Pelabuhan Terakhir Sang Playboy

Pelabuhan Terakhir Sang Playboy
Bab 13


__ADS_3

Erni kerasa sedih dengan sikap Cello yang lagi-lagi cuek kepadanya, Cello berpura-pura tidak melihat Erni, Tya yang menyusul dari belakang melihat ekspresi Erni yang tidak bersahabat kepadanya namun ia tidak peduli.


Setibanya di rumah Cello langsung menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri, karena dia merasa sangat gerah, namun handphonenya tidak berhenti berdering, dan ternyata Erni yang menghubungi dirinya.


“Ada apa?” tanya Cello.


“Kenapa kamu berubah, di kantor kamu malah cuek ke aku, dan parahnya lagi aku dapat marah sama ibu Tya kamu hanya diam,” ucap Erni yang sedikit emosi.


Cello memijit keningnya karena dia sedikit pusing menghadapi Erni yang menurutnya ke kanak-kanakan.


mana lagi telfon dari Windi tambah membuat Cello pusing, bukan hanya Windi dan Erni yang menghubungi Cello namun dia selalu mengabaikannya.


“Erni, kamu tau kan, itu kantor nggak mungkin dong kita kayak di taman bermain,” ucap Cello sedikit emosi.


Erni tidak menerima nasehat Cello, akhirnya Erni meminta kepada Cello untuk putus, dan langsung memutuskan sambungan teleponnya, Cello langsung membuang handphonenya ke atas tempat tidur, dan segera masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.


“Cello..., kamu nggak turun makan nak?” tanya mama Dita mengetuk pintu kamar Cello.


“Ia sabar ma, sedikit lagi aku turun,” jawab Cello dari dalam kamarnya.


Mama Dita langsung kembali turun menuju meja makan, di sana Chaim dan papa Adit sudah menunggu mereka.


“Cello mana ma?” tanya papa Adit.


“Dikit lagi dia turun,” jawab mama Dita sambil mengambilkan makanan untuk papa Adit dan juga Chaim, tidak lama Cello akhirnya ikut bergabung dengan mereka, seperti Chaim, mama Dita juga mengambilkan makanan untuk Cello.


Mereka berempat akhirnya menikmati makan malam, tapi kali ini cello tidak banyak ngomong, dia hanya fokus pada makanannya.


Setelah makan malam selesai, papa Adit dan kedua anaknya duduk di ruang tamu, mereka berbincang-bincang mengenai pekerjaan mereka, sedangkan mama Dita membantu bibi untuk membersihkan meja makan, mama Dita selalu begitu, biarpun bibi mereka melarangnya namun mama Dita tetap memaksanya untuk membantu mereka.

__ADS_1


Tidak lama cello pamit untuk ke kamarnya, karena dia ingin menghubungi Ema, wanita yang selalu menghantui pikirannya, wanita yang dia temui di cafe.


Sedangkan Chaim masih asik mengobrol dengan mama dan papanya, karena waktu untuk berkumpul dengan ke dua orang tuanya, hanya di malam hari karena mereka semuanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, kecuali mama Dita.


Di dalam kamar cello malah menghubungi Ema.


“Halo, selamat malam, udah pulang kerja?” tanya Cello saat sambungan teleponnya di angkat oleh Ema.


Mereka berdua asik mengobrol lewat sambungan telepon, Cello sangat bahagia karena akhirnya bisa mengobrol dengan wanita yang selalu mengganggu pikirannya, sampai-sampai ia mengabaikan kekasihnya yang lain.


Cello dan Ema mengobrol hingga larut malam, Cello merasa nyaman dan nyambung saat mengobrol dengan Ema, cello juga sempat mengajak Ema untuk makan siang bersama besok, namun Ema tidak bisa sebab ia akan bertemu dengan customernya.


Walaupun sedikit kecewa namun cello bisa mengerti dengan pekerjaan Ema, dia juga kadang seperti itu tidak, terkadang menolak ajakan makan siang dari kekasih atau teman-temannya, karena harus bertemu dengan rekan bisnisnya.


Karena sudah ngantuk akhirnya Ema pamit dan memutuskan sambungan telepon mereka, begitu juga dengan Cello, dia juga sudah merasa ngantuk, apa lagi besok pagi ia akan menghadiri meeting bersama papa Adit dan juga Tya.


💕💕💕


“Cello, ayo bangun nak, kata papa pagi kalian ada meeting,” ucap mama Dita membangunkan Cello.


“Ini udah jam berapa ma? kayaknya aku baru tidur deh,” jawab cello dari balik selimut.


“Udah jam enam sayang, emangnya semalam ngapain sampai telat tidur?” tanya mama Dita sambil membuka gorden jendela kamar Cello.


Cello terpaksa bangun dan langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan mama Dita menyiapkan baju kerja untuk Cello, bukan hanya Cello yang di perlakukan mama Dita begitu, namun Chaim juga, dua-duanya selalu mendapatkan perhatian yang sama, walaupun mereka sudah dewasa, namun di mata mama Dita mereka berdua masih anak kecil yang butuh perhatian darinya.


“Cello..., bajunya mama udah siapkan, cepat mandinya dan segera turun sarapan nanti kalian telat,” teriak mama Dita kembali kepada Cello.


mama Dita langsung meninggalkan kamar Cello dan turun membuatkan kopi untuk suami dan anak-anaknya, di meja makan sudah ada Chaim yang lagi menikmati secangkir kopi buatannya sendiri.

__ADS_1


“Aduh, maafkan mama sayang, mama belum membuat kamu kopi” ucap mam Dita.


“Tidak apa-apa ma, aku sudah membuatnya sendiri,” jawab Chaim.


Tidak lama papa Adit dan juga Cello datang, mereka langsung sarapan, karena sedikit lagi terlambat, begitulah rutinitas mereka tiap hari.


Ema yang sedikit telat bangun karena hampir larut malam baru ia tidur, dia sudah mulai terbiasa bangun menyiapkan sarapannya sendirian, kadang rasa sedih kembali melintas di benaknya, kalah mengingat waktu indah bersama sang papa dan juga mamanya.


Terkadang air mata Ema menetes begitu saja, saat dirinya mengingat kebahagiaan dengan kehadiran kedua orang tuanya, namun takdir berkata lain, cinta pertamanya yaitu sang papa harus pergi menghadap sang Pencipta dengan begitu cepat.


Ema turun ke lantai bawah, dan menatap kamar kedua orang tuanya yang sudah kosong, namum seperti biasa, Ema selalu membuka kain gorden jendela kamar, agar matahari pagi masuk ke dalam kamar, tempat tidur yang begitu rapih, barang-barang papa Arman dan juga sebagian barang-barang milik mama Ayu, sengaja mama Ayu tidak membawanya.


Ema akhirnya meninggalkan kamar orang tuanya dan menuju dapur untuk membuat sarapan, karena hanya dia sendirian terpaksa Ema membuat roti dan susu hangat untuk dirinya, karena dirinya akan bertemu dengan customernya.


Pagi ini Ema juga mendapatkan pesan dari Cello namun ia belum membalasnya, karena lagi sibuk mengurus dirinya sendiri.


Di kantor seperti biasa Cello dengan muka cueknya, apa lagi saat dirinya bertemu dengan Erni, Cello langsung melihat ke arah yang lain, mengingat semalam Erni sudah memutuskan hubungan mereka, Cello tidak ada rasa menyesal atau apalah.


Sedangkan Erni merasa sedikit bersalah karena sudah memutuskan hubungannya dengan Cello, dia ingin sekali menghampiri Cello dan meminta maaf namun dia takut kepada Tya, Erni juga menghubungi Cello namun nomornya sudah di blokir oleh Cello semalam.


Erni memutuskan hubungannya dengan Cello karena emosi, tetapi bagi Cello itu yang lebih baik, dari pada mereka berdua sering bertengkar, karena keegoisan Erni sendiri.


💕💕💕


Hai kak jangan lupa tinggalkan jejak, lewat like dan komentarnya.


Terimakasih🙏🤗😘


Bersambung💕💕

__ADS_1


__ADS_2