
Setelah dari pemakaman Rumina meminta pada Adam untuk menjenguk Bima.
Adam membawa Rumina ke rumah sakit, ia berjalan bersama keponakannya memasuki ruangan rawat Bima.
Saat sampai di ruangan rawat Bima ,Rumina berjalan dan memeluk Ayahnya tangisnya pecah di atas tubuh sang ayah, Ia mengatakan jika ibunya telah tiada.
" Papah mamah sudah pergi selamanya meninggalkan Rumi ..papah jangan meninggalkan rumi. cepatlah bangun Rumi merindukan papah. i love u papah."
Adam menghampiri Rumina dan mengelus rambutnya. dan mengajak Rumina pulang. Mendengar itu rumi menganggukan kepalanya.
"Cepatlah bangun kami menunggu kakak, jangan terlalu lama tidur." Adam mengelus lengan kakaknya dan berlalu pergi menyusul Rumina.
Dalam Tiga puluh lima menit Adam dan Rumina sampai di mansion, adam memegang tangan Rumi masuk ke dalam mansion.
Langkah kaki Rumi terhenti ketika melihat Opa dan Oma berada di hadapannya , terlihat oma Lydia merentangkan tangannya menyambut cucunya.
" Oma ....Opa...! " Rumina berlari memeluk omanya.
" Kau anak yang kuat anak yang baik! Yang sabar yah doakan mamah Bella agar diampuni segala dosanya." Lidia mengusap lembut punggung cucunya sesekali ia mencium Rumina.
Adam memeluk Papah Ibrahim Ia sangat bersyukur melihat papah Ibrahim terlihat sehat.
" Papah Sudah sehat." Ibrahim menganggukan kepalanya, Adam merangkul Ibrahim Ia merindukan ayahnya itu tujuh bulan tidak berjumpa karena harus mengurus dua perusahaan sekaligus.
" Adam.... Apa kabarmu nak? bagaimana dengan Hanum dan Zea."
Oma Lidia memeluk putra keduanya.
" Mereka baik mah begitu juga dengan calon bayi kami." Adam Tersenyum bahagia.
" Bagaimana dengan Bima!"
" Ka Bima masih sama, kita doakan agar ka Bima segera sadar."
" Aamiin." Ucap semua orang bersamaan.
**
Satu minggu telah berlalu hari ini adalah hari terakhir ujian, semua siswa bersemangat menyelesaikan soal ujian karena ingin segera berlibur.
Tret....tret suara bel berbunyi menandakan ujian telah selesai.
Semua siswa mengumpulkan lembar jawaban.
Setelah semua siswa mengumpulkan lembar jawabannya mereka keluar ruangan beriringan saat hanum keluar Ia dikagetkan dengan kedatangan beberapa orang yang membawa senjata.
Semua siswa ketakutan mereka semua di giring masuk kembali kedalam ruangan.
" Siapa kalian jangan sakiti anak-anak lepaskan mereka."
Hanum tidak kuasa para pria bersenjata itu menyeretnya juga dan memasukan dirinya bersama yang lainnya dalam satu ruangan yang sama.
Di dalam ruangan itu terlihat para siswa ketakutan. Begitupum dengan Hanum dan Bu Dewi.
" Hanum mereka siapa?" Ibu Dewi menghampiri Hanum.
__ADS_1
" Aku tidak tau bu, dimana Zea." Hanum mencari-cari Zea dan yasmin yang tidak ada di sana.
Namun tiba-tiba pintu terbuka terlihat Zea dan Yasmin di seret, di belakang mereka terlihat Mateo yang mencoba melawan pria yang membawanya.
" Jangan coba-coba melarikan diri dari sini jika tidak ingin nasib kalian sama seperti pria tua itu." Ucap seorang pria mengenakan jaket hitam dan senjata api di tangannya.
Hanum dan Bu dewi melihat ke arah luar , mereka berdua sama- sama menutup mulutnya melihat tubuh kaku pa Wahyu penjaga sekolah yang bersimbah darah.
" Ya Allah Pa Wahyu." Bu dewi dan Hanum bersamaan menangis melihat pa wahyu yang tertembak.
Lalu Hanum berjalan ke arah Zea yang terduduk bersama Yasmin dan Mateo, terlihat wajah mereka terlihat ketakutan sepertinya mereka menyaksikan pa Wahyu di tembak.
" Ze sayang, ini mommy ,Zea lihat mommy. Ze." Zea terdiam tangannya gemetar ia ketakutan.
Hanum membawa putrinya dalam pelukannya mencoba menyadarkan Zea dan memberikan kenyamanan agar rasa takutnya hilang.
" Ada apa dengan Zea." Bu Dewi mendekat ia mengelus kepala Zea.
" Tadi kami mencoba untuk keluar. Tapi para penjahat itu menembak pa wahyu ...hek ....hek" Yasmin menceritakan dengan suara yang bergetar.
Hanum melirik kearah mateo anak itu meski usianya masih kecil tapi di berani melawan para penjahat.
" Mateo kau baik-baik saja." Hanum melihat Mateo sudut bibirnya berdarah karena tadi dia sempat memberontak.
" Aku baik-baik saja Miss." Ucap Mateo lemah. Memdengar Mateo Hanum merasa tenang karena anak itu dalam keadaan baik. Ia menatap ke arah luar berharap suaminya bisa mendengarnya
Mas Adam cepat kembali , aku takut tolong kami.
Buliran bening jatuh di pipi putihnya.
**
" HANUM .....ZEA!" Adam berteriak saat membuka matanya , ia tadi tertidur di ruang kerjanya selepas menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda kemarin. Ia menatap jam dinding yang menunjukan pukul 12 malam.
Ada apa mengapa hatiku tidak tenang.
Adam mengambil ponselnya Ia menekan tombol dan menghubungi seseorang yang di tugaskan mengawasi Hanum.
Orang itu mengatakan jika Hanum baik-baik saja. Saat telpon terputus, anak buah Adam yang di tugaskan untuk menjaga Hanum di todongkan pistol di belakang kepalanya ia di ancam jika berani melaporkan, maka nasibnya akan sama dengan teman-temannya yang sudah mati terbunuh.
Flashback on
Malam itu saat para narapidana lainnya sudah terlelap tidur Aldo membuka matanya Ia berjalan pelan mengambil sesuatu yang tadi diberikan oleh Ayahnya.
Ia membuka bungkusan kecil berisi 3 butir pil.
" Ayo Aldo kau harus berani.. sakitnya hanya sebentar bukan."
Tanpa ragu Aldo menelan 3 pil tersebut bersamaan ia tampak kesulitan menelan, setelah memukul mukul dadanya akhirnya obat tersebut tertelan.
" Oke tinggal menunggu obatnya bereaksi."
Lama Aldo menunggu reaksi obat yang akan membuat perutnya terasa sakit.
Hingga 15 menit berlalu ia mulai merasakan perutnya seperti di tusuk ribuan pisau, ia memegang perutnya sambil berteriak meminta tolong.
__ADS_1
" Achhhhhhhhh....... sakit tolong."
Aldo berguling-guling di lantai penjara membuat teman satu selnya terbangun dan melihat cemas Aldo.
" Hei kau kenapa?"
" Tolong ....tolong aku perutku sakit. Achhh...."
Keringat membasahi tubuh aldo terlihat wajahnya memerah menahan sakit yang luar biasa.
" Pak sipir tolong, Ada yang sakit di sini." Teman satu sel Aldo memukul-mukul pintu agar penjaga mendengar suaranya.
Tidak lama para penjaga datang mereka langsung membawa Aldo ke ruang kesehatan untuk di obati.
Dokter jaga di sana tidak sanggup, ia merujuk Aldo untuk di bawa ke rumah sakit besar.
Mendengar hal itu dalam keadaan sakit Aldo tersenyum devil rencanya bisa berhasil untuk melarikan diri.
Sebuah mobil ambulance membawa Aldo untuk di larikan ke rumah sakit besar Ia di temani 2 orang polisi dan satu perawat.
Mobil melaju dengan cepat saat melewati tikungan , sebuah mobil Jif hitam menyelip ambulance dan menabraknya dengan sengaja hingga mobil ambulance tersebut oleng dan menabrak pembatas jalan.
Cekeeetttt.... BRUGH...
Terlihat asap mengepul pada mobil tersebut, joan Asisten Aldo dan beberapa pria bertubuh besar membuka pintu belakang ambulance.
Tanpa ragu dan rasa kasihan, Joan menembak polisi dan perawat yang ada di dalam ambulance.
Sedangkam supir ambulance dan satu polisi yang duduk di depan sepertinya sudah tiada akibat benturan kuat.
Joan di bantu anak buahnya membawa Aldo kedalam mobil mereka, terlihat Aldo masih dalam keadaan pingsan.
" Ayo cepat sebelum polisi datang kita harus bergegas."
Mereka berlalu pergi membawa aldo dengan cepat.
Flashback end
***
Adam turun bersama Rumina, karena dari sejak semalam terlihat keponakannya itu murung sehingga membuat Adam harus membujuknya untuk turun sarapan bersama Opa dan Oma.
Belum sempat duduk Adam melihat Ardi dan Bagas datang bersamaan.
" Tuan maaf mengganggu."
Bagas dan Hardi menundukan kepalanya menyapa tuan dan Nyonya besarnya.
" Ada apa." Ucap Adam dingin.
" Aldo kabur dari penjara."
"Apaaa......."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1