
Setelah selesai semuanya, akhirnya Rere, mama Dita dan mama Lia pamit pulang, sedangkan cello masih tinggal.
“Nggak pulang Cello?” tanya mama Dita.
“Sedikit lagi ma, ini masih jam istirahat,” jawab Cello.
Sedangkan Ema hanya tersenyum kikuk, karena dirinya tidak menyangka akan bertemu dengan mama Cello.
karena Rere ingin kembali ke kantor, terpaksa mama Lia pulang bersama mama Dita, karena Rere tidak bisa mengantar mamanya kembali ke rumah.
Sedangkan Cello hanya duduk di sofa melihat mereka pergi, tidak lama Ema datang duduk di depannya.
“Ternyata mama kamu sangat cantik dan masih awet mudah,” puji Ema kepada Cello.
“Ia dong, dia itu mama gaul, kalau lagi ngumpul dengan anak dan ponakannya dia selalu bertingkah seperti anak mudah,” jawab Cello tersenyum.
Karena mereka berdua belum makan siang, akhirnya mereka memutuskan untuk mencari makan siang di luar.
Sedangkan mama Lia memuji kecantikan Ema, “Dita Ema itu cantik ya, cocok dengan Cello,” ucap Lia kepada Dita.
“Aku serakah saja pada anak-anak, kalau Cello merasa cocok ya tidak apa-apa,” jawab Dita tertawa.
Cello selalu berhati-hati kalau lagi jalan dengan Ema, karena dirinya takut di dapati oleh parah mantannya, dia tidak ingin hubungan dengan Ema berantakan.
“Kita makan di sini saja ya, soalnya aku sudah sangat lapar,” ucap Cello kepada Ema.
“Boleh, aku setuju-setuju saja,” jawab Ema.
Akhirnya Cello membelokkan mobilnya ke dalam cafe tersebut, setelah terparkir dengan baik, akhirnya mereka berdua turun dari mobil, dan langsung masuk ke dalam cafe, setelah mencari tempat yang kosong, akhirnya mereka duduk di kursi yang ada di sudut cafe.
Setelah duduk, mereka langsung di hampiri oleh pelayanan, sambil membawa daftar menu.
“Selamat siang mbak dan mas, silakan di pesan,” ucap pelayanan tersebut sambil menyodorkan daftar menu ke Ema dan juga Cello.
Ema dan Cello langsung memesan makanan untuk mereka masing-masing, karena mereka berdua juga sudah sangat lapar.
__ADS_1
Dari kejauhan Stevie melihat Cello dengan wanita lain, namun Stevie sudah sangat muak dengan sikap Cello yang selalu mempermainkan wanita, karena Stevie juga mantan Cello.
“Semoga si playboy itu tidak mempermainkan wanita itu lagi, kasihan dia sangat cantik,” batin Stevie, tidak lama Stevie langsung meninggalkan cafe tersebut.
Akhirnya pesanan mereka datang juga, Ema walaupun Cello langsung menyantap makanan mereka, “Apa kamu tidak telat kembali ke kantor?” tanya Ema ke Cello, karena sudah lewat jam istirahat.
“Tidak apa-apa, aku sudah ijin tadi ke kantor,” jawab Cello.
Ema hanya mengangguk mendengar jawaban Cello, karena Ema takut kalau Cello telat kembali ke kantor, apa lagi Cello sudah dari tadi meninggal kantor.
“Ayo kita langsung jalan,” ucap Ema, saat mereka sudah selesai makan siang.
“Kenapa sangat buru-buru sih?” tanya Cello.
“Ini udah jam berapa? kamu dari tadi meninggalkan kantor, walaupun itu kantor bapak kamu, tetapi kamu tidak boleh seenaknya meninggalkan kantor begitu saja,” nasehat Ema kepada Cello.
Cello hanya tersenyum mendengar nasehat Ema, “memang calon istri yang baik,” ucap Cello kepada Ema.
“Udah ah, ayo jalan,” ucap Ema, yang langsung berdiri duluan, dan di susul Cello, namun Cello masih menuju ke kasir, untuk membayar makanan mereka berdua tadi.
Cello langsung mengantar Ema kembali ke butik baru ia kembali ke kantornya, pasti Tya sudah mengomel karena dirinya sudah telat kembali ke kantor, tidak lama akhirnya Ema dan Cello tiba di butik, “Maaf aku tidak turun ya, soalnya aku ingin kembali ke kantor,” ucap Cello kepada Ema.
Setelah Ema masuk ke dalam butik, barulah Cello melanjutkan perjalanan kembali ke kantor, ia menempuh perjalanan beberapa menit akhirnya Cello tiba juga di kantornya.
Setelah memarkir mobilnya, Cello langsung menuju lantai paling atas menggunakan lift, “cepat sekali pulangnya?” sindir Tya saat Cello masuk ke dalam ruangannya.
“Bukan begitu kak, tadi saat aku sampai di butiknya yayang Ema, di sana juga ada mama Dita, tante Lia dan kak Rere, makanya aku dan Ema lambat keluar makan siang,” jawab Cello kepada kakak sepupunya.
“Ngapain mereka di sana?” tanya Tya sedikit penasaran.
“Mereka datang mencari gaun pengantin untuk kak Rere nantinya,” jawab Cello kembali.
Tya tidak bertanya lagi, dia kembali fokus dengan pekerjaannya yang masih banyak, begitu juga dengan Cello dia langsung melanjutkan pekerjaannya, karena pekerjaan Cello masih banyak.
************
__ADS_1
Setelah tiba di rumahnya, mama Dita langsung di hampiri oleh Dea, “bagai mana mbak, apa sudah menemukan baju yang cocok untuk Rere?” tanya Dea kepada Dita.
“Ia sudah, kami tadi ke butik milik wanita yang di sukai Cello,” jawab mama Dita.
Dea sangat kaget mendengar jawaban kakak iparnya itu, “Jadi secara tidak sengaja mbak sudah bertemu dengan calon menantu mbak,” ucap Dea tertawa.
“Anaknya baik, dia sangat sopan dan paling bikin aku kagum, dia masih sangat mudah tapi sudah memiliki butik, dan koleksi bajunya sangat bagus dan elegan,” puji Dita.
“Aku jadi penasaran kalau begitu, kalau Chaim menikah nanti aku akan ke sana bersama Tya mencari gaun,” lanjut Dea.
“Tapi aku takut kalau Cello hanya mempermainkan dia, kau tau kan Cello itu bagai mana,” ucap mama Dita.
Bunda Dea hanya tersenyum, karena dia yakin keponakannya itu tidak akan mempermainkan Ema, karena sudah lama Cello mengincar Ema, namun Ema selalu cuek kepadanya.
**********
Jam pulang kerja sudah tiba, Tya dan Cello langsung merapikan meja kerja mereka, “kak Tya pulang sendiri atau barengan dengan aku dan papa?” tanya Cello kepada Tya.
“Pulang sendiri, soalnya aku bawa mobil tadi,” jawab Tya.
“Ok, aku ke ruangan papa dulu, kak Tya hati-hati di jalan,” ucap Cello kepada kakak sepupunya itu.
Mereka akhirnya berpisah, Tya langsung menuju lift, sedangkan Cello masih ke ruangan papa Adit.
“Pa..., belum pulang?” tanya Cello kepada papanya.
“Sedikit lagi nak,” jawab papa Adit.
Cello langsung duduk di sofa yang ada di ruangan papanya, dia memerhatikan papanya yang masih sibuk dengan pekerjaannya yang masih numpuk di meja kerja papanya.
“Masih banyak yang harus papa kerjakan?” tanya Cello kepada papanya.
“Sedikit lagi kok semuanya selesai,” jawab papa Adit fokus dengan pekerjaannya, Cello yang melihat papanya sangat sibuk, mereka sedikit kasihan, sedangkan dirinya sering bermalas-malasan bekerja, ada pantas Tya selalu marah-marah kepadanya, ternyata jadi CEO itu tidak gampang.
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Jangan lupa di like, komentar, vote dan juga lovenya ya kak, terimakasih🙏🙏
🌷💕🌷Bersambung 💕🌷💕