Pelabuhan Terakhir Sang Playboy

Pelabuhan Terakhir Sang Playboy
Bab 26


__ADS_3

Kini waktunya makan siang tiba, Cello langsung meninggalkan ruangannya, karena dia tidak ingin telat menjemput Ema.


Cello tidak peduli dengan godaan dari Tya, menurutnya tidak ada waktu untuk meladeni Tya saat ini, yang utama adalah Ema. sambil berharap semoga nanti dia tidak bertemu dengan parah mantannya yang bisa membuat Ema hilang kepercayaan kepadanya.


Cello langsung meninggalkan halaman kantor dan segera menuju butik milik Ema, dia juga sudah mengirim pesan pada Ema kalau dirinya sudah menuju butik.


Setelah beberapa menit Cello meninggalkan kantor, tidak lama Erni datang ingin menemui Cello, karena ajakannya tadi pagi di tolak oleh Cello, makanya dia ingin menemui Cello secara langsung, namun sayang Cello lebih duluan meninggalkan kantor.


Erni merasa sedikit kesal, karena dia tidak bisa menemui Cello, “kali ini aku gagal tapi berikutnya tidak akan gagal lagi,” batin Erni dan langsung meninggalkan halaman kantor Cello.


Kini Cello sudah tiba di depan butik Ema, dia segara turun dan langsung masuk ke dalam, “mbak bisa bisa bertemu dengan Ema?” tanya Cello.


“Oh silakan tunggu sebentar, saya panggilkan dulu ya pak,” jawab salah satu karyawan Ema.


Cello. langsung duduk di ruang tunggu, tidak lama Ema keluar dari ruangannya. “Ayo kita jalan,” ucap Ema.


Mereka berdua langsung. meninggalkan butik dan menuju sebuah cafe yang belum pernah Ema datangi, “Jauh amat cafenya,” tanya Ema.


“Biar jauh asalkan tempatnya nyaman dan indah, kamu nanti tidak akan menyesal kok, kalau sudah sampai di sana,” ucap Cello.


Padahal Cello sengaja mencari tempat yang belum pernah ia datangi dengan parah mantannya, agar tidak bertemu dengan mantan-mantannya nanti.


“ Bagus kan?” tanya Cello kepada Ema saat mereka sudah tiba.


“Ia, pemandangannya bagus dan sangat indah,” jawab Ema bahagia.


Cello hanya tersenyum melihat reaksi Ema, mereka berdua langsung masuk ke dalam cafe, Cello sengaja mencari tempat yang berada di sudut untuk menjaga-jaga siapa tau ada mantannya datang ke cafe tersebut.


Setelah memesan makanan, mereka berdua asik mengobrol, Cello juga sengaja mennon-aktikan handphonenya, agar makan siangnya dengan Ema tidak terganggu. begitulah seorang playboy, dia mempunyai seribu cara agar semuanya bisa berjalan dengan lancar.


Tidak lama makanan mereka akhirnya datang juga, Cello dan Ema langsung menyantap makanan mereka, karena memang mereka berdua sudah sangat lapar. sambil makan mereka berdua mengobrol santai.


“Aku salut sama kamu, di usia mudah kamu sudah bisa menjadi seorang desainer yang andal dan juga sudah mempunyai butik sendiri,” puji Cello kepada Ema.


“Terimakasih, tapi aku masih dalam tahap belajar, aku masih banyak kekurangan, terkadang ada customer aku yang kecewa dan mengembalikan baju yang ia pesan,” jawab Ema.

__ADS_1


Tidak terasa akhirnya mereka berdua selesai makan siang, namun mereka tidak langsung pulang, mereka berdua masih duduk santai mengobrol, Ema merasa nyambung mengobrol dengan Cello, namun sifatnya Cello yang playboy Ema tidak suka, namun dia akan mempelajari Cello terlebih dahulu, Ema ingin tau, apa betul Cello sudah tidak playboy lagi.


“Kamu banyak kerjaan nggak?” tanya Cello.


“Nggak sih, tapi kamunya yang pasti banyak kerjaan,” jawab Ema.


Cello hanya menggelengkan kepalanya, “Tidak aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku tadi,” jawab Cello.


Ema hanya tersenyum, karena ini pertama kalinya Ema jalan bersama dengan laki-laki, selain almarhum papa Arman.


🌠💕🌠💕


Kali ini Tya makan siangnya di kantin bersama dengan Mada, karena papa Adit ada di kantor cabang bersama ayah Davin.


“Emangnya Cello ke mana mbak?” tanya Mada kepada Tya.


“Biasa dia lagi menemui kekasih barunya,” jawab Tya.


Mereka berdua asik bergosip tentang Cello, apa lagi selama ini Mada tidak pernah melihat lagi ada wanita datang menemui Cello.


“Untuk apa mencari Cello? setau ku mereka udah putus deh, atau bagai mana?” tanya Tya.


Mada juga tidak tau tentang hubungan Erni dan Cello, karena yang mereka tau mereka berdua sudah putus.


“Entahlah, itu urusan Cello sendiri, biarkan kekasihnya berkelahi di depan umum memperebutkan dirinya,” ucap Tya sambil tertawa.


“Udah ah, nggak usah gosip orang, kita aja nggak laku-laku,” lanjut Tya kembali, Mada hanya tertawa begitu juga dengan Tya.


Mereka berdua akhirnya mengalikan topik pembicaraan mereka, Mereka berdua malah membahas basecamp milik ayah Davin, tempat Tya dan Mada selalu latihan menembak dan juga belah diri.


“Om Chua kapan lagi latihan, aku mau ikut,” tanya Tya.


“Nggak tau, karena papa juga sangat sibuk akhir-akhir ini,” jawab Mada.


Mereka berdua akhirnya meninggalkan kantin sambil mengobrol santai, menuju ruangan mereka.

__ADS_1


💕🌠💕


Kini Cello dan Ema juga meninggalkan cafe, Cello mengantar Ema kembali ke butik baru ia lanjut ke kantornya, “Kalau aku hubungi harap di angkat ya, soalnya aku lagi kangen,” ucap Cello mulai mengeluarkan gombalan mautnya.


“Baru sekali jalan aja sudah rindu,” jawab Ema tersenyum.


“Aduh jangan senyum terus, aku nggak kuat melihat senyum kamu,” lanjut Cello.


“Udah ah, malas dengan kamu, gombal muluk, mungkin semua kekasih kamu di luar sana, selalu mendapatkan gombalan dari kamu ya?” tanya Ema.


Cello hanya melirik Ema tidak senang, karena Ema kembali mengungkap masa lalu Cello yang sebenarnya Cello ingin lupakan, dan menjalin kasih dengan serius bersama Ema. dia ingin Ema wanita terakhir dalam hidupnya.


“Aku harap kamu tidak membawa-bawa masa lalu, kalau kita lagi bersama, soalnya aku sudah melupakan semuanya,” ucap Cello kepada Ema.


“Aku minta maaf, atas kata-kata ku barusan,” jawab Ema sedikit menyesal atas ucapannya.


“Ia tidak apa-apa, jangan sedih begitu kasian itu muka cantiknya,” ucap Cello tersenyum agar Ema kembali tersenyum juga.


Tidak lama akhirnya mereka tiba di butik milik Ema, namun Cello tidak turun dari mobilnya karena dia akan kembali ke kantor, “Terimakasih makan siang, dan terimakasih sudah mengantar aku kembali,” ucap Ema sebelum turun dari mobil Cello.


“ok sama-sama, semangat kerjanya ya,” jawab Cellori sambil mengedipkan matanya.


Ema langsung turun dari mobil, karena kalau dirinya berlama-lama di dalam mobil, hatinya bisa langsung lulu karena gombalan Cello.


Setelah Ema masuk ke dalam butik, barulah Cello melanjutkan perjalanannya, dan barulah juga dirinya mengaktifkan handphonenya yang dari tadi ia tidak aktifkan. untung saja Cello tidak mengaktifkan handphonenya, karena banyak pesan dari Erni dan juga Dwi.


“Aku harus memutuskan Dwi, dan ini juga, ngapain hubungi aku terus padahal aku dan dia sudah tidak memiliki hubungan apa-apa,” batin Cello.


Sepanjang perjalanan menuju kantornya Cello hanya mengobrol sendirian di dalam mobilnya.


🌷🌷🌷🌷


Jangan lupa di like dan komentar ya kak.


Terimakasih🙏🙏

__ADS_1


Bersambung💕💕💕


__ADS_2