Pelakor Cantik Itu, Aku

Pelakor Cantik Itu, Aku
Mulai Membangkang


__ADS_3

Lani mencoba untuk berjalan secara normal, meskipun dia berusaha untuk menahan rasa perih di bagian area pribadinya. Lani mengetahui jika tatapan mata Bu Sinta, saat ini penuh selidik, meskipun dia melirik melalui sudut matanya yang tajam.


"Aku harus cepat-cepat berlalu dari hadapan Bu Sinta, tapi ini perih banget. sepertinya punya ku ini lecet oleh punya mas Dani yang besar dan aaagghh...." selesai memasukkan sepray kemesin cuci, dan memutar nya dengan deterjen, Lani langsung masuk ke kamar mandi lalu menguncinya rapat dari dalam.


Lani membuka ****** ***** nya, karena sedari tadi, dia merasa seperti ada cairan yang keluar dari mis v nya, benar saja saat membuka ****** ***** nya, Lani melihat cairan bercampur sedikit darah dengan warna yang memudar menempel di celana nya tersebut.


"Punyaku lecet, dan sangat perih." Lani segera mencuci celana nya dan menggantinya dengan yang baru. tubuh Lani terasa remuk dan sangat capek, sehingga dia melupakan cucian nya dan memilih berbaring di kamarnya, tidak butuh lama Lani pun sudah tertidur pulas, mengingat semalaman dia hampir tidak tidur sama sekali, meladeni gairah Dani yang memuncak.


Tidak ada penyesalan, ataupun air mata yang keluar dari mata Lani, karena dia merasa bahagia telah menyerahkan sesuatu yang dijaganya selama ini pada laki-laki tampan dan kaya raya seperti Dani, apalagi ini pertama kali nya Lani jatuh cinta, meskipun itu pada lak-laki yang sudah beristri.


***


"Sikap Lani benar-benar membuat ku curiga?"


Sinta masih lanjut mengaduk bubur ayam untuk Dani, setelah siap dia semula ingin membawanya langsung kekamar. tapi tiba-tiba niatnya diurungkan. sambil memegang nampan berisi mangkok bubur dan minuman, Sinta mengayunkan langkah kearah kamar Lani.


 "Bi jah dini dulu."

__ADS_1


"Apa Bu?"


"Pegang dulu nampan ini." menyerahkan nampan yang semula dipegangnya.


Sinta berjalan kebelakang, melihat cucian Lani yang belum juga beres. bahkan untuk bersih-bersih rumahnya, yang merupakan pekerjaan bagian Lani, sama sekali belum dikerjakan oleh oleh gadis itu.


Dengan perasaan mulai kesal, Sinta berjalan menuju kamar Lani dan mengetuk nya, tapi tidak ada sahutan dari dalam.


"Ceklek..... Sinta mencoba membuka, ternyata dikunci. diapun mencoba mengintip dari celah-celah, nampak gadis itu tertidur begitu pulas nya.


Bukan nya bagun, Lani malah menutup kuping nya dengan bantal dan lanjut tidur, dia mengabaikan panggilan Sinta.


"Lani...bangun kamu, jam segini waktunya kerja. kamu ngapain tidur?"


"Apaan sih Bu, ribut-ribut, aku lagi sakit dan ngak bisa kerja hari ini." Lani akhirnya bersuara, dan lanjut tidur.


"Astaghfirullah," Sinta mengusap-usap dadanya dari balik pintu.

__ADS_1


"Dasar pelayan ganjen kamu ya, sudah mulai membangkang. awas kamu Lani, berani-beraninya tidak sopan seperti ini terhadap ku." teriak Sinta kencang, dan mengambil kembali nampan berisi bubur yang mulai dingin ke kamarnya.


“Mas bubur ayamnya sudah siap, mas.”


“ Iya sayang, terimakasih ya.”


 "Ya."


Mas Dani yang baru selesai mandi, duduk disebelah ku sambil menyapa bubur buatan ku.


“Gimana kabar bapak?”


“Udah agak mendingan mas,  mungkin bapak cuma kangen, makanya memintaku untuk pulang menjenguknya mas.”


“Bagus itu, bahkan sebaiknya kamu sering-sering pulang dan nginap beberapa hari, kasihan bapak dan ibu  sangat merindukan dan menyayangi mu, dek.”


Aku tercekat Mendengar ucapan mas Dani, tidak biasa dia seperti ini.  Karena seingat ku, dia akan ngeyel dan meminta ku untuk jangan lama-lama jika pulang, rindu dan tidak bisa tidur jika jauh dariku, sekarang dia malah meminta ku untuk sering-sering pulang dan nginap.

__ADS_1


__ADS_2