Pelabuhan Terakhir Sang Playboy

Pelabuhan Terakhir Sang Playboy
Bab 52


__ADS_3

Setelah beberapa hari menyendiri di rumah, kini Ema kembali bekerja seperti biasa, namun dirinya berusaha agar tidak bertemu dengan Cello, karena dirinya belum siap dengan itu. karena Ema masih merasa kecewa dengan Cello.


Setelah bersiap-siap Ema langsung berangkat ke butik, dalam perjalanan ke butik Ema di ikuti dari belakang, namun dirinya tidak sadar hal itu, karena dirinya tidak pernah merasa curiga sedikit pun, kalau ia di dalam bahaya.


“Bos apa betul itu target kita?” tanya sukri kepada bosnya, yaitu om bertatto.


“Ia, karena sesuai dengan foto dan alamat rumah yang di berikan kepada kita,” jawab om bertatto.


“Kasian cantik sekali, tapi kenapa kita di suruh menghabisi dia?” tanya Sukri kembali.


“Kau tidak usah banyak bertanya, kita ikuti saja demi uang, kapan kita kayaknya kalau kau masih menggunakan perasaan,” jawab om bertatto.


Tetapi kali ini mereka hanya mengikuti Ema saja sampai di butik, mereka ingin mencari momen yang tepat untuk menghabisi Ema.


“Selamat pagi semuanya,” sapa Ema saat masuk ke dalam butik.


“Pagi mbak,” jawab karyawan serentak.


Rey yang sedikit merasa aneh dengan mobil yang sudah dua hari terparkir di depan butik mereka, dia langsung memanggil rekannya yang lain.


“Hei... coba ke sini dulu, aku sangat curiga dengan mobil di parkir di seberang jalan sana, dari kemarin aku melihatnya di situ,” ucap Rey kepada rekannya sambil menunjuk cctv.


“Oh ia, Jangan-jangan dia orang jahat lagi,” jawab yang lainnya.


“Aku sedikit khawatir dengan mbak Ema, karena mobil itu mengikuti mbak Ema tadi,” jawab Rey.

__ADS_1


Karena merasa ada yang tidak beres, akhirnya rey langsung keluar butik ingin melihat mobil tersebut.


“Bos, ada yang mendekati mobil kita, bagai mana ini?” tanya sukri kepada bosnya.


“Ayo jalan, jangan sampai mereka curiga kepada kita,” jawab om bertatto.


Sukri langsung melajukan mobilnya, meninggalkan butik Ema. sedangkan Rey hanya berdiri di pinggir jalan karena mobil yang ingi dia dekati sudah pergi.


Rey langsung kembali masuk ke dalam butik, dia langsung menghampiri rekanya yang lagi duduk di meja cctv.


“Aku curiga dengan mereka, soalnya saat aku mau mendekat, mereka langsung pergi,” ucap Rey.


Rey dan temannya sedikit mengkhawatirkan keselamatan Bos mereka, apa lagi Ema hanya tinggal sendirian.


*********


“Bagai mana? apa dia sudah di kubur?” tanya dwi kepada om bertatto.


“Belum bos, kami makasih menunggu waktu yang tepat,” jawab om bertatto kepada dwi.


Mendengar itu, Dwi sangat marah, karena orang suruhannya belum bisa melaksanakan tugasnya dengan baik.


“Apa? menunggu momen yang baik? aku tidak peduli, kalian harus menyingkirkan dia hari ini juga,” ancam Dwi kepada orang suruhannya, Dwi langsung menutup sambungan teleponnya.


Sedangkan si om bertatto hanya diam, karena dia tidak ingin mendapatkan resiko yang tinggi, mereka tetap memantau Ema dari jauh.

__ADS_1


Setelah memutuskan sambungan teleponnya Dwi langsung bergegas ke kantor Cello, kali ini dia lebih berani lagi, padahal dulu dia tidak pernah mendatangi Cello ke kantor.


Dia ingin mendekati Cello kembali, bagai manapun caranya Cello harus kembali padanya.


Tidak menunggu lama Dwi akhirnya tiba di kantor Cello, “Hai mbak, ruangan pak Cello di lantai berapa ya?” tanya Dwi pada resepsionis.


“Apa ibu sudah membuat janji dengan pak Cello?” tanya resepsionis balik kepada Dwi.


“Ia sudah, kebetulan aku temannya pak Cello,” jawab Dwi berbohong.


Sang resepsionis langsung memberitahukan kepada Dwi letak ruangan Cello, Dwi langsung tersenyum bahagia, karena dia berhasil membohongi resepsionis itu, dia langsung menuju lantai di mana letak ruangan Cello.


Sesampainya di atas dia langsung menuju ruangan Cello namun di hadang oleh Mada.


“Permisi mbak, maaf mbak mau ke mana?” tanya Mada dengan sopan.


namun Dwi malah menatap sinis kepada Mada, membuat Mada tersenyum, membuat Dwi sedikit emosi kepada Mada.


“Kau siapa? aku ingin bertemu dengan Cello,” ucap Dwi sedikit sombong.


“Aku sekertarisnya di sini, dan berhak bertanya kepadamu karena itu tugasku,” jawab Mada tidak mau kalah dengan Dwi.


Dwi tidak peduli, dia tetap ingin menerobos masuk ke dalam ruangan Cello, namun dia tetap di halangi oleh Mada, dan akhirnya terjadi keributan antar mereka berdua, mendengar ada keributan di luar, Cello langsung berdiri ingin mengeceknya, namun Dwi sudah membuka pintu duluan, membuat Cello sedikit kaget dengan kedatangan Dwi.


“Ngapain kau ke sini?” tanya Cello kepada Dwi.

__ADS_1


“Aku ingin bertemu dengan kamu, karena aku masih sayang kamu,” jawab Dwi dan langsung memeluk Cello.


Dengan sigap Cello melepaskan pelukan Dwi, dan menyuruh Dwi duduk di sofa yang ada di ruangannya dan memanggil Mada untuk menemaninya Dwi di dalam ruangannya, karena dia tidak ingin masalahnya bertambah, apa lagi sampai sekarang dia belum bisa menghubungi Ema.


__ADS_2