
“Cello kok kamu gitu sih, aku kangen sama kamu,” ucap Dwi kepada Cello.
“Kita sudah tidak memiliki hubungan apa pun, jadi aku berharap kita bisa berteman dengan baik,” jawab Cello.
Namun Dwi tidak mau menerima penjelasan Cello, dia ingin kembali seperti dulu.
“Tetapi Aku juga sudah punya kekasih,” jelas Cello.
Mada hanya jadi pendengar setia saja, Dia ingin keluar namun di larang oleh Cello.
“Aku tidak peduli, kalau aku tidak bisa bersamamu, dia juga tidak boleh, ingat itu Cello,” ancam Dwi kepada Cello.
“Oh aku bisa menebaknya sekarang, berarti selama ini kau yang selalu meneror aku ya? dan kau juga yang meneror kekasihku?” tanya Cello kepada Dwi.
Dwi tidak menjawab, namun bisa di lihat dari raut wajahnya, kalau dia lagi panik, karena dia yang selalu meneror Cello dan Ema selama ini.
“Tidak ada lagi yang ingin di bahas, aku harap kau tinggalkan ruangan saya ini,” pinta Cello kepada Dwi.
Namun bukannya pergi, Dwi malah lebih memilih duduk manis di sofa, membuat Cello dan Mada sedikit emosi, karena kelakuan Dwi. Cello langsung meninggalkan ruangannya, tanpa sepatah katapun.
“Cello, kau mau ke mana?” teriak Dwi.
Namun Cello langsung menutup pintu dengan kerasa, Dwi langsung berdiri mengejar Cello, namun ia kehilangan jejak Cello.
__ADS_1
“Sial, dia tadi ke mana sih, cepat sekali dia menghilang,” ucap Dwi dengan kesal.
Sedangkan Cello Entah kemana, setelah keduanya keluar, barulah Mada kembali ke tempatnya dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
*********
“Bos, sampai kapan kita di sini, sedangkan aku sudah sangat lapar,” ucap Sukri kepada om bertatto.
“Ayo kita pulang dulu, aku juga sudah sangat lapar, nanti sore baru kita kembali ke sini,” ucap bosnya.
Mereka berdua akhirnya meninggalkan butik Ema, yang hampir seharian mereka pantau, tepatnya menunggu Ema, agar mereka bisa menculiknya.
“Bagai mana target kita culik atau langsung habiskan saja?” tanya sukri kepada bosnya.
“Kita culik dan buang ke jurang,” ucap om bertatto.
Setelah makan siang, om bertatto langsung membaringkan tubuhnya di lantai, sedangkan Sukri memilih duduk sambil main games ular-ular di dalam hp jadulnya.
Sedangkan terget yaitu Ema sudah meninggalkan butik lebih awal, karena dirinya tidak ingin bertemu dengan Cello, karena dirinya tau kalau Cello sering datang di mencarinya namun Ema memang tidak ingin menemuinya.
“Ita, aku balik duluan ya, titip butik ya,” pamit Ema kepada asistennya.
“Baik mbak, Hati-hati ya di jalan,” jawab Ita.
__ADS_1
Ema langsung meninggalkan butik setelah pamit pada karyawannya, Rey yang melihat bosnya pulang sendirian sedikit merasa khawatir, namun ia yakin kalau semuanya akan baik-baik saja.
Ema menempuh perjalan beberapa menit, akhirnya tiba di rumahnya, namun dirinya dikagetkan dengan seseorang yang sudah menunggunya di depan pagar, Ema ingin putar bali namun Cello dengan sigap menahan mobilnya.
“Sayang, dengankan aku dulu, aku harap kamu bisa turun dan dengarkan aku dulu,” ucap Cello memohon.
Karena merasa kasihan, karena setiap sore Cello mendatangi rumah Ema akhirnya Eman mengajak Cello masuk ke dalam rumah.
“Ayo duduk dulu,” ucap Ema sedikit canggung karena sudah berapa hari mereka tidak pernah bertemu.
“Terimakasih sayang,” jawab Cello dengan senyum bahagianya.
Ema langsung menuju dapur membuat kopi untuk Cello. tidak lama akhirnya Ema muncul dengan secangkir kopi untuk Cello.
“Ayo minum dulu,” ucap Ema.
“Terimakasih ya,” jawab Cello, dan hanya di balas anggukan kepala dari Ema.
Cello tidak ingin basa-basi, dia langsung menceritakan tentang kesalah paham yang terjadi di antara mereka berdua. Ema hanya diam mendengar penjelasan Cello.
🌊🌊🌊
Hai kak, aku harap kalian tetap mendukung aku, lewat like dan komentar ya kak, terimakasih 🙏🙏
__ADS_1
Aku harap kalau kakak semua berkenan singgah di karya aku yang baru, dengan judul BAGAIKAN ANAK TIRI.
🌊🌊🌊🌊Bersambung🌊🌊🌊🌊