Pelabuhan Terakhir Sang Playboy

Pelabuhan Terakhir Sang Playboy
Bab 74


__ADS_3

“Om aku harap, om segera meninggal rumahku, karena saya tidak suka om datang membuat keributan di sini,” ucap Ema sambil mempersilahkan Bram keluar dari rumahnya.


“Begitu perlakuan nona kepada tamumu? apa ini didikan bapakmu?” tanya Bram yang merasa kesal diusir oleh Ema.


“Stop... kau jangan membawa-bawa almarhum, kaum yang datang dengan cara tidak sopan, jadi wajar kalau kau diusir seperti itu,” bentak Ayu dengan emosi.


Bram melabrak meja yang ada di hadapannya, dan langsung meninggalkan rumah, namun sebelum keluar dari dalam rumah, Bram kembali menendang pintu, membuat Ema emosi dan mengejar Bram sampai di halaman rumah.


“Woi... tau sopan tidak? kalau tidak tau mari saya ajar gimana caranya bersikap sopan di rumah orang,” teriak Ema.


Bram tidak peduli dengan teriakan Ema, dia segera pergi meninggalkan rumah, sebelum petugas keamanan datang, Ema kembali masuk ke dalam rumah, setelah Bram betul-betul pergi.


“Aku tidak menyangka mama bisa menikah dengan laki-laki kasar seperti bajingan itu,” ucap Ema kepada mamanya.


Mama Ayu hanya diam mendengar anaknya mengomel, dua tidak bisa berbuat apa-apa, karena Bram memperlihatkan sifat aslinya di depan Ema. membuat Ema sangat geram, namun tidak dengan mama Ayu, dia sudah sering melihat Bram bersikap kasar padanya.


“Udah nak, ayo kita tidur, si brengsek itu tidak akan datang lagi,” ajak mama Ayu kepada Ema.


Mereka berdua akhirnya kembali masuk ke kamar, namun malam ini mereka tidur di kamar masing-masing, karena Ema tidak ingin mengganggu sang mama saat dirinya asik ngobrol dengan Cello lewat panggilan video_call. mama Ayu tidak keberatan dengan hal itu, karena dirinya juga dulu pernah mudah.


Malam ini mama Ayu tidak bisa tidur, dia terus memikirkan Bram yang datang seenak jidat, datang marah-marah kepada dirinya dan juga putrinya. padahal ini semua kesalahan Bram yang seluruh mengekang mama Ayu, sampai dirinya tidak bisa bertemu dengan Ema.


Mama Ayu sudah mantap ingin berpisah dari laki-laki kasar seperti Bram, dia lebih baik hidup menyendiri mendampingi anak gadisnya sampai waktunya tiba dirinya kembali ke pangkuan Illahi.


💞


Pagi ini Cello bangun lebih awal, tidak seperti biasanya yang mengharuskan mama Dita harus teriak terlebih duhulu baru ia bangun.


“Tumben mama tidak berkoar-koar bangunin kamu, ada apa bangun sepagi ini?” tanya mama Dita sedikit heran.


“Yaelah mama, telat bangun dapat marah, cepat bangun di curigai,” jawab Cello menikmati kopinya.

__ADS_1


“Soalnya tidak biasanya kamu bangun secepat ini dodol,” ucap mama Dita dengan sedikit kesal.


Sedangkan Cello hanya tertawa mendengar mamanya yang kesal kepadanya, bagi Cello itu sudah terbiasa, apa lagi dirinya suka sekali isengin mamanya.


“Pagi sayang, pagi Cello,” sapa papa Adit kepada mereka berdua.


“Pagi sayang, ayo duduk biar aku ambilkan kopinya,” ucap mama Dita.


“Pagi-pagi udah romantis saja, bikin aku iri saja,” ucap Cello kembali.


Mama Dita dan papa Adit hanya tertawa mendengar ocehan Cello, “Makanya menikah, jangan cuma dipacari doang, kasian anak orang digantungi seperti jemuran,” jawab mama Dita. membuat Cello dan papa Adit langsung melongok, mendengar omongan mama Dita.


“Sabar ma, sebentar lagi semuanya akan jadi suprise nantinya,” jawab Cello tersenyum.


Setelah semuanya makan siap di meja, mereka langsung sarapan, “nanti mama mau ke rumah Chaim dan Rere, mau menemani Rere ke dokter karena Chaim sibuk,” ucap mama Dita di tengah sarapan mereka.


“Oh tidak apa-apa, sampaikan salam papa sama mereka,” jawab papa Adit.


“Astaga mama hampir lupa sayang, ia nanti mama sampaikan,” jawab mana Dita.


Setelah selesai sarapan, Cello dan papa Adit langsung pamit untuk ke kantor, mama Dita mengantar mereka sampai depan pintu, setelah Cello dan papanya berangkat, mama Dita langsung kembali masuk ke dalam rumah bersiap-siap untuk ke apartemen Chaim.


Dalam perjalanan ke kantor, Cello mengutarakan niatnya ingin melamar Ema saat makan malam bersama di malam minggu nanti kepada papa Adit.


“Pa... Cello ingin pendapat papa, apa papa setuju atau tidak__,” ucap Cello menggantungkan pertanyaannya.


“Apa itu nak?” tanya papa Adit kembali.


“Aku ingin melamar Ema saat kita makan malam bersama di malam minggu nanti, tapi aku sedikit bingung,” jelas Cello.


“Bingung kenapa? menurut papa bagus juga, tapi apa Ema dan mamanya sudah tau niat kamu ini?” tanya papa Adit kembali.

__ADS_1


Cello menarik nafas panjangnya, karena dia sebenarnya ingin lamaran ini jadi suprise bagi Ema dan semuanya, tapi dirinya juga takut kalau Ema marah dan menolaknya.


Papa Adit yang mendengar penjelasan Cello hanya mengangguk mengerti.


“Papa yakin, Ema tidak akan marah padamu nak, kalau kaget pasti kaget tapi kalau marah papa rasa itu tidak mungkin,” jelas papa Adit.


“Tapi aku harap papa tidak memberitahukan siapa-siapa biar mama, hanya kita berdua yang tau,” ucap Cello kepada papanya. dan di balas anggukkan kepala oleh papa Adit.


🌷🌷


Ema yang keluar dari ruangannya, langsung berlari bersembunyi kembali, karena dia tidak menyangka kalau om Bram akan datang ke butiknya, tapi tunggu dulu, om Bram tidak mencari dirinya, namun dia datang dengan seorang wanita mudah. mereka datang membeli baju.


“Sayang bagai mana dengan status kamu, aku tidak ingin di duakan,” ucap wanita itu kepada om Bram.


“Tenang saja babe, aku akan menceraikan dia, dan menikahi kamu sayang,” ucap om Bram meyakinkan kepada wanita itu.


Ema terus bersembunyi dan mendengar obrolan mereka, Ema ingin sekali merekamnya tapi sayang tidak bisa, untuk ada cctv untuk menjadi bukti perselingkuhan om Bram, karena dia belum resmi cerai dari mama Ayu.


“Udah dari dulu kamu selalu ngomong gitu, ingin cerai dengannya, tapi apa sampai sekarang kamu masih bersama dia,” ucap wanita itu sedikit cemberut.


Bram langsung mengusap pipi wanita mudah itu, “jangan cemberut gitu dong, sebentar lagi kami bercerai, dia sudah kembali ke anaknya, dulu aku tidak menceraikan dia karena tidak ada yang merawat mamaku, tapi sekarang mama aku sudah di bawah oleh adikku ke Singapura,” jelas Bram.


Ema merasa sakit hati mendengar obrolan mereka, dia ingin sekali melabrak laki-laki brengsek itu, namun Ema menahan dia masih penasaran apa lagi yang mereka bahas.


Sampai urusan tempat tidur mereka berdua bahas, dan ternyata selama ini om Bram dan wanita itu sudah sering bersama seperti suami istri, terkadang wanita itu yang ke Surabaya atau Bram yang ke Jakarta.


🌷💞🌷


Terimakasih dukungan, tetap dukung aku ya kak🙏😘😍


💕💕💕Bersambung💕💕💕

__ADS_1


__ADS_2