
sudah lima hari Hanum dirawat di rumah sakit, hari ini keadaannya sudah membaik, Adam membereskan pakaian istrinya mereka sedang bersiap untuk pulang.
Papah Ibrahim, mamah Lydia , Ardi, Zea sudah duluan pulang ke Jakarta. Karena harus mengurus perusahaan dan penangkapan James Utama.
James Utama berhasil di tangkap dengan seluruh anak buahnya karena melakukan bisnis terlarang, Ia tidak akan bisa berkilah lagi karena bukti -bukti kuat mengarah padanya. Dan mengenai saham yang Adam alihkan atas nama James utama hanyalah data piktif untuk mengelabui Aldo, saham perusahaan W Corp Dan Az Kingdom masih aman beserta data dan dokumen penting lainnya.
" Sayang kau sudah siap!" Adam memeluk istrinya dari belakang sambil menciumi pipi Hanum.
" Jika kau seperti ini bagaimana aku bersiap Mas." Haum terkikik mentertawakan suaminya.
Setelah merapihkan pakaian Hanum ke dalam Tas , Adam dan Hanum keluar rumah sakit sebelum mereka ke Bandara mereka terlebih dahulu menjenguk Mateo.
Mateo duduk di ranjangnya Ia sedang di suapi oleh Ibunya.
" Makanlah yang banyak agar cepat sembuh!" Ibu Nina mengingatkan putra semata wayangya.
" Iya Bu!"
Mateo menurut terlihat mulutnya mengunyah makanan, mateo berhenti memgunyah ketika ia melihat Adam dan Hanum masuk ke kamar rawatnya.
" Miss Hanum, Om Adam!" Mateo bahagia melihat mereka berdua datang.
" selamat pagi apa kami mengganggu?" Hanum dan Adam masuk dan berjalan mendekati Mateo.
" Tentu saja tidak, mari silahkan." Ibu Nina mempersilahkan Hanum dan Adam.
" Mateo apa kabarmu?" Hanum mengelus lengan Mateo.
" Aku baik Miss!" Mateo tersenyum hingga melihatkan deretan giginya yang rapih.
Mereka mengobrol banyak hal di sana ,membuat semua orang tertawa mendengar candaan Mateo.
" Mateo terima kasih , kau sudah melindungi istri dan anak ku!" Adam meninju pelan bahu Mateo.
Mendengar hal itu membuat Mateo bersedih entah mengapa Ia jadi teringat ayahnya. Melihat Mateo bersedih Adam langsung memeluk Mateo.
" Kau anak yang baik dan pemberani, seorang laki-laki harus kuat untuk menjaga keluarganya terutama ibumu ..hem!" Mendengar nasehat Adam Mateo semakin terharu.
" Terima kasih Om Adam! Aku berjanji akan menjadi Pria yang hebat." Mateo lalu melepas pelukannya dan meninju Bahu Adam.
" Seperti om Adam!" Mendengar hal itu membuat Hanum dan Nina tersenyum bangga.
Adam menyampaikan perpisahan pada Mateo dan ibunya karena mereka akan kembali ke Jakarta hari ini, Adam juga akan membiayai pengobatan Mateo hingga Mateo sembuh.
" Terima kasih Pak Adam Bu Hanum!" Ucap Bu Nina
" Sama- sama Bu!"
Setelah lama berbincang mereka lalu berpamitan untuk pulang, Adam dan Hanum pergi meninggalkan Rumah sakit menuju ke rumah Bu Dewi.
Saat ini mereka sudah ada di rumah bu dewi, Hanum begitu sedih harus berpisah dengan Ibu Dewi dan Yasmin yang sudah membantunya, Hanum sudah menganggap mereka keluarganya sendiri.
" Bu, Yasmin Hanum Pamit, terima kasih sudah menjadi keluarga Hanum." Hanum memeluk Bu dewi dan Yasmin.
__ADS_1
" Hanum , jangan pernah lupakan ibu mainlah kemari kapanpun karena rumah ini selalu terbuka untuk putri ibu." ucap Bu Dewi tulus
" Iya , Bu tentu saja Hanum pasti akan kemari!"
" Nak Adam terima kasih, atas bantuannya sekarang sekolah labih baik dengan fasilitas yang Nak adam berikan."
" Tidak perlu berterima kasih bu saya Ikhlas melakukannya untuk pendidikan anak-anak." Jawab Adam.
Adam merenovasi sekolah milik Ibu Dewi Ia juga memfasilitasi banyak komputer dan media belajar lainnya sebagai penunjang kegiatan belajar yang lebih melek teknologi, selain itu Ia menjadi donatur di sekolah Bu dewi.
Yasmin memeluk erat hanum rasanya enggan untuk melepaskannya.
" kakak, aku pasti akan merindukanmu dan Zea." Yasmin sedih
" Kalau kau mau, ayo ikut saja ke Jakarta, kau bisa bekerja di Rumah sakit Papah Ibrahim." Mendengar hal itu ingin sekali Yasmin mengiyakan tapi Ia tidak mau meninggalkan ibunya sendiri.
" Mau sih tapi? Nanti aku akan pikirkan lagi."
" Baiklah... Kami pamit yah!" Hanum dan Adam pergi meninggalkan rumah Bu Dewi menuju Bandara. Disana Jack sudah menunggunya.
**
Langkah kaki kecil masuk ke ruangan rawat Bima, Ia naik ke kursi di sebelah ranjang Bima, Ia perhatikan wajah kurus Bima.
" Jadi Kau adalah Papah Ze! Bangunlah dan ceritakan mengapa kau tidak merawatku!" Zea mengatakan itu sambil mengelus tangan Bima.
" Papah Bangunlah Zea merindukanmu. Banyak hal yang ingin zea tanyakan seperti apa Mamah Nisa. Papah jawab buka matamu..hek...hekk? " Zea menangis dalam pelukan Bima air matanya terjatuh membasahi tangan Bima.
" Apa yang kamu katakan Itu benar kalau kamu anak Papah?" Rumina bertanya pada Zea, Ia mendengar semua yang dikatakan Zea tadi pada Bima.
" Rumi Aku..?" Zea tidak melanjutkan perkataannya Ia takut Jika rumina akan sakit hati dan marah.
" Ze katakan apa kamu anak papah juga sama seperti ku!" Rumina penasaran.
" Iya Aku anak papah Bima." Zea menundukan kepalanya.
" Benarkah jadi kau memang adik ku!" Rumina bahagia mengetahui Zea adalah adiknya bukan sepupunya.
" Kau tidak marah!" Zea merasa heran pada Rumi, ia berpikir jika rumina akan marah padanya tapi ternyata Rumi sangat bahagia.
Sebenarnya Rumi sudah mengetahuinya dari Oma Lydia dan Opa Ibrahim mereka menceritakan Jika Zea adalah Adik kandungnya berbeda Ibu, Tapi Rumi ingin mendengar sendiri dari mulut Zea.
Mereka berpelukan dengan penuh rasa sayang, mereka lalu masuk kembali ke ruangan, menemui Bima.
" Papah Lihatlal Aku dan Zea adalah kakak Beradik, Jadi papah cepatlah bangun kami sayang papah." Rumina dan Zea mencium pipi kiri dan kanan Bima.
**
Tepat pukul 20.00 Adam dan Hanum sampai di Jakarta mereka langsung ke Mansion papah Ibrahim.
Mamah Lydia dan Papah Ibrahim sudah berdiri di depan pintu menyambut anak dan menantunya.
" Kalian sudah datang sayang!" Lydia memeluk Hanum dan Adam lalu membawa mereka masuk ke dalam.
__ADS_1
" Dimana anak-anak?" Tanya adam sambil melihat kanan kiri.
Tiba-tiba terdengar suara Rumina memanggil namanya, terlihat ia berlari ke arah Adam dengan girang berbeda dengan Zea yang hanya berjalan biasa saja.
" Daddy kau sudah sampai!" Rumina memeluk Adam.
" Zea kau tidak memeluk Daddy." Adam menatap putrinya , tapi Zea malah berlari ke arah Hanum.
" Mommy Zea rindu Mommy!" Hanum mengelus kepala Zea sambil melihat wajah suaminya yang kecewa.
" Mommy juga rindu sayang." Hanum mencium pipi putrinya.
" Mommy Hanum ,Rumi juga rindu!" Rumina memeluk Hanum juga sambil mengelus bayi di perut hanum.
" Mommy perutnya besar seperti perut tante Ana." Rumina dan Zea tertawa sambil mengelus perut Hanum.
Saat semua orang melangkah menuju ruang makan , Adam menarik tangam putrinya Zea, Ia lalu berjongkok mensejajarkan tubuhnya.
" Zea sampai kapan kau akan marah pada Daddy! Maafkan Daddy nak."
Adam menangkupkan tangannya di hadapan Zea.
" Zea sudah tidak marah pada Daddy, tapi ... Zea masih kecewa pada Daddy!"
Zea melepas pegangan tangan Adam dan pergi meninggalkannya.
" Mas.... Sabar , Zea pasti akan kembali, dia sangat menyayangimu." Hanum menguatkan Suaminya.
" Hem.." Jawab Adam singkat.
" Jangan bersedih seperti itu , Daddy Adam jadi jelek." Hanum menggoda suaminya.
" Kau menggoda ku!" Adam mendekatkan dirinya pada Hanum hingga tidak Ada jarak sama sekali, Ia lalu mencium bibir hanum.
Tanggannya mengelus punggung istrinya, Hingga terdengar suara deheman seseorang membuat mereka menghentikan aksinya.
" Ehem..!" Papah ibrahim melewati Mereka.
Blush .....
Wajah Hanum memerah Ia sangat malu berciuman di hadapan mertuanya , ini semua gara -gara suaminya yang jahil memulai ciuman dimana saja.
" Mas ich... Aku malu!" Hanum mencubit perut suaminya.
Adam hanya tertawa saja melihat istrinya menahan malu karena ketahuan berciuman.
" Mengapa harus malu kau istriku! Papah juga pasti mengerti." Adam menjawab dengan santai.
Hanum benar-benar kesal dengan jawaban suaminya yang begitu santai , bisa-bisanya Ia tidak merasa malu berciuman di depan orang tua. Hanum melangkah pergi meninggalkan suaminya.
" Sayang .... Sayang Tunggu!" Adam mengejar istrinya sambil tersenyum-senyum."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1