Pelabuhan Terakhir Sang Playboy

Pelabuhan Terakhir Sang Playboy
Bab 29


__ADS_3

Cello yang kali ini mengambil alih meeting di kantor, karena papa Adit kali ini tidak bisa masuk kerja hari ini. itu bukan masalah buat Cello karena dirinya sudah berapa kali memimpin meeting.


Setelah selesai meeting, Cello langsung kembali ke ruangannya, di dalam ruangan sudah ada Tya dengan setumpuk pekerjaan di depannya.


“Bagai mana meetingnya hari ini? apa berjalan dengan lancar?” tanya Tya kepada Cello.


“Ia dong kak, tinggal serahkan ke papa nanti hasil meeting hari ini,” jawab Cello bangga.


Cello langsung duduk dan menyalakan laptop di depannya, “semalam aku ketemuan dengan Erni, dan aku memintanya untuk tidak lagi berharap kepadaku,” cerita Cello ke Tya.


“Tetapi aku yakin, dia tidak akan menyerah begitu saja, dia akan berusaha mencari tahu tentang Ema,” ucap Tya.


Cello hanya diam mendengar ucapan kakak sepupunya itu, tetapi ia percaya kalau Erni tidak akan berbuat nekat seperti itu, pasti dia menerima tawaran pertemanan dari Cello.


“Semoga tidak kak, karena aku tau Erni orangnya bagai mana,” jawab Cello kepada Tya.


Tya hanya menganggukkan kepalanya, dia kembali fokus dengan apa yang ada di hadapannya, begitu juga dengan Cello. tidak ada lagi obrolan di antara mereka berdua, hanya bunyi jari mereka beradu dengan keyboard laptop.


Hingga makan siang tiba, mereka berdua hanya fokus dengan pekerjaan mereka, “kakak makan siang di mana?” tanya Cello memecahkan kesunyian dalam ruangan mereka.


“Seperti biasa, aku makan siang di kantin bersama dengan Mada, emangnya kenapa?” tanya Tya.


“Aku ikut ya kak, soalnya udah lama tidak makan di kantin juga,” jawab Cello kepada Tya.


Tya langsung berbalik menatap Cello, “tumben, emangnya kau tidak makan siang dengan kekasihmu?” tanya Tya kepada Cello.


Cello hanya tersenyum mendapatkan tatapan begitu dari sang kakak. “ hari ini dia tidak bisa, karena dia sudah janjian dengan customernya,” jawab Cello.


Tidak lama akhirnya mereka berdua meninggalkan ruangan mereka, dan tidak lupa Tya mengajak Mada juga, akhirnya hari ini mereka makan siang bertiga.


Di kantin karyawan sudah pada mulai berdatangan, ada yang menatap Cello dengan tatapan heran, karena Cello sangat jarang makan siang di kantin kantor, padahal makanan di kantin tidak kalah enak dengan makanan yang ada di restoran atau cafe-cafe di luar sana.


***************

__ADS_1


“Selamat siang, bisa bertemu dengan mbak Ema?” tanya seseorang kepada karyawan yang berdiri di depan.


“Ibu yang sudah buat janji dengan mbak Ema ya?”


“Panggil mbak aja, jangan panggil ibu kedengarannya seperti sudah tua hehehe, betul aku ingin bertemu dengan mbak Ema kami sudah janjian,” jawab Sinta.


Sinta memang sudah lama berlangganan dengan Ema, dia paling suka dengan hasil karya Ema, makanya setiap ada kegiatan Sinta pasti memesan baju kepada Ema.


“Permisi mbak, ada tamu ingin bertemu dengan mbak,” ucap salah satu karyawan Ema.


“Oh persilakan masuk,” jawab Ema dengan ramah.


Sinta akhirnya di persilakan masuk oleh karyawan Ema, Sinta langsung masuk.


“Halo...beb, maaf menunggu lama,” ucap Sinta kepada Ema.


“Halo... juga, tidak apa-apa, aku juga tidak ke mana-mana kok, ayo silakan duduk,” ucap Ema kepada Sinta.


Mereka berdua akhirnya asik mengobrol, namun tidak jauh-jauh dari fashion, Sinta juga melihat-lihat gambar yang ada di majalah di atas meja.


“Nggak kok, aku juga masih dalam tahap belajar,” jawab Ema.


Tidak lama mata Sinta tertuju pada sebuah gaun yang di gantung di dalam ruangan Ema. “gila, cantik banget, ini ada yang punya nggak?” tanya Sinta sambil meraba-raba gaun tersebut.


“Itu produk gagal, ada yang pesan namun dia tidak suka tidak sesuai yang dia harapkan, makanya dia kembalikan,” jawab Ema.


“Gila itu orang, gaun cantik gini kok di kembalikan, aku ambil saja ya, soalnya aku suka benget dengan modelnya,” ucap Sinta.


“Emangnya kau pas dengan ukuran itu?” tanya Ema kembali.


Sinta langsung mengambil gaun tersebut dan mencobanya di kamar milik Ema, gaun tersebut sangat pas di tubuh Sinta.


“Aku pas loh beb, aku ambil ini saja ya, dari pada aku pesan lagi,” ucap Sinta kepada Ema.

__ADS_1


“Boleh, kalau kamu suka dan cocok, untung kamu cepat datang, rencana aku mau pajang di depan,” jawab Ema.


Akhirnya baju tersebut di ambil oleh Sinta, Ema langsung membungkusnya dengan rapih, agar bajunya tidak kusut, mereka berdua kembali asik mengobrol sambil menikmati cemilan dan juga minuman dingin yang sempat datang di antara oleh Ita.


Hampir dua jam Sinta berada di butik Ema, namun mereka berdua merasa baru setengah jam, tidak lama Sinta akhirnya pamit pulang, “beb aku balik dulu, ternyata aku sudah hampir dua jam di sini,” ucap Sinta kepada Ema.


“Ia hati-hati di jalan, terimakasih atas orderannya hari ini,” jawab Ema.


Ema mengantar Sinta sampai di depan pintu keluar butik, Sinta hanya melambaikan tangannya kepada Ema bertanda ia pamit pulang, begitu juga Ema membalasnya dengan lambaian tangan dan senyuman yang manis.


**************


“Apa kabar dengan Cello ya, jujur aku masih sayang benget dengan dia, aku tidak ingin kehilangan dia,” batin Anggi sambil menatap langit yang di penuhi bintang.


Seandainya bukan karena masa lalu kedua orang tua mereka, mungkin saat ini Cello dan Anggi masih menjalani hubungan, namun karena masa lalu, Anggi di tentang oleh maminya.


Anggi terpaksa kembali ke Australia demi menghilangkan rasa sakit hatinya kepada Cello, dan di pertemuan terakhir mereka juga terjadi pertengkaran hebat antara Cello dan Anggi.


Anggi sudah berusaha melupakan Cello namun tidak bisa, di sana dia berusaha membuka hatinya untuk pria lain namun tetap saja, pikirannya hanya ke Cello.


“Apa kah aku harus egois seperti mami, yang tidak membiarkan mantannya bahagia? atau aku harus mendengar kata-kata papi, yang mengikhlaskan walaupun awalnya menyakitkan?” batin Anggi kembali.


Pikiran Anggi sangat berkecamuk, antara ikhlas dan tidak, namun mustahil untuk kembali dengan Cello, apa lagi Cello juga tau kalau dulu mamanya hampir mati karena ulah mami dari Anggi.


Tidak lama handphone Anggi berdering ternyata dari salah satu temannya. “halo ada apa menghubungi ku malam-malam,” tanya Anggi.


“Aku ingin mengajakmu ke club malam, Anak-anak yang lain sudah berkumpul di sana,” jawab salah satu teman Anggi.


Tanpa menunggu lama Anggi langsung setuju dengan ajakan temannya itu. kebetulan pikirannya lagi kacau.


Anggi langsung bersiap-siap, club malam bukan lagi tempat baru bagi Anggi, dia selalu datang di club saat pikirannya lagi kacau .


🌠💕🌠🌷

__ADS_1


jangan lupa like dan komentar ya kakak. terimakasih🙏🙏🙏.


🌷💕🌷🌠Bersambung🌷💕🌠🌷


__ADS_2