Panggil Aku Daddy

Panggil Aku Daddy
Sory Daddy


__ADS_3

Rintik hujan membasahi tanah, memberikan ketenangan dan kesejukan pada setiap insan, seorang gadis kecil duduk termenung menatap hujan di balik kaca jendela kamarnya , setelah pulang sekolah Zea enggan keluar kamarnya.


Ia duduk termenung menatap nanar pada Jendela seolah sedang berkeluh kesah pada tiap tetesan hujan yang menyapa jendela kamarnya.


Rain convey my longing to Daddy


Rain say sorry to Daddy


...


Zea begitu merindukan ayahnya sudah tiga hari Adam berada di Australia, selama itu juga Zea belum menghubungi untuk bertukar kabar dengan Ayahnya.


Zea memegang ponsel miliknya Ia hendak memijit nomor ponsel Adam tapi ia ragu.


Hingga terdengar suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.


Tok..tok..tok


" Ze Apa mommy boleh masuk." Ucap Hanum di balik pintu.


" Masuklah tidak di kunci Mom." Zea buru -buru menyimpan kembali ponselnya.


" Kapan kau pulang? mommy tidak melihatmu! Kata Rumi kau belum makan." Hanum duduk di sebelah Zea.


" Aku masih kenyang Mom." Zea Terlihat sedih


" Ada apa, beberapa hari ini mommy liat kau selalu menyendiri."


Hanum menatap lekat putrinya, meski Ia tau apa yang dipikirkan Zea saat ini , Hanum sengaja ingin membuat Zea membuka pintu hatinya dengan tangannya sendiri. Ia tidak mau memakasakan Zea untuk memaafkan Daddy Adam, Karena semarah apapun Zea pada Adam hatinya sangat merindukan dan menyayangi Adam.


" Mommy , Zea rindu Daddy."


Zea memeluk Mommynya dengan erat Ia menumpahkan kegundahan hati yang di tahan selama ini membentengi dirinya dan rasa kecewa tapi tetap saja banyak celah kerinduan untuk ayahnya.


Mendengar hal itu Hanum tersenyum, Ia merasa lega karena akhirnya Zea bisa menyampaikan perasaan hatinya.


" Apa Zea sudah memaafkan Daddy." Hanum memegang pipi Zea dengan lembut.


Zea menganggukan kepalanya. Terlihat butiran bening membasahi pipinya.


" Benarkah?"


" Iya Mom! Zea yang seharusnya meminta maaf pada Daddy."


" Kalau begitu telpon Daddy agar bisa cepat pulang , bukankah besok ada acara speech contest di sekolahmu."


Zea sampai lupa jika besok Ia akan mengikuti speech contest di sekolahnya, ia memukul jidatnya Melihat Zea Hanum tersenyum. Ia lalu mengambil ponsel Zea dan memberikan pada Zea.


" Telpon Daddy sayang katakan jika kau merindukannya." Hanum lalu berjalan keluar meninggalkan Zea sendiri di kamar.


Tut....tut...tut.


Zea menunggu panggilannya di jawab namun sayang Adam tidak menjawabnya karena sedang sibuk melakukan meeting dengan relasi bisnisnya. Ia mencoba sekali lagi tetap Adam belum menjawabnya.


Tidak di angkat, mungkin Daddy sibuk.


Zea menjatuhkan tubuhnya di kasur sambil menatap langit langit kamarnya hingga rasa kantuk menghampirinya. Terlihat ponselnya berbunyi namun mode ponselnya silent.


Daddy Call....📲


**


Keesokan harinya , sebelum berangkat kesekolah Zea masih mencoba menghubungi Daddy Adam namun ponsel Adam tidak Aktif.


" Zea cepat nanti kita terlambat." Rumina memanggil Zea sembari berlari menuju mobil yang sudah siap di depan.


Mendengar Rumina memanggil Zea melempar ponselnya sembarang Ia lalu berlari mengikuti Rumina. Zea dan Rumina di temani Hanum berangkat menuju sekolah lebih pagi karena sedang ada acara hari jadi IG Schol banyak perlombaan yang di adakan dalam kegiatan peringatan sekolah.

__ADS_1


Rumina mengikuti Lomba menyanyi, Sedangkan Zea mengikuti lomba Pidato dimana tema pidatonya akan di berikan pada saat peserta lomba berada di atas panggung.


Hanum duduk di barisan paling depan, selain Hanum Ada Alya dan Ardi yang menyusul ingin melihat penampilan Keponakannya. Tidak lama kemudian Ana dan Arka datang bersamaan dengan papah ibrahim dan Mamah Lydia dan ikut duduk di sebelah menantunya.


Acara sudah berlangsung setiap peserta menyampaikan pidato dengan sangat baik, hingga sampailah giliran Zea naik ke atas panggung.


Ibu Sasa menyodorkan Toples kaca Yang berisi gulungan kertas mengenai tema yang akan di pilih Zea.


" Zea silahkan pilih temanya."


Mendengar perintah ibu Sasa Zea mulai mengambil satu gulungan kertas tersebut dan menyerahkannya pada Bu sasa.


" Baiklah Zea tema yang akan kamu bawakan adalah mengenai AYAH."


Prok.....prok....


Semua penonton bertepuk tangan , mereka menunggu Zea untuk memulai pidatonya tentang Ayah.


Zea masih terdiam belum mengucapkan sepatah katapun.


" Zea silahkan di mulai waktu sudah berjalan sejak tadi." Bu Sasa mengingatkan Zea.


Zea melihat keluarganya yang duduk di kursi barisan depan untuk memberikan dukungan , tapi orang yang di tunggunya tidak terlihat.


Ia memejamkan matanya, mengingat perkataan Bima waktu itu.


Sayang , Siapa yang menjagamu , merawatmu selama ini?"


" Daddy Adam."


" siapa yang selalu ada jika kamu kesulitan?"


" Daddy Adam."


Zea membuka matanya dan memanggil lirih


Ia mendekatkan dirinya pada mic yang sudah di siapkan di depannya.


...


Aku tidak pernah mendapatkan pelukan hangat dari seorang ibu, saat ku bayi


bahkan saat aku menangis tak terdengar suara ibu yang berusaha menenangkanku...


Hanya suara tegas yang penuh kepedulian dan cinta yang besar yang kudengar sejak aku bayi hingga sekarang...


Saat ku buka mata hingga ku menutupnya kembali tetaplah sosok tangguh itu yang kulihat....


Kata pertama yang ku ucap di mulutku bukanlah kata Ibu....


Hingga aku tertatih belajar berdiri Tangan besarnya yang sanggup mengenggam dunia yang membantuku berdiri kembali....


Ketika aku menangis dengan cepat Ia membawaku dalam pelukannya bersandar pada dada dan punggung yang kuat menahan badai untuk melindungiku...


Siapakah Dia , yang selalu ada untuk ku ...


Di saat aku yang sendiri terlepas dari pelukan ibu yang telah tiada...


Ia membawaku dalam dekapannya....


Ia berusaha menjadi figur ibu


Ia berusaha memasak makanan meskipun sering hangus dan berantakan tentunya...( Zea tersenyum getir mengingat adam memasak telor untuknya yang hangus).


Ia Berusaha Mencoba mengikat rambut walau tidak rapih


tapi bagiku semua tampak sempurna

__ADS_1


Dia sangat berjasa untuk ku


Who's he?


I call him "Daddy"


He is my Dad....my father my hero


Forgive Zea Dad..... (Zea terdiam sejenak menghapus air matanya)


Zea really misses Daddy Adam.


Please come back ... ( Suaranya tercekat hanya terdengar tangisan pilu).


Zea menutup Wajahnya dengan kedua tangan kecilnya, Semua penonton terdiam membisu hanya air mata yang menjawab.


Terlihat semua orang menyeka air matanya mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut mungilnya.


Termasuk sosok pria tegap yang berdiri jauh di belakang nampak sedang menghapus butiran bening yang jatuh dipipinya. Ia lalu berjalan dengan gagahnya menuju sang putri tercinta.


Tap...tap...tap.


Suara sepatu pentofel hitam yang mengkilat memecahkan kesunyian, semua orang mengarahkan pandangannya pada sosok pria tampan bertubuh tegap yang mampu memghalau badai untuk menjaga putrinya.


Zea masih menangis sambil menutup wajahnya Ia tidak menyadari jika sosok yang dibicarakannya sudah ada di depannya.


" Fiona Zea Wijaksono, my princess!" Suara Bariton Adam memanggil Zea.


Zea menghentikan tangisnya Ia mengenal suara tegas penuh kasih sayang itu. Suara sosok yang di rindukannya, perlahan ia membuka tangannya mengangkat wajahnya yang sembab, betapa bahagianya Ia jika Daddy Adam ada di hadapannya.


" Daddy..!" Zea turun dari panggung berlari ke arah Adam, dan memeluknya.


" Sory Daddy, I Miss you so much!"


Zea menangis dalam pelukan Adam, Adam membawa putrinya dalam gendongannya, Ia menciumi puncak kepala putrinya.


"Don't be mad at daddy anymore" Adam mengelus punggung Zea.


" Will never Daddy!" Ucap Zea.


Melihat itu Hanum bertepuk tangan di ikuti semua orang yang berada di Aula, merasakan kebahagian pertemuan ayah dan anak itu tepuk riuh bergema mengisi penuh Aula IG School.


Ini adalah kejutan untuk Zea , karena sebelumnya Hanum sudah mengabari Adam mengenai Acara Lomba Zea, Ia meminta Adam untuk segera pulang dan menyaksikan penampilan Zea. Adam dengan semangat menyelesaikan pekerjaannya untuk bisa menyaksikan penampilan putrinya.


Setelah Zea berbaikan dengan Adam, mereka kembali duduk dikursi penonton karena akan menyaksikan penampilan Rumina yang akan bernyanyi.


Terlihat Rumina berdiri di atas pentas , ia mulai bernyanyi meyuguhkan suaranya yang begitu merdu menyihir setiap orang yang ada di sana.


Tepuk tangan riuh bergema kembali di peruntukan Rumina Wijaksono.


Acara demi Acara telah selesai semua orang sudah pulang begitupun dengan keluarga Wijaksono yang sekarang menuju kediaman Mansion papah Ibrahim Karena Bima sudah pulang dan untuk merayakan kepulangan Bima mereka mempersiapkan makan malam istimewa.


Terlihat Ardi, alya, arka, ana , Jack , Zoya, Bagas dan Leo ikut merayakan di mansion Ibrahim. Mereka akan makan malam bersama.


Ketika semua orang sudah masuk ke dalam Adam menarik lengan istrinya membawanya ke taman.


" Ada apa Mas!" Hanum heran melihat suaminya mengajak ke taman.


" Aku merindukan mu!" Adam mulai mencium bibir istrinya dengan lembut.


" Terima kasih sayang! berkatmu Zea bisa memaafkanku." Adam mengusap bibir Hanum.


" Bukan Karena aku , Tapi kalian sendiri cinta dan kasih sayang mas Adam yang membawa Zea kembali." Hanum menatap damba suami tampannya.


" Aku beruntung menjadi istrimu, kau adalah suami dan ayah yang terbaik. I love u Mas Adam, kau membuatku selalu jatuh cinta berulang kali." Ucap Hanum


Adam memeluk istrinya Ia di buat melambung tinggi dengan pujian kekaguman sang istri.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2