
“Aku tidak akan membiarkan dirimu bahagia sayang, kau harus rasakan juga bagai mana sakit hati,” ucap Dwi dalam hati, saat ia melihat Cello masuk ke dalam halaman kantornya.
Dwi masih merasakan sakit hati karena di tinggalkan Cello begitu saja, apa lagi Cello memutuskan hubungan mereka tanpa sebab, apa lagi Dwi masih sangat menyayangi Cello.
Cello tidak mengetahui kalau selama ini Dwi yang meneror dirinya, Dwi selalu mengirim pesan mengancam kepada Cello dengan. nomor yang berbeda-beda. agar Cello tidak mencurigai dirinya.
Sedangkan Cello di sibukkan dengan pekerjaannya di kantor, karena Tya sudah pindah ke kantor cabang bersama dengan ayah Davin. makanya Cello sedikit kewalahan karena selama ini ada Tya yang selalu membantunya. namun dia sudah berjanji pada dirinya, bila ia bisa mendapatkan Ema, dia tidak akan main-main dengan pekerjaannya.
“Ternyata pegal juga kerja sendirian,” batin Cello sambil merenggangkan otot-ototnya.
Dia langsung menghubungi Mada untuk membuatkan kopi untuknya, agar Cello tidak merasa ngantuk, karena dia ingin pekerjaannya itu selesai hari ini, agar dirinya bisa membagi waktu, karena dia juga sudah beberapa hari ini tidak bertemu dengan, Cello sudah sangat merasa rindu kepada Ema.
Cello langsung mengambil handphonenya dan menghubungi Ema.
“Halo, kok nelfon di jam kerja?” tanya Ema kepada Cello.
“Ia soalnya aku kangen denganmu sayang,” jawab Cello sedikit menggoda Ema.
Ema hanya tersenyum mendengar godaan Cello kepadanya, karena Ema sudah terbiasa mendengar gombalan receh dari Cello.
__ADS_1
Setelah puas mengobrol, tidak lama Cello menutup sambungan vedio_callnya, dan kembali fokus bekerja, Cello merasa sedikit mendapatkan semangat baru setelah mengobrol dengan Ema.
“Mbak, ini ada paket untuk mbak,” ucap salah satu karyawannya.
“Paket? kayaknya aku tidak pernah pesan apa-apa kok,” jawab Ema.
“Mungkin dari teman mbak,” jawab karyawan Ema dan langsung meletakkan paket tersebut di atas meja yang ada di dalam ruangan dan langsung pamit keluar.
Ema langsung mengambil paket tersebut, dia membolak-balikan namun tidak ada nama pengirimannya, karena rasa penasaran Ema langsung membukanya.
“Ah...,” teriak Ema sambil membuang kota tersebut ke bawah lantai.
“Ada apa mbak? kok teriak?” tanya Rey, salah satu karyawan Ema.
Ema tidak menjawab, dia hanya duduk di kursinya sambil menutup mata dengan kedua telapak tangannya.
Ita langsung histeris saat melihat sebuah kain putih, yang bertulisan mati dengan noda warna merah.
Rey yang langsung mengambil kain tersebut, “Ini sebuah ancaman mbak,” lanjut Rey.
__ADS_1
Sedangkan Ema masih gemetar, walaupun sudah berapa. karyawannya menenangkan dirinya, sedangkan Ita kembali teringat pada wanita yang datang mengancam Ema di butik.
“Apa ada hubungannya dengan wanita itu,” ucap Ita menatap rekannya yang lain.
Sedangkan Ema masih diam, dia masih sedikit gemetar, karena dirinya sendiri yang membuka paket tersebut. sedangkan karyawan lainnya setuju dengan pendapat Ita.
“Bagai mana kalau kita lapor ke polisi saja,” ucap yang lainnya.
“Kita tidak punya barang bukti yang kuat, kalau wanita itu pelakunya,” jawab Rey.
Ema setuju dengan pendapat Rey, karena dia tidak ingin asal menuduh, apa lagu tidak ada barang bukti, bisa-bisa mereka nanti yang kena getahnya sendiri.
Ema langsung menyuruh karyawannya untuk menutup butik, dia sudah tidak semangat lagi setelah kejadian tadi, dia meminta karyawannya untuk pulang ke rumah, karena dirinya juga ingin pulang istirahat.
💕💕💕
Hai kak, maaf baru up lagi, maaf ya kak soalnya aku lagi sedikit sibuk. aku tidak pernah bosan meminta kakak sekalian untuk like dan komentarnya ya, terimakasih🙏🙏.
💕💕💕💕 Bersambung 💕💕💕💕
__ADS_1