Pelabuhan Terakhir Sang Playboy

Pelabuhan Terakhir Sang Playboy
Bab 57


__ADS_3

Setelah mendapat telepon dari Chua, Cello langsung menuju lokasi yang tempat Ema di sekap, karena Chua sudah mengirimkan alamat kepada Cello.


Cello langsung meninggalkan kantornya dengan tergesa-gesa, karena dia sangat khawatir dengan keadaan Ema.


“Bapak mau ke mana? kok buru-buru amat pak?” tanya Mada kepada Cello.


“Aku ada urusan sebentar, kalau papa mencari aku, suruh hubungi aku saja,” ucap Cello kepada Mada.


“Baik Pak, hati-hati di jalan,” ucap Mada.


Cello hanya mengangguk dan langsung meninggalkan Mada, karena Chua dan Davin sudah menuju lokasi tempat Ema di sekap.


*********


“Hahaha..., akhirnya aku bisa membalas sakit hati aku kepada kamu,” ucap Dwi sambil tersenyum sinis kepada Ema.


“Ummm...,” ucap Ema memberontak, karena dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, karena badannya di ikat dengan kursi, sedangkan mulutnya di sumbat dengan kain.


Dwi hanya tertawa melihat Ema tidak bisa berbuat apa-apa, Dwi langsung menarik rambut Ema dengan keras, “rasakan ini, makanya jangan cari masalah denganku j*lang,” ucap Dwi sambil menarik rambut Ema, sampai Ema terjatuh dengan kursinya.


bukan hanya menarik rambut Ema, namun Dwi juga menampar Ema berulang kali, sampai mengeluarkan darah dari hidungnya, Ema hanya bisa pasrah saja, karena dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Dwi juga menginjak kaki Ema saat sudah terjatuh ke lantai, tidak puas dengan hanya mengajak kakinya, Dwi menendang tubuh Ema yang sudah tidak berdaya, Dwi betul-betul kesurupan.


Kini Cello dan yang lainnya sudah tiba di lokasi yang di tempat Ema di siksa, saat turun dari mobil, anak buah Chua langsung menghampiri mereka.


“Bos, mereka sangat banyak, preman itu ternyata memanggil temannya untuk menjaga lokasi ini,” jelas anak buah Chua.


Chua hanya tersenyum mendengar penjelasan anak buahnya, “Segitu saja kau sudah takut,”ayo tunjukan di mana korban di sekap,” ucap Chua.

__ADS_1


Mereka ada di dalam gedung itu, dari tadi ada seorang wanita masuk bersama dengan bos dari preman-preman itu. jawab anak buahnya.


Karena di luar banyak permanen yang menjaga lokasi tersebut, terpaksa mereka harus berolahraga sejenak, perkelahian tidak terhindarkan, walaupun sudah tua namun jangan temenan mereka, apa lagi Chua dan Davin, namun kekuatan mereka tidak bisa di ragukan.


Setelah lawan mereka semuanya tumbang, anak buah Chua sudah mengikat mereka karena sedikit lagi polisi datang menjemput mereka.


Cello langsung masuk ke dalam ruangan bersama Chua dan Davin, mereka langsung di hadang oleh sukri dan juga om bertatto, sedangkan Ema sudah sangat hancur, mukanya sudah kebab karena pukulan dari Dwi. Cello sangat marah melihat Dwi, sedangkan om bertatto dan sukri sudah di lumpuhkan oleh Chua dan anak buahnya.


“Jangan mendekat, atau dia aku bunuh,” ucap Dwi mengancam sambil menodongkan pisau di kepada Ema.


Cello dan lainnya hanya dia tidak ada yang berani mendekati, karena mereka lebih mementingkan keselamatan Ema.


Tiba-tiba salah satu dari anak buah Chua datang menendang Dwi hingga tersungkur ke lantai, Dwi masih ingin bangkit dan mengambil pisau yang terjatuh ke lantai, namun dengan sigap anak buah Chua menendang pisau tersebut.


Cello langsung membuka ikatan Ema, dia sangat hancur melihat keadaan Ema yang sangat lemah. Davin langsung menelfon Chaim agar datang ke lokasi penyekapan mengambil Dwi dan lainnya.


“Kau bawah Ema ke rumah sakit, biar om Chua yang menunggu Chaim di sini,” ucap Ayah Davin kepada Cello.


Cello dan berapa anak buah Chua, langsung meninggalkan lokasi dan segera menuju rumah sakit, sedangkan Chua dan lainnya masih menunggu Chaim untuk datang menjemput Dwi dan anak buahnya.


Dwi yang memberontak ingin lepas, namun sudah tidak bisa, karena dia sudah di ikat, seperti yang lainnya. tidak menunggu lama akhirnya polisi datang menjemput Dwi dan lainnya untuk proses selanjutnya.


Sedangkan Cello sudah tiba di rumah sakit, dia langsung menggendong Ema masuk ke ruangan UGD karena Ema sudah pingsan.


Suster langsung membersihkan muka Ema yang lebam karena pukulan Dwi. sedangkan Cello hanya bisa menunggu di luar saja.


Tidak lama seorang dokter keluar dari ruangan UGD, “ keluar Ibu Ema,” ucap dokter muda tersebut.


“Ia dokter, saya keluarganya, bagai mana keadaan dia?” tanya Cello yang sedikit khawatir.

__ADS_1


“Ibu Ema baik-baik saja, hanya butuh istirahat saja, lebam di mukanya juga akan segera sembuh,” ucap dokter tersebut.


Cello yang mendengar penjelasan dokter sangat bahagia karena kekasihnya tidak mengalami luka yang serius atau trauma.


Cello ingin Ema di rawat di rumah sakit saja, sampai dia kembali pulih betul, kini Ema sudah di pindahkan ke salah satu ruangan VIP.


“Maafkan aku sayang, karena tidak bisa menjaga kamu,” ucap Cello menatap Ema yang masih tertidur.


Cello merasa kecewa pada dirinya sendiri, karena tidak bisa menjaga kekasihnya, Cello terus menggenggam tangan Ema yang masih tertidur, mungkin karena capek dan juga pengaruh obat membuat Ema tertidur dengan pulas.


Sedangkan di kantor polisi, Dwi dan lainnya sedang di interogasi, namun kali ini yang menginterogasi Dwi adalah Chaim.


Namun Dwi tidak fokus dengan pertanyaan yang di berikan oleh Chaim, dia hanya fokus dengan ketampanan Chaim.


“Bapak sangat ganteng,” puji Dwi tanpa malu.


Chaim hanya fokus menatap layar komputer yang ada di depannya.


“Apa penyebabnya hingga kamu memukul korban sampai tidak berdaya begitu?” tanya Chaim kepada Dwi.


dan lagi-lagi Dwi menjawab dengan asal. “aku rela menjadi istri kedua bapak, asalkan bapak mau,” jawab Dwi kepada Chaim.


Chaim yang sedikit Emosi, karena Dwi tidak bisa menjawab dengan baik, langsung meminta kepada rekannya untuk memasukkan Dwi ke dalam sel tahanan.


“Aku di penjara seumur hidup pun, aku tidak keberatan asalkan aku tiap hari bersama bapak polisi ganteng itu,” ucap Dwi pada rekan Chaim.


Namun tidak ada jawabnya dari rekan Chaim, membuat Dwi sedikit emosi, seandainya ini bukan kantor polis.


************

__ADS_1


Jangan lupa di like dan komentar ya kak, terimakasih🙏🙏


💕💕bersambung 💕💕


__ADS_2