Pelabuhan Terakhir Sang Playboy

Pelabuhan Terakhir Sang Playboy
Bab 61


__ADS_3

Ema yang sudah bersiap-siap karena tidak lama lagi Cello datang menjemputnya, sesuai dengan janji Cello semalam. tidak lama akhirnya Cello tiba juga di rumah Ema.


“Udah siap? ayo kita jalan,” ajak Cello.


Mereka berdua langsung menuju rumah Cello, dalam perjalanan Ema kelihatan sedikit tegang, namun dia berusaha untuk menutupinya.


“Santai saja sayang, keluarga aku tidak jahat kok,” ucap Cello, saat melihat ada sedikit ketegangan pada Ema.


“Aku takut,” jawab Ema.


Cello langsung menggenggam tangan Ema, “ kamu jangan takut, ada aku di sini dan mama sendiri yang meminta kamu untuk hadir.


Ema hanya tersenyum mendengar ucapan Cello, mereka berdua asik mengobrol, akhirnya tidak terasa mereka sudah tiba di depan rumah Cello.


“Ayo turun, kayaknya dia dalam sudah sangat ramai,” ucap Cello setelah memarkirkan mobilnya dengan sempurna.


Cello dan Ema akhirnya masuk ke dalam rumah, dan langsung di sambut oleh mama Dita di depan pintu.


“Halo sayang, selamat datang ayo masuk,” ucap mama Dita kepada Ema.


“Terimakasih tante, ” jawab Ema.


Mereka berdua akhirnya mengikuti mama Dita dari belakang, Cello langsung memperkenalkan Ema kepada keluarganya yang ada di dalam rumah, sedangkan Chaim dan juga Rere belum tiba.


Kini Ema langsung di ajak Tya untuk bergabung dengan dirinya dan juga Linsy.


Mereka bertiga memang sudah sangat akrab, membuat Ema tidak merasa asing, dia juga sangat bahagia karena keluarga Cello sangat baik padanya tidak seperti yang dia pikirkan.


Chaim dan Rere akhirnya tiba juga, membuat suana semakin ramai dan juga haru, karena Chaim dan Rere memberikan kado yang sangat spesial buat papa Adit dan juga mama Dita yaitu kehamilan Rere.


Bukan cuma mama Dita dan papa Adit yang bahagia, tapi semua keluarga mereka sangat bahagia.


“Kapan makannya ini, aku sudah sangat lapar,” ucap Tya membuat semuanya kembali tertawa.


“Ayo... ayo kita makan, aku juga sudah sangat lapar,” lanjut papa Adit.


Mereka semuanya pada berkumpul di meja makan, tapi tidak dengan Rere, karena dia sangat tidak bisa mencium bau makanan, dia hanya bisa makan buah saja.


“Kamu mau makan apa sayang?” tanya mama Dita pada Rere.


“Tidak ma, aku makan buah saja, soalnya aku tidak bisa mencium bau makanan,” jawab Rere.


Tidak lama akhirnya Chaim muncul dengan membawa buah di bawah piring, dan di berikan kepada istrinya.

__ADS_1


Ema yang lagi asik mengobrol dengan bunda Dea tiba-tiba di hampiri oleh mama Dita.


"Kayaknya lagi asik ni, lagi bahas apa sih?" tanya mama Dita dan langsung duduk di samping Ema.


"Nggak juga, hanya sekedar ngobrol aja" jawab bunda Dea, sedangkan Ema hanya tersenyum.


Mereka bertiga asik mengobrol, Ema sudah tidak sungkan lagi sama mama Dita dan bunda Dea, Cello yang memperhatikan mereka bertiga sangat senang, karena Ema bisa cepat akrab dengan mamanya.


"Kamu tinggal dengan siapa di sini nak?" tanya mama Dita.


"Aku tinggal sendiri, mama tinggal di luar kota" jawab Ema.


"Jadi mama kamu dan papa kamu tinggal di luar kota? kamu hebat masih mudah sudah hidup mandiri" puji bunda Dea.


"Terimakasih tante, ia mama tinggal bersama papa sambung saya, karena papa kandung saya sudah meninggal karena sakit" lanjut Ema.


"Aduh minta maaf nak, tante tidak tau" jawab bunda Dea pada Ema.


Sedangkan mama Dita langsung memeluk Ema karena.


"Tidak apa-apa tante, kan tante juga tidak tau" ucap Ema.


Mama Dita memperhatikan muka Ema, dan dia teringat pada sahabatnya yang sampai sekarang dia belum mengetahui keberadaan nya.


"Kamu itu mirip sekali sahabat aku dulu, tapi mama kehilangan jejak, nggak tau sekarang dia ada di mana, karena nomor kontaknya sudah tidak bisa di hubungi" cerita mama Dita.


Ema yang mendengar cerita mama Dita, dia ikut meneteskan air matanya. mama Dita baru memperhatikan Ema, karena baru kali ini mereka duduk mengobrol.


"Kalau boleh mama tau, nama papa kamu siapa?" tanya mama Dita penasaran.


"Sampai segitunya mbak, kayak menginterogasi anak habis maling aja" protes bunda Dea tertawa.


"Nama papa aku, Arman Mulyono" jawab Ema.


"Apa? Arman Mulyono?" tanya mama Dita kaget dan membuat yang lainnya pada melihat ke arah mereka bertiga.


"Ia tante" jawab Ema dengan senyum ramahnya.


Dita langsung memeluk Ema dengan erat, sambil menangis, membuat yang lainnya pada panik, terlebih lagi dengan Cello.


"Mama kenapa sih?" tanya Cello pada bunda Dea.


"Entah... bunda juga heran" jawab bunda Dea.

__ADS_1


Mereka semuanya berkumpul mengelilingi mama Dita dan Ema, mama Dita masih menangis sedangkan Ema membalas pelukan mama Dita dengan sedikit heran.


"Ternyata kamu anaknya sahabat mama, papa kamu itu sahabat aku dulu, bersama dengan mama Lia, kita bertiga sahabatan selalu membelah satu sama yang lainnya, kita selalu sama-sama" ucap mama Dita lagi.


Ema yang mendengar itu akhirnya ikut menangis juga, suasana bahagia berubah jadi haru karena pertemuan mama Dita dan Ema.


"Aku harus beritahukan Lia kalau Arman sudah tidak ada" ucapnya lagi sambil mengusap air matanya.


"Jadi kedua anak mama Dita menikah dengan anak sahabatnya sendiri dong" ucap Tya membuat semuanya kembali tertawa.


Dita tidak peduli dengan candaan mereka, dia masih tetap memeluk Ema, apa lagi Arman sahabat sudah tidak ada, itu yang membuat Dita tidak bisa membendung air matanya, Mia yang juga ikut bergabung dengan mereka, ikut bersedih karena dia tau betul dengan sosok Arman.


Bukan cuma Dita atau Mia, oma Astrid, opa romy dan ayah Rio sangat mengenal Arman, karena dulu sering sekali datang berkunjung di rumah oma Astrid.


"Papa kamu sakit apa nak?" tanya oma Astrid pada Ema.


"Papa dapat serangan jantung, masih sempat di bawah lari ke rumah sakit tapi tidak dapat tertolong lagi" jawab Ema.


"Boleh antar mama ke sana, ke makam papa kamu?" tanya Dita kembali.


"Sangat boleh tante, kapan saja tante ada waktu Ema siap mengantar tante ke sana" jawab Ema.


"Kamu jangan panggil tante, mulai sekarang panggil mama dan om Adit kamu harus panggil papa" ucap mama Dita.


Ema mengiakan permintaan mama Dita, sedangkan Cello bahagia mendengar itu, dia juga tidak menyangka kalau kekasihnya itu anak dari sahabat mamanya.


"Dan kamu Cello, mama harap kamu tidak mempermainkan Ema, karena kapan kamu menyakiti dia kamu akan berhadapan dengan mama, ingat itu" ancam mama Dita pada Cello.


"Siap ma, percaya deh sama Cello" jawab Cello tersenyum bahagia.


"Senyum-senyum paling suka bikin anaknya orang menangis" ucap Linzypada Cello.


"Kamu kenapa sih? sensi banget deh sama aku?" tanya Cello.


"Emang kok, yang aku katakan betul adanya" sambung Linzy.


"Stop... berisik, kalian bertiga ini ya selalu saja ribut" bentak oma Astrid.


"Keturunan dari mama dan ayahnya, mereka dulu kan suka sekali berdebat, sampai hal yang tidak penting diperebutkan" jawab opa Romy.


Cello dan Linzy, bagaikan Dita dan Rio semasa mudah, mereka selalu saja berdebat kalau lagi bersama, hal yang tidak penting saja di perebutkan, mereka berdua tidak ada bedanya dengan mama Dita dan ayah Rio.


🌷🌷🌷

__ADS_1


Jangan lupa di like dan komentar ya kak🙏🤗 terimakasih🙏🙏


🌷💕🌷💕 bersambung 💕🌷💕🌷


__ADS_2