy terlalu lama, seperti bayi besar yang ingin di layani semuanya oleh mommy terlalu lama menunggu, aku takut telat lagi."
Zea melipat tangannya merasa kesal pada daddy Adam yang selalu bermanja-manja persis seperti Azlan pada mommy Hanum.
Zea kesal pada ayahnya karena sudah dua kali terlambat datang ke sekolah karena adam yang bermanja -manja pada Hanum dalam berbagai hal dari mulai makan sampai mengenakan baju ingin dilayani istrinya, sedangkan Hanum harus mengurus Azlan terlebih dahulu.
" Ha...ha...itulah ayah mu Zea, ya sudah pergi dengan Mang wahyu saja nanti pulangnya mommy dan Daddy yang akan jemput." Hanum mencium pipi putrinya.
Setelah Zea keluar dari kamar hanum ,oma lydia masuk dan langsung membawa cucunya Azlan keluar kamar.
" Sayang urus bayi besarmu dulu biar Azlan mamah yang gendong." Ucap mama lydia yang sudah mengetahui sifat manja putranya Ia lalu memukul bahu Adam dan pergi membawa Azlan ke lantai bawah, mendapat pukulan dari ibunya Adam hanya terkikik.
Dengan susah payah Hanum membujuk suaminya untuk segera berpakaian dan berangkat ke kantor.
**
Sesampainya di kantor Adam langsung masuk ruang meeting karena sudah di tunggu dari sejak satu jam yang lalu. Ia memulai meetingnya dengan lancar tanpa ada hambatan padahal bagas mengatakan bahwa ada beberapa dewan direksi yang tidak menyetujui mengenai aturan perusahaan yang baru, setelah Adam menjelaskan para dewan direksi mulai mengerti dan mau menerima aturan baru tersebut.
" Gas , mana berkas yang harus aku tandatangani? bawa ke ruanganku!"
Setelah mengatakan itu Adam masuk ruangannya dan mendaratkan bokongnya di kursi kebanggannya sambil menatap fhoto Zea dan Azlan yang dijadikan walpaper di ponsel mewahnya.
Bagas masuk membawa setumpuk berkas hingga menutupi wajahnya yang tampan itu.
" Ck... Kau ingin membunuhku?" Adam berdecak sebal melihat banyak sekali dokumen yang harus ia periksa .
" Tentu saja akan menumpuk Pak anda sudah 2 minggu tidak masuk kerja." Ucap Bagas polos, tidak tau jika bosnya di depan sudah memasang muka marah.
" Jadi kau menyalahkanku! bulan ini aku potong gajihmu." Adam membawa berkas dengan kasar.
Glek......mendengar itu Bagas hanya bisa menelan ludahnya kasar.
__ADS_1
*Dasar bos durhakim, dia yang salah mengapa saya yang harus kena marah
Nasib asisten ya seperti ini*. Ucap Batin Bagas.
" Jangan berani mengupatku didalam hati."
Ternyata bosnya bisa mendengar umpatannya meski di ucapkan dalam hati, membuat Bagas semakin takut.
" Hah... Tidak pak! Baiklah saya permisi."
" Hemm.."
" Hei tunggu..... Cek ponsel mu aku sudah mentransfer bonus lembur mu."
Ucap Adam tanpa melihat Bagas.
" Maksudnya bagaimana Bos."
Bagas tersenyum sangat tipis karena bahagia, bukannya tadi bosnya itu akan memotong gajihnya tapi malah jadi di beri bonus. Tuan Adam memang yang terbaik.
" Terima kasih pak." Bagas menunduk hormat pada Adam.
" Jangan padaku berterima kasih pada istriku yang merengek setiap pagi agar aku memberi bonus padamu."
" Baiklah selepas kerja saya akan berkunjung ke mansion Anda pak."
" Berterima kasih pada Istri Anda pak."
" Tidak perlu nanti aku yang sampaikan." Adam kesal , bisa-bisanya bagas ingin menemui istrinya.
Mendengar itu bagas jadi bingung pada bosnya , tadi dia bilang harus berterima kasih , tapi tidak perlu ah ... benar- benar sepertinya Bos Adam mengalami baby blues.
**
Lain Adam lain Bima. Si duda tampan yang jatuh cinta sedang murang maring tidak jelas, Hardi di buat bingung dengan tingkah sang bos.
" Hardi, apa jadwalku sekarang ?" tanya Bima sambil memainkan ponselnya.
" untuk tiga jam ke depan jadwal anda kosong." Hardi menatap Maxbooknya.
" Oke kalau begitu aku keluar dulu." Bima memakai jasnya dan membawa kunci mobil di mejanya.
" Tapi anda akan kemana pak?" Hardi bingung dengan tingkah bosnya itu terkadang tersenyum sendiri terkadang marah-marah, apa efek samping dari mengalami koma pikir Hardi.
**
__ADS_1
Bima melajukan kendaraannya menuju W Hospital, tempat Yasmin bekerja Ia berencana akan mengajaknya untuk makan siang.
Yasmin berjalan melewati koridor rumah sakit ia menuju ke kantin rumah sakit di lantai 15 bersama teman-temannya. Namun langkahnya terhenti ketika suara seorang pria yang dikenalnya memanggil namanya.
" Yasmin!" Bima memghampiri Yasmin dan sahabatnya.
" Kak Bima! Anda ada di sini!" Jawab Yasmin
Melihat kedatangan Bima, kedua sahabatnya memutuskan untuk pergi duluan ke kantin
" Apa aku mengganggu?"
" Tidak , Kak kebetulan aku akan pergi makan siang."
" Ayo ikutlah denganku kita makan siang di luar." Belum sempat Yasmin menjawab Bima sudah menarik tangannya.
Sekarang mereka sudah berada di cafe Flores yang berada tidak jauh dari w Hospital.
" Kakak, padahal kita makan di kantin saja makanan di sana lebih murah dan enak."
Yasmin merasa tidak nyaman karena untuk kedua kalinya ia selalu di ajak makan pada tempat makan yang mewah dengan harga selangit.
Bima hanya tersenyum mendengar ucapan Yasmin, yang merasa tidak nyaman makan di tempat mahal seperti ini.
Mereka makan tanpa bersuara, tidak ada obrolan sama sekali hanya suara bunyi sendok dan garpu yang mengiringi kesunyian di meja mereka.
Setelah selesai makan mereka tidak langsung pergi dari cafe, Bima masih ingin bersama dengan Yasmin, jika di rumah sulit sekali mendekati yasmin karena selalu di ekori Rumina.
" Oh iya Kak, minggu depan Aku akan pulang ke bangka Belitung ada saudara ibu yang akan menikah! Dan ... Rumina juga Zea ingin ikut juga karena kebetulan mereka juga sedang libur tengah semester." Yasmin meminum segelas Air putih di depannya.
" Benarkah, kalau begitu aku juga akan ikut denganmu. hari apa berangkat?"
Bima menjawab tanpa ragu, tentu saja ia tidak akan menyianyiakan kesempatan ini, Ia harus bisa ikut dan menemui ibu Dewi untuk melamar Yasmin.
" Apa..! Kakak mau ikut?" Yasmin terkejut.
" iya, mengapa tidak boleh."
" oh tidak.... Eh maksudku tentu saja boleh.. Tapi bagaimana degan kerjaan kakak."
" kau lupa aku bosnya , jadi terserah aku mau libur atau tidak."
" Ah iyah...!"
Ya ampun sombong sekali kak Bima tapi mengapa setiap hari Ia semakin tampan , aduh Yasmin sadar kamu itu terlalu bermimpi.
__ADS_1
Yasmin yang melamun di kejutkan oleh Bima yang tiba-tiba mengecup pipinya sekilas, membuat pipi yasmin berubah merah karena merasa malu. Anehnya mengapa Dia tidak marah dengan apa yang dilakukan oleh si duda tampan yang sudah mengisi relung hatinya, jujur saja hatinya bersorak mendapat ciuman singkat itu.
...****************...