
Di rumah Adit dan Dita, keluarga mereka semuanya sudah pada berkumpul, karena hari ini Chaim akan melamar Rere, sesuai dengan jam yang telah disepakati, semua keluarga sudah pada berkumpul di rumah keluarga Adit.
“Bagai mana, apa semuanya sudah pada siap?” tanya opa Lukman kepada mereka.
“Sudah ayah,” jawab Adit.
Mereka akhirnya menuju rumah keluarga Rere, kali ini Cello yang mengemudi mobil untuk mama, papa dan kakaknya, sedangkan yang lain menggunakan mobil masing-masing.
Tidak terasa rombongan mereka akhirnya tiba di rumah Rere, mereka langsung di sambut oleh keluarga besar dari Rere, acara lamaran yang berjalan dengan lancar tidak ada kendala sedikitpun dari kedua belah pihak, Cello yang duduk di luar bersama dengan Lintang. Linzy yang kaget melihat pak Rifki, yang notabene HRD di kantornya.
“Ternyata papa Adit besanan dengan pak Riski?” bisik Linzy kepada ibunya.
“Ia sayang,” balas ibu Mia.
Linzy hanya mengangguk setelah mendengar jawaban dari ibunya. acara lamaran udah selesai, tanggal pernikahan juga sudah di tentukan, semuanya sudah mendapatkan tugas masing-masing. kini saatnya untuk menikmati makanan yang di siapkan oleh keluarga Rere.
Dita sempat mempertanyakan keberadaan sahabatnya Arman kepada Lia, yang sudah lama kehilangan kontak dengannya, namun seperti dengan Dita, Lia juga tidak mengetahuinya, sudah lama ia menghubungi nomor namun selalu tidak aktif, Dita dan Lia sebenarnya menginginkan acara lamaran kedua anak mereka di hadiri oleh sahabatnya, namun mereka berdua tidak berhasil, Dita sampai mendatangi rumah kontrakan Arman dahulu namun sudah kosong, kata pemilik kontrakan Arman sudah lama pindah.
🌠🌠🌠
Ema dan karyawannya menghabiskan liburan mereka dengan berjalan-jalan di sebuah tempat rekreasi, mereka bersenang-senang menghilang lelah dan letih yang mereka rasakan, Ema sangat mengerti dengan karyawannya, makanya dia juga di sukai parah karyawannya, karena sudah menjelang sore akhirnya mereka memilih untuk pulang ke rumah masing-masing, dengan hati yang gembira, karena sudah melewati hari yang spesial bisa melepaskan rasa lelah dan letih mereka, besok mereka akan kembali bekerja seperti biasa.
Begitu juga dengan Ema, dia rasa bahagia karena sudah mengajak karyawannya untuk berekreasi, baru saja membuka pintu rumah handphonenya sudah berdering, Ema segera mengeceknya dan ternyata Cello, Ema langsung mengangkatnya.
“Halo...,” sapa Ema dengan sopan.
“Halo, akhirnya kamu mengangkatnya juga, sekian lama aku menghubungi kamu, tapi kamu selalu mengabaikan ku,” jawab Cello panjang lebar.
__ADS_1
Ema hanya menarik baras panjangnya mendengar ocehan Cello, karena memang Emang sengaja tidak meladeni Cello karena sudah berapa kali dirinya melihat Cello jalan dengan wanita yang berbeda.
“Maaf, aku tidak ingin jadi pengganggu bagi hubungan kamu dan juga kekasihmu, aku tidak ingin di cap sebagai perebutan kekasih orang,” jawab Ema dengan tegas kepada Cello.
“Siapa yang bilang aku mempunyai kekasih, tidak mungkin aku menghubungi kamu kalau punya kekasih,” ucap Cello membela diri.
Ema menceritakan semuanya kepada Cello di mana saja mereka bertemu dan selalu Cello dengan wanita yang berbeda, mendengar penjelasan Ema, Cello hanya terdiam, karena selama ini dirinya tidak pernah melihat Ema.
“Maaf kalau aku tidak sopan, tapi aku tutup dulu sambungan teleponnya, karena masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan,” ucap Ema kepada Cello, tanpa menunggu jawaban dari Cello Ema langsung memutuskan sambungan telepon mereka.
Baru kali ini ada wanita yang cuek kepada Cello, biasanya mereka malah memohon agar tidak putus dengan Cello, namun beda dengan Ema, membuat Cello makin penasaran kepadanya. “aku pasti bisa meluluhkan mu manis,” batin Cello sambil menatap layar ponselnya.
Sedangkan Ema langsung membersihkan diri karena badannya sangat gerah, akibat seharian di luar, dia tidak merasa bersalah sedikitpun, karena apa yang ia lakukan benar menurutnya, karena dia juga harus menjaga nama baiknya kepada semua pelanggannya, apa lagi jaman sekarang saingan bisnis makin ketat, bisa saja gara-gara laki-laki nama baiknya menjadi rusak dan kehilangan kepercayaan dari pelanggannya, itulah yang selalu Ema jaga.
Kali ini Cello uring-uringan tidak seperti biasanya, “anak mama kok lemas banget? ada apa sih?” tanya mama Dita kepada Cello.
“Aku menyukai cewek ma, tapi dianya tidak percaya sama aku, karena dia udah berapa kali melihat aku jalan dengan cewek lain, aku udah jelaskan kalau saat ini aku tidak memiliki kekasih tetapi tetap aja dia tidak percaya,” jelas Cello.
“Tertawa sepuasnya, adiknya ada galau dia malah bahagia,” ucap Cello kesal.
“Aku sangat bahagia, akhirnya kau rasakan juga apa yang wanita-wanita selama ini kau permainkan, tapi ini belum seberapa, kau akan rasakan semuanya nanti,” jawab Tya bahagia.
Karena kesal kepada Tya, Cello langsung ke kamarnya, sedangkan Tya tertawa bahagia melihat Cello galau.
“Ada apa ini? kok bunda dengan suara ketawanya kencang banget?” tanya bunda Dea yang tiba-tiba muncul di depan pintu.
“Bunda muncul seperti tamu tidak di undang saja bikin kaget,” jawab Tya kepada bundanya.
__ADS_1
“Makanya ketawa jangan pakai toa, supaya bisa dengar kalau ada orang memberikan salam,” jawab bunda Dea dan langsung mencubit pipi Tya.
Mereka bertiga akhirnya duduk di meja makan sambil menikmati cemilan, Tya dan mama Dita menceritakan apa yang membuat mereka tertawa, bunda Dea sangat bahagia semoga ini langka awal bagi Cello untuk mengubah sikap playboy nya.
Karena sudah jam tujuh malam, akhirnya Tya kembali ke rumahnya, karena bundanya sudah pulang duluan untuk menyiapkan makan malam untuk sang ayah, sedangkan Tya memilih makan malam di rumah mama Dita sebelum kembali ke rumahnya.
Berbeda dengan Tya, Ema masih duduk menatap layar ponselnya, melihat kiriman baju yang sudah di jahit oleh Sari, apa sudah sesuai atau masih ada yang harus di perbaiki, sebenarnya besok pagi Ema akan ke sana untuk mengeceknya, namun Sari selalu mengirimkannya juga setelah ia selesai menjahitnya, Ema sedikit terganggu dengan pesan yang bertubi-tubi dari Cello, ada perasaan sedikit menyesal telah memberikan nomor ponselnya kepada Cello.
Walaupun tak satupun pesannya di balas oleh Ema, namun Cello percaya suatu saat nanti pasti dia bisa melelehkan bongkahan es batu yang ada pada diri Ema, walaupun prosesnya lama namun dia yakin dirinya bisa mendapatkan Ema, dan dia akan langsung memperkenalkan kepada kedua orang tuanya, karena dia yakin mama dan papanya pasti akan menyukai Ema.
🌠🌠🌠
Keesokan harinya, Cello kembali bertemu dengan dengan Erni di parkiran mobil, saat Cello memarkirkan mobil tiba-tiba Erni menghampiri dirinya.
“Selamat pagi pak, maaf mengganggu, tapi saya mau meminta maaf kepada bapak, atas kesalahan saya kepada bapak selama ini,” ucap Erni sambil menunduk.
“Ada apa kamu meminta maaf kepada saya?” tanya Cello cuek.
“Mulai hari ini saya sudah tidak bekerja di sini lagi, saya di pindahkan ke kantor cabang oleh pak Adit,” jelas Erni.
“Ok, kalau itu keputusan papa ke kamu, aku tidak bisa apa-apa, di sana juga bagus kok, apa lagi di pimpin paman Davin, dan sebentar lagi kak Tya pindah ke sana,” jawab Cello dan langsung pamit ke ruangannya.
Erni sangat kecewa mendengar jawaban Cello, Erni berharap Cello tidak mengijinkan dirinya untuk pindah, namun kenyataannya berbeda Cello malah kelihatan bahagia dengan keputusan papa Adit, apa lagi Tya juga tidak lama lagi akan pindah ke sana, sedangkan Erni sangat tidak menyukai Tya.
🌠🌠🌠
Hai semuanya, apa kabarnya? maaf lama baru up, aku harap kakak semuanya tidak marah kepadaku, dan aku harap kakak-kakak tetap mendukung aku lewat like dan komentarnya.
__ADS_1
Karena masih dalam keadaan sakit, makanya aku up satu saja, karena belum sanggup tatap layar handphone terlalu lama, terimakasih juga buat doanya buat aku, maaf aku tidak bisa balas satu persatu, sekali lagi terimakasih 🙏🙏🙏.
🌠🌠🌠Bersambung 🌠🌠🌠🌠