Pelabuhan Terakhir Sang Playboy

Pelabuhan Terakhir Sang Playboy
Bab 63


__ADS_3

Setelah pertemuan Ema dan mama Dita, hubungan mereka semakin dekat dan akrab, Mama Dita sering mengajak Ema untuk menemani dirinya bila Ema tidak sibuk, hal itu membuat Ema sangat bahagia, apa lagi dirinya sudah tidak merasakan lagi kasih sayang dari sang mama, setelah mamanya menikah kembali.


Semuanya berubah, jangankan datang menjenguk Ema, menelfon saja tidak pernah, semuanya tidak sesuai dengan apa yang mamanya katakan, ketika dirinya mau menikah kembali dengan om Bram.


“Apa kamu sibuk?” tanya mama Dita yang tiba-tiba datang ke butik Ema.


“Eh... mama, kok nggak bilang-bilang kalau mama mau datang,” ucap Ema sedikit kaget, karena mama Dita tiba-tiba berdiri di depan pintu ruangannya.


“Namanya juga kejutan sayang,” jawab mama Dita tersenyum.


Ema langsung mempersilakan mama Dita untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya, Ema langsung menghubungi Ita untuk membawa minuman ke dalam ruangannya.


Tidak lama Ita masuk dengan dua cangkir cappucino dan juga cemilan, “silakan di minum buk?” ucap Ita setelah meletakkan cangkir yang berisi kopi cappucino di atas meja.


“Terimakasih sayang, maaf sudah merepotkan,” jawab Mama Dita kepada Ita.


“Tidak ada yang direpotkan kok buk,” jawab Ita kembali.

__ADS_1


Sedangkan Ema hanya tersenyum mendengar percakapan Mama Dita dan Ita. Ema sangat bahagia karena di kunjungi mama Dita.


“Mama dari mana?” tanya Ema kembali.


“Mama dari rumah, soalnya mama sangat suntuk, bunda Dea lagi pulang kampung, makanya mama ke sini, sekalian mau ajak kamu makan siang bersama,” jawab mama Dita.


Ema langsung tersenyum bahagia mendengar jawaban mama Dita, apa lagi mama Dita juga mengajak Cello dan papa Adit, mereka sudah janjian di sebuah restoran langganan mama Dita.


Mama Dita sebenarnya ingin mengajak Rere, namun Rere lagi berada di rumah mama Lia, karena chaim lagi tugas keluar kota, jadi Rere memilih pulang ke rumah mama Lia sampai suaminya kembali dari tempat tugas, dan dia juga belum bisa mencium bau makanan.


“Ayo sayang kita jalan, soalnya papa dan Cello sudah dalam perjalanan,” ajak mama Dita kepada Ema.


Mereka berdua langsung menuju restoran, yang letaknya tidak terlalu jauh dari butik Ema, setelah beberapa menit, akhirnya mereka berdua tiba, namun Cello dan papa Adit belum tiba, mereka berdua masih dalam perjalanan.


Mama Dita dan Ema mengobrol sambil menunggu mereka berdua, tidak lama akhirnya Cello dan papa Adit tiba juga.


“Maaf ya, kami sedikit telat, soalnya di jalan tadi macet,” ucap Cello dan langsung duduk di samping Ema, dan papa Adit juga langsung duduk di samping istrinya.

__ADS_1


Tidak lama pelayan datang mengantar makanan yang di pesan mama Dita duluan, “ayo makan, mama sudah sangat lapar,” ucap mama Dita kepada mereka.


Mama Dita langsung mengambilkan makanan untuk suaminya, setelah semua selesai mengambil makanan, mereka berempat langsung menikmati makan siang mereka.


Sehabis makan siang, Cello dan papa Adit, langsung kembali ke kantor, sedangkan mama Dita mengajak Ema untuk jalan-jalan di sebuah mall, kebetulan mama Dita mencari sesuatu.


Cello yang sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba mendapatkan telfon dari paman Chau, kalau Dwi lagi di rawat di rumah sakit jiwa, karena tiap hari mengamuk, dan selalu melukai dirinya.


“Dari mana paman mengetahui kabar itu?” tanya Cello kepada Chua.


“Paman mendapat telepon dari kantor polisi, dan kau juga bisa menanyakan kepada kakakmu kabar ini kalau kau tidak percaya,” jawab Chua.


Setelah mengobrol dengan paman Chua, Cello langsung menutup sambungan telepon dengan paman Chua, Cello langsung duduk di kursi kerjanya. Cello tidak habis pikir, kalau Dwi akan merasakan namanya rumah sakit jiwa.


Sedangkan Dwi yang sudah berada di rumah sakit jiwa, membuat dokter sedikit kewalahan menanganinya, karena Dwi selalu memberontak.


💕💕💕

__ADS_1


Hay kaka, maaf baru muncul, 🙏 maaf karena aku lambat up dan juga part ini tidah terlalu panjang.


💕🌷💕🌷💕Bersambung 🌷💕🌷💕🌷


__ADS_2