
Sesampainya di rumah, Ema langsung mengurung diri di dalam kamarnya, dia menyimpan handphonenya di dalam laci lemarinya, dia sengaja agar tidak di hubungi oleh Cello, sedangkan nomor dia pakai di butiknya tersendiri. Ema membersihkan dirinya karena baru pulang dari makan papanya.
Setelah selesai mandi, Ema langsung membaringkan tubuhnya di kasur yang begitu empuk, dia sangat lelah karena habis menangis, dan hampir setengah hari di makam papanya.
Sedangkan Cello sangat frustasi karena sampai sekarang belum bisa menghubungi Ema, sepulang kerja, dirinya mengurung diri di dalam kamarnya, tidak seperti biasanya yang selalu ceria.
“Cello..., nggak turun makan sayang?” teriak mama dita sambil mengetuk pintu kamarnya.
“Tidak ma, aku masih kenyang,” jawab Cello dari dalam kamarnya.
Mama Dita sedikit heran mendengar jawaban Cello, karena tidak seperti biasanya, namun mama Dita langsung meninggalkan kamar Cello dan kembali ke lantai bawah. karena papa Adit sudah menunggunya di meja makan, kali ini hanya mereka berdua yang berada di meja makan, karena chaim dan Rere sudah pindah ke apartemen mereka.
“Cello mana ma? kok tidak turun makan?” tanya papa Adit.
“Katanya dia masih kenyang, ayo kita makan saja, ini sudah jam berapa,” jawab mama Dita sambil mengambilkan makanan untuk suaminya.
Mereka berdua langsung menikmati makan malam mereka, walaupun mereka merasa sedikit ada yang berbeda, karena biasanya mereka di dampingi kedua anaknya, namun malam ini mereka hanya berdua.
“Mungkin begini rasanya ya ma, kalau suatu saat nanti Cello menikah juga ya ma?” tanya papa Adit kepada istrinya.
“Ya mau gimana lagi pa, kita pasti akan lalui,” jawab mama Dita.
Papa Adit sedikit merasa sedih, dan merasa belum siap di tinggalkan anak-anaknya kelak, namun dirinya harus siap untuk menerima kenyataan itu.
Di dalam kamarnya, Cello merasa sedikit pusing, karena ulah Anggi, yang membuat Ema meninggalkan dirinya. dan sampai sekarang dia belum bisa menghubungi Ema. Cello membanting handphonenya ke atas kasur, karena dia ingin sekali menjelaskan kepada Ema, tentang ke salah pahaman ini.
*********
“Aku mau dia menghilang dari muka bumi ini,” ucap Dwi kepada teman lelakinya itu.
__ADS_1
“Udahlah Dwi, ikhlaskan saja mungkin dia bukan jodoh kamu, jangan membuat masalah yang bisa merugikan diri kamu sendiri,” nasehat sahabatnya itu.
Namun Dwi tidak mendengar nasehat sahabatnya itu, dia tidak peduli yang penting dirinya bisa bersama Cello, hanya itu yang ada di dalam otak Dwi.
“Aku tidak peduli, yang aku inginkan adalah Cello, aku mau dia kembali kepadaku, bagai manapun caranya,” lanjut Dwi.
“Kamu jangan terlalu terobsesi, bisa-bisa membahayakan diri kamu kelak, dan bisa-bisa menghancurkan masa depan kamu,” lanjut Angga sahabat Dwi.
“Stop. kamu tidak usah menasehati aku, karena aku tidak peduli, dan ingat masukan kamu itu hanya sia-sia karena aku tetap dengan pendirianku,” jawab Dwi yang sudah mulai emosi karena di nasehati oleh Angga.
Angga hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban sahabatnya itu, Angga sangat kaget dengan perubahan pada diri Dwi, bukan lagi Dwi yang ia kenal beberapa tahun lalu.
“Ok kalau itu mau kamu, jangan pernah mencari aku, kalau kamu ada masalah, karena aku juga tidak memiliki sahabat seperti kamu, karena Dwi yang aku kenal dulu orangnya sangat penyabar, tidak keras kepala seperti kamu,” jawab Angga dan langsung berdiri meninggalkan Dwi.
“Terserah kau mau bilang apa, dan pergi dari hadapan aku sekarang juga,” teriak Dwi kepada Angga.
Sesampainya di luar, Dwi masih mengamuk kepada security dan teriak-teriak, karena sudah menyeretnya dari dalam cara, semua itu dalam pantauan anak buah Chua yang juga ada di situ.
“Cantik-cantik tapi gila,” ucap salah satu pengunjung yang kebetulan lewat bersama teman-temannya.
Dwi tidak peduli dengan omongan orang lain, setelah puas teriak-teriak dia langsung memesan taksi online, karena Angga sudah pulang duluan karena dia kecewa kepada Dwi.
Orang suruhan Chua kembali mengikuti Dwi sampai di rumahnya, karena sudah larut malam, akhirnya mereka juga kembali ke markas untuk beristirahat.
*************
Malam sudah berganti pagi, namun Ema belum juga bangun dari tidurnya, dia masih nyenyak di dalam selimutnya. Karena dirinya juga tidur hampir pagi, karena matanya tidak bisa di ajak kerja sama, di tambah lagi pikirannya yang kacau karena ulah Anggi mantan Cello.
Tidak seperti Cello, dia sudah bangun dan kini sudah bergabung dengan kedua orang tuanya sarapan pagi.
__ADS_1
“Semalam kamu tidak makan nak?” tanya mama Dita dengan hati-hati, karena dia tahu kalau anaknya itu lagi memiliki masalah.
“Tidak ma, aku merasa kenyang terus,” jawab Cello sedikit berbohong.
Mama Dita hanya tersenyum mendengar jawaban Cello, namun tidak dengan papa Adit, dirinya hanya fokus dengan makanan yang ada di hadapannya.
Setelah mereka selesai sarapan, Cello dan papa Adit langsung pamit untuk ke kantor, mama Dita tau kalau anaknya itu pasti memiliki masalah, belum saja Cello menceritakan kepadanya, karena tempat Cello curhat hanya padanya.
Jam sembilan pagi, barulah Ema bangun dari tidurnya, itu pun karena telepon dari butik yang membangunkan dirinya.
“Emm... ada apa Ita?” tanya Ema dengan suara orang baru bangun.
“Mbak tidak ke butik hari ini? soalnya ada yang ingin mengambil baju mereka,” jawab Ita dari seberang sana.
“Aku tidak masuk hari ini, aku tidak enak badan, kamu kasih saja,” jawab Ema kepada Ita, dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Ita sedikit khawatir karena mendengar bosnya yang tidak enak badan. dia ingin sekali menghampiri bosnya, namun dirinya sudah di berikan kepercayaan untuk melihat butik.
Sedangkan Ema langsung melanjutkan tidurnya, namun karena lapar, dirinya sudah tidak bisa tidur kembali, dengan terpaksa dirinya langsung bangun dan membersihkan diri, setelah selesai berpakaian santai, Ema segera turun ke lantai bawah, tepatnya ke dapur, untuk mencari bahan makan di kulkas untuk di olah jadi makanan.
Kali ini Ema hanya menggoreng kentang untuk sarapannya, dan tidak lupa segelas kopi, dia begitu menikmatinya, karena dirinya sudah sangat lapar, apa lagi semalam dia tidak sempat makan malam, karena dirinya sangat kacau dan kereta karena selama ini Cello mempunyai kekasih yang lain.
Setelah sarapan, Ema kembali ke dalam kamarnya, dia ingin melanjutkan tidurnya, apa lagi kampung tengah sudah terisi, dia hanya berharap bisa tidur sepanjang hari ini.
🌷🌷🌷🌷
Ayo tinggalkan jejaknya lewat like dan komentarnya ya kak, terimakasih🙏🙏
🌷🌷🌷Bersambung 🌷🌷🌷
__ADS_1