Pelabuhan Terakhir Sang Playboy

Pelabuhan Terakhir Sang Playboy
Bab 34


__ADS_3

Tidak lama akhirnya Cello tiba di butik milik Ema, setelah memarkirkan mobilnya, dia segera turun dan langsung masuk ke dalam butik, Ema juga sudah keluar dari ruangannya dan langsung menghampiri Cello yang lagi menunggunya diruang tunggu.


“Ayo jalan,” ucap Ema dengan datar, kali ini tidak ada senyum yang mengembang di bibirnya seperti biasa.


Cello yang sedikit heran dengan tingkah Ema, langsung mengikuti Ema dari belakang, karena Ema sudah jalan duluan keluar.


Dengan sigap Cello membukakan pintu mobil untuk Ema, walaupun ia tau kalau Ema tidak suka di perlakukan begitu, dia lebih senang membuka pintu mobil sendiri.


“Aku sudah seringkali mengatakan padamu, kalau aku bisa sendiri membuka pintu mobil, tidak usah di bukakan,” ucap Ema pada Cello.


Cello hanya tersenyum mendengar Ema mengomel, Mereka berdua langsung menuju sebuah restoran untuk makan siang bersama, sepanjang perjalanan Ema hanya diam, berapa kali Cello bertanya kepadanya namun tidak ada jawaban dari Ema.


“Kamu kenapa sih? dari tadi aku mengajakmu untuk mengobrol namun kau tetap diam?” tanya Cello kepada Ema.


“Aku lagi kesal padamu, katanya kau tidak mempunyai kekasih, tetapi buktinya tadi pagi saat aku membeli roti, ada seorang wanita menegurku dan dia menitip salam padamu,” jelas Ema.


“Oh itu yang membuat dirimu marah padaku, memang aku tidak mempunyai kekasih, kecuali kau, kalau kau mau,” ucap Cello sedikit bercanda.


Ema hanya melihat ke luar, dia malas mendengar Cello ngomong, karena dia masih kesal dengan kejadian tadi pagi.


“Kalau kau kesal, berarti kau cemburu, aku betul-betul tidak mempunyai kekasihnya, aku sudah janji pada diriku sendiri, dan juga kepada mamaku, kalau aku bisa bersama, aku akan meninggalkan sikap buruk aku, dan serius kepadamu,” ucap Cello.


Ema kembali tersenyum mendengar ucapan Cello, entah kenapa bagai manapun ia marah kepada Cello, ujung-ujungnya dia lulu juga.


“Aku berharap kepada kamu, agar jangan terlalu percaya kepada wanita-wanita yang mengaku kekasih aku, seperti yang bertemu dengan kamu pagi tadi, mungkin itu salah satu dari masa lalu aku,” lanjut Cello.


“Maafkan aku, mungkin aku terlalu cemburu kepadamu,” ucap Ema tanpa sadar ia mengakui kalau dirinya terlalu cemburu kepada Cello


Senyuman mengembang di bibir Cello mendengan ucapan Ema barusan, Ingin sekali dirinya memeluk Ema namun mereka belum resmi jadi pasangan kekasih.

__ADS_1


Tidak lama mereka akhirnya tiba di sebuah restoran, Cello langsung mencari tempat parkir yang kosong, setelah memarkirkan mobil dengan sempurna, mereka berdua langsung turun dari dalam mobil, dan segera masuk ke dalam restoran, dan lagi-lagi mereka bertemu dengan orang masa lalu Cello, yaitu Widia.


“Gebetan baru ni, semoga nggak di berikan harapan palsu,” ucap Widia kepada Cello dan langsung meninggalkan mereka.


Ema hanya menarik nafas panjangnya, “tadi pagi aku bertemu dengan mantannya, siang ini masih bertemu lagi, berapa banyak sih mantan dia?” Ema hanya bertanya dalam hatinya.


Mereka berdua langsung duduk di sebuah meja kosong, namun Ema tidak ingin bertanya tentang wanita barusan, karena dia yakin, wanita itu mantan kekasih Cello.


seolah-olah tau apa yang di pikirkan oleh Ema, Cello langsung menjelaskan tentang Widia kepada Ema.


“Wanita tadi itu adalah mantan aku, sudah mantan, aku harap kamu percaya padaku,” ucap Cello.


Ema hanya mengangguk, dia tidak ingin makan siangnya terganggu oleh masa lalu Cello, dia ingin menikmati makan siangnya dengan nikmat.


Tidak lama pelayanan datang membawa buku menu untuk mereka, kali ini Ema ingin sekali makan nasi goreng seafood, dia langsung memesannya dengan jus tomat sedangkan Cello memesan makanan lainya.


“Ema..., kita sudah hampir sebulan jalan bareng, aku mau tanya apa kamu bersedia menjadi kekasih aku,” ucap Cello kepada Ema.


“Emangnya kenapa? nggak romantis ya?” tanya Cello kembali.


“Bukan nggak romantis, tapi aku masih ragu kepada mu aku takut hanya di permainkan saja,” jawab Ema kepada Cello.


“Aku serius, aku tidak memiliki kekasih lagi, kecuali kau mau menjadi kekasihku, sekarang aku hanya sendiri,” ucap Cello meyakinkan Ema kembali.


Ema masih terdiam, dia memikirkan antara menerima Cello atau tidak, tetapi kalau ingin jujur, dia juga sudah mulai mencintai Cello, tetapi wanita-wanita masa lalu Cello selalu bermunculan di saat mereka sedang berduaan.


Cello langsung menggenggam tangan Ema, hanya kau seorang yang singgah di dalam lubuk hatiku, aku ingin kita menua bersama, tanpa melihat masa lalu kita masing-masing ke belakang,” ucap Cello.


“Ia aku mau,” jawab Ema dengan yakin.

__ADS_1


“Apa? apa aku tidak salah dengar?” tanya Cello kembali.


Ema menggelengkan kepalanya, dia hanya tersenyum menatap Cello, sedangkan Cello sangat bahagia, dia tidak bisa mengutarakan dengan kata-kata, akhirnya wanita yang ia kejar selama ini, sudah resmi menjadi kekasihnya.


Setelah makan siang, kini mereka kembali pulang, Cello selalu menggenggam tangan Ema, seolah-olah tidak ingin kehilangan Ema, padahal mereka baru berapa menit resmi menjadi pasangan kekasih, Cello mengantar Ema kembali ke butik, dalam perjalanan pulang, Cello sudah tidak malu-malu memanggil Ema dengan sebutan sayang, sedangkan Ema masih seperti biasa, mungkin karena dia masih malu-malu, apa lagi Cello adalah kekasih pertama Ema.


*******


Hari ini Dea sedang berada di rumah Dita, mereka berdua sering membuat kue atau memasak bersama, sedangkan Mia jarang berkumpul dengan mereka, karena memang mereka sedikit berjauhan, sedangkan Dea dan Dita mereka bersebelahan.


“Tidak terasa Chaim akan menikah dan tinggal di apartemen bersama istrinya, ya rumah ini semakin sunyi,” ucap mama Dita.


“Kan masih ada Cello mbak, mau gimana lagi, nggak mungkin juga kita melarang anak-anak kita untuk berkeluarga,” jawab Dea.


Dita hanya menarik nafas panjangnya, karena sebenarnya dirinya belum ingin berpisah dengan anak-anaknya, dia masih merasa Chaim dan Cello itu masih anak kecil.


“Mbak masih ada Cello, sedangkan aku, bagai mana bila suatu saat nanti Tya menikah dan mengikuti suaminya, ya tinggal aku dan mas Davin,” lanjut Dea sambil mengaduk adonan kue, karena siang ini mereka ingin membuat kue buat suami dan anak-anak mereka.


Dita hanya tersenyum mendengar ucapan Dea, karena betul juga yang di katakan oleh adik iparnya itu,


terkadang aku belum siap di tinggalkan oleh anak-anak ku dek,” ucap Dita.


““Mereka kan masih tinggal di area jakarta, bagai mana yang tinggal di luar negeri, yang bertahun-tahun baru bisa ketemu dengan anak mereka, kalau Chaim dan Rere kan bisa berkunjung sesuka hati mereka berdua,” lanjut bunda Dea.


Tidak lama kue pertama mereka sudah matang, kini mereka lanjut ke kue yang kedua.


💕💕💕


Jangan lupa di like dan komentar ya kak, terimakasih🙏

__ADS_1


💕💕Bersambung 💕💕


__ADS_2