
Sesuai dengan janjinya kepada Cello semalam, setibanya di kantor Davin langsung menghubungi Chua untuk menemuinya di kantor, Chua sudah mengerti kalau ia di minta ke kantor Davin, pasti ada tugas baru lagi dari Davin.
Tidak menunggu lama, akhirnya Chua tiba di kantor Davin, karena sudah sering datang jari dia langsung menuju lantai Lima di mana ruangan Davin berada, tanpa harus ijin kepada resepsionis.
Tok... tok... tok.
“Masuk...,” ucap Davin dari dalam ruangannya.
Chua langsung masuk setelah mendapatkan ijin dari bosnya itu. “Selamat pagi bos, ada apa kok pagi-pagi sekali aku disuruh ke sini?” tanya Chua.
Davin langsung menyodorkan beberapa nomor telepon kepada Chua, “Aku ingin kamu mencari tau siapa si pemilik nomor ini, dia sudah mengancam keponakanku,” jelas Davin kepada Chua.
Chua mengambil beberapa nomor handphone yang diserahkan oleh Davin, Chua memperhatikan satu persatu nomor tersebut.
“Pelakunya pengecut, kok harus pakai nomor sebanyak ini? satu aja cukup kalau memang pemberani,” ucap Chua tersenyum sinis.
“Baru pemula mungkin,” jawab Davin tertawa.
Mereka berdua asik mengobrol, tiba-tiba handphone Davin berdering, ternyata Cello yang menghubunginya.
“Halo... ada apa nak?” tanya Davin kepada Cello.
__ADS_1
“Halo juga ayah, maaf aku menganggu waktu ayah, namun ini sangat penting,” ucap Cello di seberang sana.
“Ada apa, ayo cerita ke ayah,” jawab Davin.
Cello menceritakan teror yang di alami juga oleh kekasihnya, Davin hanya diam menyimak penjelasan Cello.
“Baik lah nak, kamu tenang saja, ayah akan mencari tahunya,” ucap Davin setelah mendengar penjelasan dari Cello.
“Baiklah ayah, aku mau lanjut kerja dulu, soalnya papa memberiku banyak tugas,” jawab Cello.
“Ok nak, selamat bekerja,” jawab Davin dan langsung memutuskan sambungan telepon mereka.
Davin kembali menatap Chua, “Bukan hanya Cello yang ia teror tetapi kekasih Cello juga,” ucap Davin kepada Chua.
Davin setuju dengan pendapat Chua, namun dia tetap ingin tau siapa pelakunya, setelah puas mengobrol, akhirnya Chua pamit dan kembali ke markas untuk melanjutkan pekerjaan yang baru di berikan Davin padanya.
“Bos..., aku pamit pulang dulu, mau mencari tahu siapa cacing nakal ini,” pamit Chua kepada Davin.
“Ok terimakasih Chua, maaf sudah sering kali merepotkan mu, hati-hati di jalan,” ucap Davin.
Chua langsung meninggalkan kantor Davin dan menuju basecamp mereka, karena di sana Chua dan Davin suka berkumpul, kantor kedua Davin setelah perusahaan. tetapi tidak banyak yang tau hal itu, hanya beberapa saja dari keluarganya yang tau.
__ADS_1
*********
Sedangkan Ema tidak ke butik hari ini, namun ia ke sebuah toko untuk membeli CCTV seperti yang di usulkan oleh Ita. karena dia juga merasa perlu memasangnya di rumah, apa lagi dirinya hanya sendirian.
Ema pergi tidak sendirian, namun ia pergi bersama dengan Ita dan Rey, sedangkan butik tetap buka karena ada karyawan yang lainnya.
“Kalau sudah terpasang nanti, mbak sudah sedikit merasa aman, karena mbak bisa memantau dari dalam kamar mbak sendiri,” ucap Rey kepada Ema. setelah mereka sudah selesai membeli cctv dan kini mereka langsung kembali ke rumah Ema.
“Ia benar juga, kenapa aku tidak kepikiran dari dulu, apa lagi aku hanya tinggal sendirian,” jawab Ema.
“Itu karena mbak terlalu berani,” sambung Ita.
Mereka bertiga tertawa di dalam mobil, mereka kini kembali ke rumah Ema, karena teknisinya akan segera datang untuk memasang cctv yang baru mereka beli.
“Nanti kamu temani teknisinya ya Rey,” ucap Ema kepada Rey.
“Siap mbak, aku pasti memantau mereka agar memasangnya dengan baik tidak asal-asalan,” jawab Rey.
Tidak lama akhirnya mereka tiba di rumah Ema, setelah masuk kedalam rumah, Ita langsung menuju dapur untuk mengambil minuman dingin di dalam kulkas karena mereka bertiga sudah sangat haus. mereka menikmati minuman dingin dan cemilan yang ada di atas meja sambil menunggu si teknisi toko datang.
💕💕💕💕
__ADS_1
Hai kak, jangan pernah bosan mendukung aku, lewat like dan komentarnya ya kak, terimakasih🙏🙏
.\*💗Bersambung💗\*.