Pelabuhan Terakhir Sang Playboy

Pelabuhan Terakhir Sang Playboy
Bab 25


__ADS_3

“Ok aku pamit pulang dulu, besok aku jemput kamu untuk makan siang bareng,” ucap Cello kepada Ema sebelum meninggalkan butik milik Ema.


Ema hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Cello akhirnya pulang dengan bahagia, karena akhirnya Ema bersedia dia ajak makan siang bersama.


“Pacarnya ya mbak, ganteng banget?” tanya salah satu karyawannya kepada Ema.


“Bukan, dia hanya teman saja kok,” jawab Ema dan langsung masuk kembali ke dalam ruangannya.


Sedangkan Cello langsung kembali ke rumah dengan hati yang sangat bahagia, karena dia berhasil mengajak Ema untuk makan siang, ya walaupun hanya makan siang, tetapi Cello sudah bahagia, karena dia sudah maju satu langkah untuk bisa mendapatkan Ema, walaupun harus butuh perjuangan untuk meluluhkan hati Ema, tetapi Cello yakin perjuangannya tidak akan sia-sia.


“Bahagia banget,” tegur Tya saat Cello sudah tiba di rumahnya.


“Ia dong, sore ini aku sangat bahagia,” jawab Cello dengan wajah yang berbinar-binar. dan langsung naik ke lantai dua.


Tya hanya menarik nafas panjangnya, melihat tingkah adik sepupunya itu, rumah mama Dita kini sudah sunyi, hanya ada papa Adit sekeluarga dan juga Tya, seperti biasa Tya akan kembali ke rumahnya saat tidur nanti.


Karena sudah waktunya untuk pulang, Ema dan lainnya sudah bersiap-siap untuk kembali ke rumah masing-masing.


“Sampai bertemu besok ya, tetap semangat,” ucap Ema kepada karyawannya saat mereka sudah mau berpisah.


Mereka akhirnya berpisah, Ema juga kembali ke rumah dengan mengendarai mobilnya, seperti biasa Ema selalu mendapati rumah selalu dalam keadaan sunyi, terkadang hati Ema merasa sedih, karena kini semaunya sudah berubah, tidak ada lagi yang selalu menyambutnya saat dirinya pulang kerja. Ema langsung mengunci pintu kembali saat dirinya sudah berada di dalam rumah, dan langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Malam ini Ema hanya membuat susu hangat dan juga roti, karena dirinya sudah sangat lelah untuk memasak, terkadang juga dirinya langsung tertidur tanpa makan malam.


🌠🌠🌠


Pagi-pagi Cello bangun dengan penuh semangat tidak seperti biasanya, pagi ini mama Dita tidak menggedor pintu kamar, karena Cello sudah bangun dan kini dirinya sudah menunggu di meja makan dengan pakaian rapih, membuat mama Dita sedikit heran, karena biasanya mama Dita harus menggedor pintu dulu baru ia bangun, tapi kali ini berbeda, papa Adit saja belum bangun namun Cello sudah siap dengan pakaian kantor.

__ADS_1


“Tidak demam,” ucap mama Dita sambil meletakkan telapak tangannya di kening Cello.


“Aku tidak sakit ma,” jawab Cello sambil menikmati secangkir kopi.


“Soalnya mama sedikit heran dengan tingkah kamu, biasanya mama harus menggedor pintu baru kamu bangun, tapi pagi ini, kamu lebih duluan bangun dari pada burung nuri papa di belakang,” ucap mama Dita.


Cello hanya tersenyum mendengar sang mama yang mulai mengoceh sampai-sampai membawa-bawa burung nuri milik papa Adit, tidak lama papa Adit juga bangun dan terkejut melihat Cello yang sudah duduk manis di meja makan dengan pakaian rapih.


“Mimpi apa semalam Cello? tumben cepat banget bangunnya?” tanya papa Adit dan langsung duduk di kursi yang kosong.


“Lambat bangun dapat omelan cepat bangun di tanya, pusing juga jadinya,” ucap Cello.


Tidak lama Chaim juga ikut gabung bersama dengan mereka, namun Chaim tidak berkomentar apa-apa, dia langsung duduk di kursi kosong.


“Kakak tidak bertanya sama aku, kenapa aku cepat bangun?” tanya Cello kepada kakaknya.


Cello dan papa Adit hanya tertawa, sedangkan mama Dita memasang muka tidak senangnya di karenakan omongan Chaim.


“Kakak Chaim pendiam, jarang ngomong tapi kalau satu kali bersuara menyakitkan, betul nggak ma?” tanya Cello kepada mama Dita, dia mulai menggoda sang mama.


“Tau ah, coba tanya pada cicak di dinding,” jawab mama Dita.


Sebenarnya mama Dita tidak marah dengan omongan anaknya, karena apa yang mereka katakan betul adanya, dan udah biasa mendapatkan godaan dari kedua anaknya, bukan saja kedua anaknya terkadang juga dari suaminya, apa lagi Chaim, kalau ngomong selalu kelihatan serius padahal dia hanya bercanda, karena mukanya tidak pernah tersenyum saat berbicara, dia selalu memasang muka seriusnya.


Kini mereka berempat akhirnya menikmati sarapan pagi, sebelum melanjutkan aktivitas mereka masing-masing, setelah sarapan Chaim lebih duluan pamit, baru di susul oleh Cello dan papa Adit.


Setelah semuanya sudah berangkat mama Dita kembali masuk ke dalam rumah, untuk merapikan meja makan, bekas sarapan mereka tadi, walaupun ada asisten rumah tangga namun mama Dita selalu ikut membantu mereka juga di dapur, apa lagi soal makanan, mama Dita yang lebih banyak terjun langsung untuk memasaknya.

__ADS_1


Sesuai dengan janji Cello kepada Ema, saat dirinya tiba di kantor Cello langsung mengirim pesan kepada Ema, sekedar mengingatkan kalau siang nanti mereka akan makan siang bersama, dan Cello yang akan menjemput Ema langsung di butik.


Ema yang baru mau berangkat ke butik, langsung membuka pesan dari Cello, dia hanya membacanya tetapi tidak di balas, karena dirinya terburu-buru.


“Pesan aku masih di cuekin, susah juga mendekati dirinya,” batin Cello sambil menatap layar handphonenya menunggu balasan dari Ema.


Kini Cello memfokuskan diri pada pekerjaannya, karena pesannya tidak di balas oleh Ema, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke handphone Cello, dengan sigap Cello mengeceknya ternyata pesan dari orang yang tidak dia inginkan, ternyata pesan dari Erni yang mengajak Cello untuk makan siang bersama, namun Cello tidak menanggapinya, karena dia sudah janjian dengan Ema.


“Aku menunggumu di butik,” balas Ema kepada Cello, Ema membalasnya saat sudah tiba di butik, Cello langsung semangat menyelesaikan pekerjaannya karena pesannya sudah di balas oleh Ema.


“Ok, tunggu aku di butik,” balas Cello dan langsung melanjutkan pekerjaannya.


Tya yang melihat tingkah adik sepupunya itu, hanya geleng-geleng kepala, karena tidak seperti biasanya Cello bertingkah seperti anak kecil yang mendapatkan sebungkus Es krim. Kali ini tidak ada namanya malas-malasan bagi Cello, hari ini dia ingin menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum jam makan siang tiba, agar dirinya bisa berlama-lama dengan Ema.


“Dasar bucin,”ucap Tya yang melihat Cello bekerja sambil bersiul bahagia.


“Lebih baik bucin, dari pada jomblo abadi,” jawab Cello kepada Tya.


“Bukan jomblo abadi, namun menunggu yang tepat, tidak asal-asalan dan ujung-ujungnya menyakitkan,” jelas Tya.


Cello hanya diam, dia tidak ingin berdebat dengan kakak sepupunya itu, terserah dia mau bilang apa, yang penting hari ini, Cello bisa jalan bersama dengan Ema.


🌠🌠🌠


Jangan lupa dukungan, lewat like dan komentarnya ya kak, terimakasih🙏🙏


🌠💕🌠💕 Bersambung💕🌠💕🌠

__ADS_1


__ADS_2