
" Aww.....!" Hanum meringis merasakan ngilu pada perutnya mendapatkan tendangan dari bayinya, membuatnya terbangun setelah berolahraga bersama suaminya tadi.
Adam merasakan pergerakan membuatnya terbangun juga.
" Ada apa ? Ada yang sakit?" Adam mencemaskan Hanum.
"Tidak apa-apa mas! Anakmu memang selalu menendang jika merasa lapar." Hanum tersenyum hingga menunjukan deretan gigi putih dan rapih.
" Anak daddy lapar? Atau mommynya yang lapar karena ...." Ucap adam sambil menaik turunkan alisnya, membuat hanum terkikik geli melihat tingkah suaminya yang menggemaskan.
" Dua-duanya." Jawab Hanum sambil beranjak dari kasur namun tangannya di tarik adam.
" Biar aku saja yang menyiapkan makanan kalian hem."
" Memangnya Tuan CEO sudah pandai memasak."
" Kau meragukan suamimu."
Mereka berjalan menuju dapur, rumah yang kecil sangat cepat melangkah ke dapur yang berdekatan.
" Duduklah Bumil diam saja, di mulai hari dan seterusnya biar suamimu yang melayani. Tapi ..... dengan satu syarat."
" Apa itu ?" Hanum mngerutkan keningnya.
" Ka harus sering hamil, Lahirkan banyak anak dariku." Adam berbisik pelan di telinga hanum lalu mencium pipi Hanum lembut.
" Mas , memangnya aku kucing! " Hanum memukul lengan suaminya sambil tertawa bahagia mendapatkan perlakuan cinta dari suaminya.
Adam membuka lemari es ia mengambil beberapa bahan makanan yang akan Ia buat untuk istrinya.
" Mas memangnya mas bisa memasak, sejak kapan?" Hanum tidak percaya jika Adam yang tidak bisa menggoreng telor , seketika menjadi lihai memasak.
" Iya aku belajar saat kau pergi, aku tidak bisa makan dengan masakan orang lain. Aku hanya bisa makan dengan makanan yang aku buat sendiri."
Adam berbicara tanpa melihat ke belakang, di sana istrinya sudah berlinang air mata karena merasa bersalah.
Adam juga menceritakan jika dirinya mengalami hamil simpatik, selama 4 bulan ia harus bolak- balik rumah sakit karena sering muntah membuatnya dehidrasi.
"Itu sebabnya mas mengetahui jika aku sedang mengandung anakmu!" Ucap Hanum sambil mengelap air matanya.
" Iya, dan kau tahu saat aku tau kau sedang hamil dan aku merasakan mengidam aku tidak merasa kesusahan justru aku bahagia meski kau jauh tapi aku masih bisa merasakanmu, Dan bayi kita menjadi penyemangat untuk ku untuk bangkit menyelesaikan semua permasalahan di perusahaan dan masalah keluarga."
Jawab Adam yang masih berkutat dengan masakannya tanpa menengok pada istrinya yang sedang menangis.
Hanum berjalan mendekat suaminya lalu memeluk Adam dari belakang sambil menangis tersedu-sedu, ia juga merasa aneh mengapa setelah berjumpa dengan suaminya mudah sekali menangis.
__ADS_1
" Hek.....hek....hek... Maafkan aku mas , yang sudah berburuk sangka padamu, membuatmu menderita. Maaf , maafkan aku mas."
Hanum menangis di punggung bidang suaminya hingga pakaian Adam basah oleh air mata istrinya.
" Sayang sudah aku katakan yang lalu biarlah berlalu, aku sudah memaafkanmu , jadi berhentilah meminta maaf padaku. Jangan bersedih tidak baik untuk ibu hamil."
Adam mematikan kompor dan membawa istrinya duduk di kursi makan sedangkan dirinya berjongkok sambil memegang tangan Hanum dengan lembut.
" Aku malu mas pada papah dan mamah mereka pasti marah padaku. "
" Hei.... mamah dan papah tidak marah padamu mereka justru menyuruhku untuk segera menemukan menantu kesayangannya yang membawa lari pewaris Wijaksono." Adam merapihkan rambut hanum.
" Benarkan mas tidak bohong kan!"
" Tidak sayang besok aku akan telpon mamah dan papah hem."
" Bagiamana keadaan papah?"
Adam menarik napas dan membuangnya kasar, ia baru menyadari jika banyak hal yang belum diketahui istrinya.
" Mas ada apa? Mengapa kau diam!"
" Sayang selama ini mengapa kesehatan papah menurun itu karena..... Racun yang di berikan oleh Bella."
" Apaaa! Racun?" Hanum terkejut ia tidak menyangka jika Bella tega melakukan hal itu.
Hanum tidak menyangka masalah yang sudah Ia buat mengakibatkan kesulitan untuk suaminya. Ia juga masih tidak percaya jika Aldo dan Bella bekerja sama untuk menguasai perusahaan W Corp dan menghancurkan Adam. Tapi ia bersyukur jika Aldo dan Bella bisa mendapatkan hukumannya.
" Kasihan Rumi, lalu dia sekarang dengan siapa jika Ibunya ada di penjara."
" Dia tinggal bersamaku, tapi saat ini aku titipkan pada Arka."
Adam hendak berdiri namun hanum menariknya dan menyuruhnya duduk di dekatnya.
" Jangan dulu pergi, ceritakan juga tentang Alya aku merindukannya." Hanum memohon pada suaminya.
" Alya sahabatmu sudah bahagia sayang bersama Ardi, sekarang Kau tidak perlu khawatir mereka sudah menikah, sudah satu minggu mereka pergi berbulan madu sedang mencetak anak." Ucap Adam sambil menyentuh perut buncit istrinya itu.
"Benarkah bukankah Tanye Widya tidak merestui."
Adam menceritakan bagaimana tante widya menyetujui pernikahan Ardi dan Alya, Tante Widya akan merestui pernikahannya jika Ardi berhenti menjadi Asisten Adam dan mau mengurus perusahaan ayahnya.
Hanum menganguk-anggukan kepalanya wajahnya terlihat bahagia ia merasa senang jika Alya bisa menikah dengan cinta pertamanya.
" Sudah yah ceritanya, bukan kah kau lapar?" Adam berdiri dan memasukan spaghetti buatannya pada piring keramik berwarna hijau.
__ADS_1
" Bagaimana keadaan Kak Bima?" Tanya Hanum.
Pertanyaan barusan membuat Adam menghentikan aktifitasnya, Ia menyimpan piringnya kembali. Adam sengaja tidak membahas Bima ia tidak ingin memaksa Hanum untuk memaafkan perbuatan kakaknya.
" Kak Bima masi koma , setelah kecelakaan itu ia belum sadarkan diri." Jawab adam lirih.
" Mas Aku akan memaafkannya!" Hanum dengan tegas mengutarakan kata maaf untuk Bima.
" Aku sudah menyadari menyimpan kebencian membuatku menderita."
" Apa kau yakin, Aku tidak ingin jika kau terpaksa memaafkan kakaku."
" Aku yakin Mas, Ia harus mendapatkan kesempatan kedua. Dan aku akan memaafkannya."
" Benarkah, terima kasih sayang" Adam begitu bahagia ia memeluk istrinya itu.
" Mas, zea juga sudah tau jika aku adalah adik dari ibunya. "
" Kau menceritakannya? "
" Dia tahu sendiri, saat melihat photo ku dan kak Nisa. Itu sebabnya Ia mau ikut pergi denganku."
" Tapi aku tidak pernah menunjukan photo Nisa padanya." Adam heran karena dirinya tidak pernah bercerita mengenai Nisa pada Zea.
" Kak Bima yang menunjukkan photonya dan menceritakan tentang ibunya."
Terlihat Adam mengangguk- anggukan kepalanya.
" Mas , kau akan memberitahu kebenarannya jika Bima adalah ayah kandung Zea."
Mendengar ucapan istrinya Adam terdiam, Ia merasa belum siap, tapi Zea berhak mengetahui kebenaran jika dirinya bukan ayahnya.
" Aku akan ceritakan tapi tidak sekarang!"
Hanum menganggukan kepalanya dan membelai wajah suaminya yang tampan.
" Oh ya Ampun aku hampir lupa spaghetimu sayang." Adam memasukan sisa spaghetti dari wajan ke piring tadi, lalu membawa pada sang istri yang sudah kelaparan.
Mereka makan bersama sambil mengobrol menikmati kebersamaan yang sempat hilang.
**
Di rumah sakit tempat Bima di rawat
Terlihat Bima berbaring lama di ranjang rumah sakit. Tampak di sudut matanya mengeluarkan cairan bening, dan sudut bibirya naik dan tersenyum tipis.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...