Panggil Aku Daddy

Panggil Aku Daddy
3 hati satu rasa


__ADS_3

" Hanum..... Zea!" Teriak Adam hingga membuat langkah Hanum terhenti sesaat, ingin rasanya ia berbalik namun ada rasa takut menyelimutinya.


POV Hanum


Aku terus berlari menghindari kejaran anak buah Mas Adam yang tanpa lelah terus mengejar, rasanya kaki ini sudah tidak sanggup berlari, dengan susah payah kuayunkan kaki ini menuju pintu keluar , sambil membawa Zea dalam gendonganku.


Terdengar suara yang yang memanggil namaku dengan begitu keras hingga mengalahkan kebisingan suasana di stasiun kereta.


Suara pria yang ku kenal berhasil menghentikan langkah kakiku, rasanya tubuh ini akan ambruk, aku bisa mendengar ada kemarahan dalam suara itu membuat seluruh tubuh bergetar, keringat membasahi tubuh yang lelah ini.


Jangan mundur Hanum , jangan berbalik lanjutkan apa yang harus kamu lakukan, Dengan susah payah aku mengumpulkan tenagaku agar bisa berlari dan menjauh dari Adam.


POV Adam.


Aku berlari mengelilingi stasiun mencari Hanum dan Zea, kucari di berbagai arah namun tak kunjung aku temukan, hingga saat aku berdiri di pintu keluar, kulihat seorang wanita menggendong anak perempuan berlari menjauh dari stasiun.


Aku yakin itu Hanum dan Zea, Aku bergegas mengejar mereka dan ku panggil namanya dengan sangat keras hingga membuat semua orang berhenti termasuk Hanum.


Dengan nafas terengah-engah aku terdiam sejenak, Aku berharap Hanum akan berbalik.


Ku mohon berbaliklah , Aku akan memaafkan dengan apa yang sudah kau lakukan padaku apapun alasanmu.


Kumohon Hanum berbaliklah jangan pergi.


PoV Zea


Mommy membawa ku berlari dalam gendongannya ku rasakan napas yang terengah-engah , aku yakin mommy pasti sangat lelah.


Aku tidak mengerti mengapa harus menutup mata dan telinga, yang aku tau hanya satu, mommy ingin membuatku nyaman.


Aku percaya pada mommy, tapi aku ingin membuka mataku sebentar , maaf mom zea tidak menepati janji.


Saat ku buka mata kulihat Seorang pria berlari jauh di belakang kami. Pria yang berlari itu adalah Pria yang selalu menyiramiku dengan rasa sayang , Pria yang selalu menjagaku tak pernah lelah. Dia adalah My Daddy.


Daddy ... Maaf Zea harus menjauh, ku angkat tanganku dan melambaikan ke arah Daddy Adam yang masih berlari mengejarku tidak terasa air mataku menetes jatuh membasahi pundak mommy.


Aku mengerti mengapa mommy menyuruhku menutup mata dan telinga agar aku tidak bersedih jika melihat daddy.


Sorry daddy Ze has to be with mommy, later we will meet again. Ze loves daddy.


PoV End


Melihat Hanum yang tidak berhenti membuat adam menjadi kesal


"Hiss, kau .... why not stop!" Adam berlari kembali mengejar hanum yang menjauh, saat akan menyebrang tiba-tiba mobil box melintas tepat di depan Adam sehingga membuat pria itu menghentikan langkahnya menunggu mobil itu lewat.


Setelah mobil box melintas Adam melihat sekeliling, Hanum dan Zea sudah tidak terlihat lagi.


" Sial, kemana hanum pergi?" Adam hendak melangkahkan kakinya namun tangannya di cekal oleh Kapten Bara.


" Sudah cukup, kau membuatku lelah!" Ucap Bara sambil mengatur nafasnya karena lelah, sejak dari tadi berlari mengejar CEO AZ Kingdom.


" Lepas aku harus mengejar mereka!" Adam melawan Bara Ia memelinting tangan Bara lalu menariknya dengan kuat hingga Bara terjatuh.


Saat Adam akan melangkahkan kakinya, bara mengeluarkan senjata api dan menembakkan ke udara.


Dor.......

__ADS_1


Adam menghentikan langkahnya.


" Jangan membuatku bertindak lebih Tn. Adam Wijaksono!" Bara meletakan senjatanya tepat di hadapan Adam.


" You wanna shoot me, do it if you can!"


Adam menatap tajam dengan tatapan membunuh yang dilayangkan pada Bara, membuat Bara bergidik ngeri ternyata Adam jika marah sangat menyeramkan.


Tidak lama dari itu Bagas datang bersama para pengawal Adam mereka langsung mengarahkan senjata kepada Bara bersama-sama melindungi Atasannya.


Melihat banyak senjata mengarah padanya, Kapten Bara menurunkan senjatanya, Ia lalu mendekati Adam.


"Tn. Adam, jika kau nekat pergi dari sini akan banyak orang yang akan kena masalah akibat ulahmu termasuk aku ingat kau masih dalam penyelidikan, Aku tau kau lebih Faham!" Bara mencoba meyakinkan Adam.


Mendengar hal itu Adam terdiam sambil menatap nanar pada tempat dimana Hanum dan Zea tak terlihat lagi.


Ia bingung apa yang harus dilakukannya, ingin mengejar hanum tapi keadaannya tidak memungkinkan.


Ia terduduk lesu di kursi tunggu mengacak rambutnya. Ia jatuhkan kepalanya pada kedua tangannya sebagai penyangga.


" Maafkan saya Tuan!" Bagas menghampiri Adam Ia menunduk hormat kepada bosnya karena tidak menjalankan tugas dengan baik.


Mendengar kata maaf Bagas, membuat emosi Adam terpancing kembali Ia mengangkat kepalanya menatap tajam Bagas, Ia berdiri


Dan ... Bugh


Tinjunya melayang tepat di wajah Bagas, pukulan Adam membuat Bagas meringis terlihat ujung bibirnya berdarah, Ia sama sekali tidak membalas pukulan bosnya Ia merasa memang pantas mendapatkan hukuman untuk kelalaiannya.


" Since when did you become this stupid and lethargic hah... ? where is your ability just chasing women you can't."


Bagas hanya tertunduk tidak menjawab, hampir Adam akan melayangkan tinjunya lagi namun Ardi menghalanginya.


" Cukup Dam! Tenangkan dirimu?" Ardi menahan dada Adam menghalangi Bosnya agar berhenti memukull Bagas.


" Tenang katamu? istriku pergi membawa putriku! Belum lagi masalah yang lainnya apa aku bisa tenang Hah..... Jawab!" Adam melepas cekalan Ardi.


Ardi meminta waktu pada Bara untuk menenangkan sahabatnya sekaligus Atasannya itu.


Melihat permintaan Ardi Bara menganggukan kepalanya.


Ardi duduk di sebelah Adam.


" Dam kau harus tenang agar bisa berfikir jernih, jika kau mengikuti emosimu hanya akan menambah masalah. " Adam membenarkan dengan Apa yang dikatakan asistennya.


" Lalu apa yang harus aku lakukan, aku sudah tidak bisa berpikir." Adam mulai tenang.


" Sekarang kau kembali saja selesaikan penyelidikan, aku akan menghandle perusahaan dan Bagas akan mencari Nona hanum dan Zea. Fokuslah pada penyelidikanmu."


Adam menarik napas dan menghembuskannya, Ia berdiri dan melangkah pergi bersama Bara tanpa mengatakan satu patah katapun.


Setelah kepergian Adam, Ardi baru ingat jika tadi dia kemari bersama dengan Alya.


Ia lalu menempelkan benda pipih di telingnya menghubungi Alya, tapi Alya tidak menjawab panggilannya.


Drt....drt...


Alya mematikan panggilan Ardi, Lalu kembali berjalan Bersama dengan Hanum secara diam- diam agar tidak terlihat.

__ADS_1


Ketika ada mobil box yang melintas di depan Adam, Hanum langsung di tarik oleh Alya dan masuk kedalam Taxi yang kebetulan sedang melintas berbarengan dengan mobil box.


Saat ini mereka berada di rumah sepupu Alya yang sedang tidak ada di rumah.


" Hanum Kau gila , Apa kau tau gara-gara ulahmu semua menjadi kacau?" Alya berkacak pinggang di hadapan teman baiknya itu.


" Ssttt....ssttt jangan terlalu keras nanti Zea mendengar." Hanum menutup mulut Alya agar Alya menghentikan ucapannya.


" Oke, sekarang jelaskan padaku, apa alasanmu membawa Zea pergi dan menghancurkan suamimu sendiri." Tanya Alya dengan suara yang pelan agar tidak terdengar oleh Zea.


Hanum berjalan Ke arah jendela yang mengarah pada Kolam renang, Melihat itu Alya mengikutinya.


" Han, katakan apa yang sebenarnya terjadi?" Alya memaksa agar Hanum bercerita.


" Aku akan cerita, tapi janji padaku kau harus membantuku dan jangan pernah memberitahu Ardi dan Mas Adam jika kau bertemu dengan ku.! Alya menganggukan kepalanya.


Hanum mulai bercerita , siapa dirinya dan mengapa Ia ingin balas dendam pada Adam Wijaksono.


Nisa kaka satu-satunya harus menderita Karena Adam meninggalkannya dikala Ia sedang membutuhkannya.


" Dan Zea adalah putri Adam dan ka Nisa." Alya terkejut rasanya ia tidak percaya jika Adam melakukan hal seperti yang hanum ceritakan.


drt.....drt...


Kembali Ardi menelpon lagi.


" Angkat Al aku takut Ardi mencurigaimu." ucap hanum


Alya lalu menggeser tombol hiju dan menjawab telpon Ardi


" Al kau dimana?" Tanya ardi di balik sebrang telpon


" Ehm.... Aku masih di stasiun, ka ardi dimana?" Alya berbohong.


" Aku masih di stasiun kamu di sebelah mana?"


" Aku di toilet perut ku mendadak mules." Alya menutup telponnya langsung.


" Pergilah sekarang ke stasiun agar Ardi tidak curiga. Al berjanjilah jangan sampai mereka tau kau membantuku." Alya menganggukan kepalanya lalu memeluk teman baiknya, sebuah pelukan yang seolah seperti pelukan perpisahan.


" Kau jangan khawatir aku sahabat baikmu , rahasia mu akan terjaga!" Alya melepas pelukannya lalu berlalu pergi kebetulan rumah sepupunya dengan stasiun tidak terlalu jauh.


Di tempat lain Adam duduk sendiri dalam ruangan yang tertutup, Ia duduk menyilangkan tangannya di dada sambil menutup matanya, berharap bisa berpikir tenang untuk menyelesaikan kasusnya ini.


Tapi tetap saja wajah Zea saat melambaikan tangan padanya terbayang terus, air mata adam terjatuh tanpa bisa di tahan lagi.


Begitupun dengan Zea yang tidak bisa tertidur karena memikirkan Daddy Adam, ia menangis tanpa bersuara karena takut tidak ingin terdengar oleh mommy Hanum.


Hanum mengintip di balik pintu kamar Zea yang tidak tertutup rapat, dia dapat melihat Zea yang sedang menangis.


Melihat itu hanum menjatuhkan tubuhnya duduk di lantai di balik pintu, bahunya bergetar menahan tangis, seharusnya Ia bahagia karena bisa membalas adam, tapi nyatanya sebaliknya. Ia ikut merasakan rasa sakit yang Adam rasakan.


Kesalah fahaman yang terjadi telah membawa Hanum dalam kesalahan besar. Ia tidak menyadari jika Ia akan menyesali perbuatannya.


tiga hati yang terpisah , merasakan rasa yang sama, tangis pilu menemani kesendiran.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2