
Cello yang lagi-lagi mendapatkan ceramah dari mama Dita, “Cello mama sangat berharap kamu secepatnya membuang sifat buruk kamu itu, kasian anak orang kamu permainkan, seperti saja kamu permainkan mama, apa kamu tidak sakit hati, seandainya kakak Tya dan kakak linzy di permainkan oleh laki-laki, di beri harapan palsu oleh laki-laki?" ucap Dita menatap putra bungsunya itu.
Cello hanya diam, mendengar nasehat sang mama, wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan dirinya, selama ini Dita hanya menegur Cello, namun kali ini dia betul-betul mengeluarkan segala unek-uneknya yang sudah lama terpendam.
“Mama ingin kamu menjadi laki-laki yang menghargai wanita, bukan mempermainkan wanita,” lanjut mama Dita menatap Cello.
“Ia ma, Cello berjanji kepada mama, akan meninggalkan sikap buruk aku selama ini, mulai hari ini,” ucap Cello dengan mantap.
Karena dia melihat mata mama Dita yang sudah mulai merah, sedikit lagi akan menangis, dia mengingat kata-kata papa Adit kepadanya, bahwa selama menikah dengan mama Dita, papa Adit tidak pernah membuat mama Dita menangis, itu yang di ingat oleh Cello.
“Apa mama bisa memegang kata-kata kamu nak?”tanya mama Dita kembali.
“Ia ma, mama pegang kata-kata Cello,” jawab Cello dan langsung mendapatkan pelukan hangat dari mamanya.
Dita sedikit lega mendengar Cello akan meninggalkan sifat playboy nya, “Ok mama keluar dulu ya, jangan lupa turun makan,” ucap Dita dan langsung turun ke lantai bawah.
Dita menasehati Cello di dalam kamar Cello, karena dia tidak ingin orang lain mendengarnya, cukup dia dan Cello, apa lagi di rumah bukan hanya mereka berempat namun ada yang lainnya, jadi urusan pribadi tidak boleh jadi konsumsi orang lain.
Di lantai bawah, papa Adit lagi asik mengobrol dengan Chaim dan juga Tya, “Tya dari tadi kau di sini nak?” tanya mama Dita kepada Tya.
“Ia mungkin setengah jam yang lalu ma, soalnya di rumah tidak ada orang, bunda dan ayah lagi keluar, katanya belanja,” jawab Tya panjang lebar.
“Ayo kita makan malam dulu,” ucap Dita saat melihat Cello sudah turun dari kamarnya, mereka semuanya langsung berdiri menuju meja makan.
🌷🌷🌷
“Mbak..., mbak tinggal di butik semalam?” tanya salah satu karyawannya, karena pagi-pagi sekali butik sudah di buka.
__ADS_1
“Ia, semalam malas pulang jadi nginap di sini saja,” jawab Ema.
karyawan tersebut segera masuk dan langsung membersihkan butik seperti biasa, sedangkan Ema lagi keluar membeli sarapan untuk dirinya dan juga karyawannya, ini bukan yang pertama kalinya Ema membeli sarapan untuk karyawannya, namun sudah beberapa kali, setiap dirinya menginap di butik pasti dia akan sarapan bersama dengan karyawannya.
“Apa mbak tidak takut tinggal sendirian di sini?”tanya salah satu karyawannya.
“Nggak lah, mau takut apa juga, aku sudah terbiasa, di rumah pun aku sendirian,” jawab Ema.
Setelah sarapan, mereka melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing, Ema juga kembali masuk ke dalam ruangannya untuk melanjutkan gambarnya yang belum selesai semalam.
Udah berapa hari Cello tidak menghubungi Ema, namun itu yang membuat Ema lebih fokus pada pekerjaannya, apa lagi Ema melihat sendiri kalau Cello sudah mempunyai kekasih.
Ema tidak kecewa atau sakit hati, dirinya malah senang karena tidak menjadi orang ketiga dalam hubungan Cello dan kekasihnya.
****
Anggi yang sangat bahagia karena akhirnya dia dan Cello bisa dekat walaupun belum berpacaran, malam nanti dia dan Cello akan kembali makan malam bersama, Anggi yang melanjutkan kuliahnya di Australia, berencana akan pindah ke sini, karena dia tidak ingin jauh-jauh dengan Cello.
Di kantor Cello hanya fokus dengan handphonenya, dia tersenyum sendiri bagaikan orang gila, karena asik membalas pesan Anggi, dia melupakan pekerjaannya.
“Woi..., kerja jangan hanya main handphone saja,” bentak Tya sambil memukul meja kerja milik Cello.
Cello yang kaget karena lagi-lagi kedapatan main handphone dan mengabaikan pekerjaannya, membuat Tya kembali marah kepadanya, Cello langsung menyimpan handphone milik ke dalam saku celananya dan melanjutkan pekerjaan yang belum ia selesaikan.
“Aku udah berapa kali mengatakan kepadamu dek, kalau di kantor utamakan pekerjaan, tidak ada yang melarang mu main handphone tetapi jangan mengabaikan pekerjaan, karena ini menyangkut banyak orang, kau tau banyak orang yang menggantungkan hidup pada perusaan kita,” nasehat Tya pada Cello.
“Ia kak, maafkan aku,” jawab Cello singkat dan langsung melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Asik dengan pekerjaan, sampai mereka lupa kalau jam kerja sudah habis, papa Adit sudah menghubungi mereka, yang belum juga turun padahal papa Adit sudah menunggu di lobby.
“Astaga, sampai lupa jam pulang kerja,” ucap Tya yang langsung merapikan meja kerjanya, begitu juga dengan Cello, apa lagi malam nanti Cello akan makan malam bersama dengan Anggi.
Tya dan Cello langsung menuju lobby, namun mereka tidak pulang bersama, karena Tya membawa kendaraan sendiri, “Maaf pa, kami lupa waktu,” ucap Tya pada papa Adit yang sudah menunggu.
“Kalian memang terlalu rajin, ini namanya karyawan teladan,” jawab papa Adit bercanda.
Mereka langsung berpisah, Tya pulang sendirian, sedangkan Cello bersama papa Adit. “Kamu hati-hati di jalan ya nak, jangan ngebut-ngebut,” nasehat papa Adit kepada Tya.
“Ia pa, kalian juga hati-hati,” ucap Tya dan langsung meninggal halaman kantor, dan di susul oleh Cello dan papa Adit.
“Besok ada meeting, kamu dan Tya yang wakili papa ya, ini hanya meeting di kantor dengan karyawan, soalnya besok papa akan menghadiri pertemuan dengan klien kita yang baru, mereka mau mengajukan kerja sama dengan perusahaan kita,” ucap papa Adit di dalam mobil.
“Beres pa, aku dan kak Tya pasti bisa kok menggantikan papa besok,” jawab Cello.
Tidak badan lagi obrolan antara papa dan anak, karena papa Adit sibuk mengobrol dengan Davin lewat sambungan telepon, padahal bisa saja mereka mengobrol di rumah, karena mereka bersebelahan, namun itu tidak mungkin, karena sudah aturan dalam keluarga mereka, kalau rumah, fokus dengan keluarga, tidak boleh membawa pekerjaan ke rumah.
Itu sudah aturan dari papa opa Lukman, pekerjaan di selesaikan di kantor, sedangkan di rumah khusus untuk keluarga, karena sudah seharian bekerja, itulah kunci keharmonisan keluarga.
Aturan itu mereka terapkan kepada anak-anak mereka, makanya baik Chaim, Tya atau Cello tidak pernah membawa pekerjaan ke rumah.
Kini Cello dan papa Adit sudah tiba di rumah, dengan cepat Cello membersihkan diri dan bersiap-siap karena ia takut Anggi menunggu lama.
💕🌷💕
LIKE... KOMENTAR... DAN LOVENYA.
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏🙏
Bersambung🌷💕🌷💕