
vop Hanum
Aroma tubuh maskulin, hembusan nafas yang terasa menembus kulitku, pelukan hangatnya, kurasakan ketika ia mengelus punggung ku seolah mengatakan jika aku baik-baik saja
Ku buka mata yang sempat aku tutup karena takut, terasa cahaya mulai memasuki mata yang ku buka, seperti lampu sorot yang mengarahkan pada sosok pria tampan yang berada dihadapanku.
Aku tidak menyangka jika pria itu Adalah orang yang Aku rindukan, yang ku benci namun tetap ku cinta, perasaan yang beraneka ragam dalam hatiku mengisi penuh hingga membuatku ingin menghapus salah satunya.
Anehnya aku malah semakin terpesona melihat wajah tampannya yang semakin tampan , setelah lama berpisah mas Adam mengapa lebih tampan? Oh tidak apa yang aku pikirkan.
Vop End
" You are okay!" Adam menatap lekat wajah istrinya dengan rasa cemas yang terpancar pada raut wajahnya.
Hanum hanya menganggukan kepalanya, rasanya lidahnya menjadi membeku seolah tak bisa berbicara.
" Hei tuan cepat pergi dari sini! Jangan coba-coba menghalangi kami." seorang preman dan tubuh tinggi besar berkulit gelap menghampiri Adam.
Adam yang mendengar preman itu langsung melepaskan pelukannya dari Hanum.
Adam berjalan mendekati preman bertubuh besar itu sambil membuka jas dan melemparkannya asal, lalu melinting kemejanya hingga ke atas siku, membuat hanum semakin terpana melihat suaminya yang tampak terlihat gagah sekali.
" Sudah lama aku tidak berkelahi, kalian mau menemaniku!" Adam tersenyum smirk kepada para preman yang mulai tersulut pada Adam yang menantangnya.
Tanpa ba bi bu para preman itu bersamaan memukul Adam , dengan sigap Adam berhasil lolos, ia meloncat dengan pijakan sebuah bangku lalu ia arahkan tendangannya kepada ke lima preman itu yang terjatuh bersamaan.
Semua siswa bersorak riang ketika Adam berhasil memukul para preman itu terutama Zea dan Mateo yang berteriak memberikan semangat untuk Adam.
" Ayo Daddy , Daddy Hebat!" Zea dan Mateo serta anak anak lainnya seolah menjadi cheerleaders.
Para preman semakin marah, mereka membalas pukulan Adam , Adam terkena pukulan preman yang bertubuh besar.
Ia bangkit kembali dengan sudut bibir yang berdarah, membuat Zea dan Hanum khawatir.
Pertarungan semakin sengit , dengan lihai Adam berhasil mengelak dari setiap pukulan preman itu. Adam yang pandai berkelahi membuat satu persatu dari mereka kewalahan, berkali-kali ia layangkan tendangan dan tinjunya pada para preman hingga membuat dua diantaranya ambruk menghantam meja hingga mejanya hancur membuat preman itu tidak sadarkan diri.
Kini tinggal tiga preman lagi yang masih bertahan.
" Arghhhh..... Kau bajingan!" Pekiknya ia mengambil kursi dan menghantamkan ke bahu Adam.
" Achhh!" Adam meringis mendapat pukulan dari belakang semua orang di sana cemas karena bahu Adam mengeluarkan darah.
Mendapatkan pukulan dari belakang Adam berbalik dan memukul balik preman itu hingga terkapar di tanah. Tinggal sisa dua preman yang sedang mengeluarkan pisau lipatnya hendak menusuk Adam, dari jauh Mateo memanggil Adam dan melemparkan balok kayu ke arahnya.
" Thank you mateo." Ucap Adam sambil mengangkat jari jempolnya ke arah Mateo dan tersenyum, Mateo membalasnya dengan mengacungkan jempolnya ke udara juga.
Adam berlari ke arah dua preman itu yang bersiap denga pisaunya , dengan cepat Adam menggunakan balok dan menghantamkannya pada wajah kedua preman dengan sekali hantaman preman tersebut tumbang, dari hidung mereka keluar darah segar membuat mereka menjerit ketakutan dan berlari bersama terbirit-birit meninggalkan sekolah.
" Yehhhh.......... Kita menang ...Zea's dad is the best." Sorak sorai semua siswa yang berlari ke arah Adam dan mengelilinginya.
Begitupun dengan Zea Ia berlari ingin segera memeluk Daddy Adam.
" Daddy....... Daddy....... Daddy!" Zea meloncat ke arah Adam dan memeluknya erat.
__ADS_1
" Zea , Daddy merindukanmu , mengapa kalian pergi meninggalkan Daddy hem.... !" Adam memeluk erat zea dalam gendongannya.
" Maaf daddy , Zea tidak bisa meninggalkan mommy , kasihan mommy jika pergi sendirian." Zea memegang wajah Adam dan menciuminya melepaskan semua rindu kepada ayahnya.
Sedangkan Hanum Ia melangkah mundur dan meninggalkan halaman sekolah ia pergi ke belakang sekolah dan duduk di kursi kayu yang menghadap ke pantai , ingin menenangkan hatinya yang sejak tadi tidak menentu.
Adam menurunkan Zea ia melihat sekeliling mencari Hanum yang tidak ada.
" Om mencari miss Hanum, Ia ada di sana!" Ucap Mateo mengangkat jari telunjuknya ke arah Hanum berada. Adam merasa lega ia takut jika istrinya itu akan pergi lagi.
Hanum berdiri menatap pantai, namun tiba-tiba ia merasakan tangan kekar memeluk nya dari belakang dan mengusap pelan perut buncit hanum.
Hanum merasakan kenyamanan saat Adam memeluknya dan menyapa buah hati mereka. Terasa bayi kecil mereka menendang perut Hanum seolah menyapa sang Daddy yang telah datang.
" Ha..ha Dia menendang!" Adam bahagia, akhirnya ia bisa merasakan tendangan bayinya secara langsung, air mata turun dari matanya menetes membasahi leher hanum.
Hanum menyadari jika suaminya sedang menangis, ia masih tetap terdiam dan membisu, hening tanpa ada yang bersuara. Hingga Adam memulai dengan mengeluarkan suaranya.
" Aku merindukan kalian, mengapa kau pergi tanpa mencari tahu kebenarannya." Ucap Adam melepas pelukannya dan membalik tubuh Hanum hingga mereka saling berhadapan.
" Kebenaran apa? Kebenaran jika kau seorang laki-laki pengecut, berengsek yang tega menghancurkan masa depan kakakku dan meningalkannya." Hanum mulai tersulut emosi ia mengeluarkan semua kemarahannya pada Adam.
Adam hanya terdiam ia membiarkan istrinya itu terus berbicara, mulutnya berkomat-kamit seperti melafalakan mantra.
Cup
"Hmmmpppp....." Adam ******* bibir istrinya yang baginya terlihat menggoda saat berbicara.
" Lepas.....!" Hanum menghentikan ciuman itu ia mendorong dada bidang suaminya.
Adam memeluknya meski Hanum berontak.
" Aku mohon dengarkan penjelasanku!"
" Apa yang ingin kau jelaskan semua sudah jelas, kau tau aku sangat menderita saat aku tau jika kau adalah laki-laki yang membuat kak Nisa menderita."
Hanum terus saja berbicara tanpa mau mendengar penjelasan Adam, membuat Adam emosi dan membentaknya dengan Keras.
" Hanum! Zea bukan anak Kandungku. Dia anak Ka bima dan Nisa kakakmu!"
Adam merasakan kelegaan sudah mengatakan kebenaran pada Hanum.
Sedangkan Hanum menatap Adam , mencerna dari setiap kata yang tadi Adam Ucapkan, rasanya kalimat itu berdengung dengan terus menerus. Adam mengguncang tubuh Hanum agar Ia sadar bahwa dirinya mengatakan yang sebenarnya.
" Aku bukan Ayah Zea, ku mohon ijinkan aku menceritakan semuanya. Kau sudah salah faham selama ini, informasi yang kau dapat dari Jack itu bohong karena Jack ingin kau bisa membenciku untuk melancarkan balas dendam kepadaku." Adam menjelaskan segalanya pada hanum.
Sementara Hanum ia masih tidak percaya, tapi jujur mendengar hal itu ia merasa bahagia karena Adam bukan orang yang menyakiti Nisa kakaknya.
" Lalu Zoya apa yang kau lakukan pada perempuan itu." Terlihat di wajah Hanum yang masih belum mempercayainya.
Adam lalu meronggoh ponselnya dan menempelkan pada telinganya, Ia memanggil sesorang untuk datang ke tempatnya.
Kau sudah sampai datanglah kemari.
__ADS_1
Adam langsung menutup panggilannya. Tidak lama dari Adam menutup panggilan terlihat seorang pria dan wanita datang menghampiri Hanum dan Adam.
Hanum merasa aneh melihat pria yang seolah mengenalnya, sedangkan yang wanita ia sama sekali tidak kenal, tapi terlihat wanita itu tampak begitu akrab dengan Adam hingga mereka saling tersenyum. Hanum merasakan cemburu pada wanita tersebut.
Dasar laki-laki tidak bisa memegang ucapannya.
" Nona Hanum apa kau tidak mengenaliku" Tanya si Pria yang memakaikan Masker hitam di mulutnya.
" Jack kau ...." Hanum heran mengapa Jack bisa berada di sini.
" Jack jelaskan semuanya pada istriku , kau yang membuat kebohongan ini!" Jack mentertawakan Adam yang tampak pusing meyakinkan Hanum.
" Oke.... Mengapa? kau tidak bisa meyakinkan istrimu?" Jawab Jack meledek.
Melihat keakraban meraka membuat hanum semakin di buat heran, bukannya Jack membenci Adam.
" Tunggu dulu kalian mengapa bisa menjadi akrab, bukankah kau membencinya." Tanya Hanum.
" Maaf Aku sudah berbohong tentang Adam padamu!"
Jack menceritakan kebenarannya pada Hanum, Ia menjelaskan jika dirinya juga sudah di bohongi oleh Aldo, kebenarannya adalah Adam di fitnah oleh Aldo. Ia menjadikan Jack dan Hanum sebagai alat melancarkan balas dendamnya.
Hanum terduduk di kursi kayu Ia merasa malu pada Adam orang yang selama ini Ia benci ternyata adalah pria yang baik.
" Ka Hanum, Ka adam orang yang baik, jika malam itu ia tidak menyelamatkan aku mungkin saat ini aku sudah tiada."
" Siapa kamu?" Hanum bertanya pada wanita yang mengatakan jika Adam pria baik.
" Aku Zoya." Hanum untuk kesekian kalinya dibuat terkejut kembali.
" Bukankah Kau...." Belum sempat hanum melanjutkan ucapannya namun Jack memotongnya.
" Dia masih Hidup dan Adam yang membantunya." Jack menceritakan mengenai zoya dimulai Ia dilecehkan oleh Aldo hingga di siksa dan tubuhnya di buang, lalu di selamatkan Adam.
Mendengar penjelasan itu Hanum semakin malu ia menundukan kepalanya enggan menatap Adam yang berdiri di hadapannya.
Adam memberikan kode pada Jack dan zoya untuk pergi meninggalkan mereka.
Setelah Jack dan zoya pergi, Adam berjongkok memegang tangan putih istrinya menaruh di pipinya.
" Sayang, maafkan aku... Aku mohon jangan pergi lagi tetaplah di sisiku merawat anak kita, membuka lembaran baru yang bahagia mari kita menua bersama." Ucap Adam tulus.
Hanum masih menundukkan kepalanya Bahunya bergetar ia sangat malu pada adam.
" Aku tidak pantas untukmu mas aku orang yang jahat, Maaf!"
" Ssstttt!Jangan berkata seperti itu, Aku sangat mencintaimu!"
Adam duduk di samping hanum mengangkat wajah Hanum menarik tengkuknya dengan lembut dan ******* bibir istrinya, mendapat ciuman hangat suaminya Hanum membalas ciuman itu hingga mereka saling bertukar saliva menyalurkan rasa rindunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Dukung author ya dengan meningalkan jejak
Like , komen dan vote 🙏🏻