Pelakor Cantik Itu, Aku

Pelakor Cantik Itu, Aku
Mainan murah


__ADS_3

"Hebat, kamu sangat cepat belajar dan menguasai setiap gerakan-gerakan yang aku ajarkan."


"Terimakasih pak," balas Dani tersenyum Senang, Dani tidak pernah menyerah dan sangat gigih, penampilan Dani yang sederhana dengan brewokan yang tumbuh rapi disekitar wajahnya, tidak ada yang menduga, jika dia adalah seorang CEO perusahaan besar sebelumnya.


"Ingat Dani, minggu besok kita akan tampil disebuah acara besar, peresmian pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. aku harap kamu bisa bekerja sama dengan baik. agar usaha kita ini semakin banyak dikenal oleh masyarakat luas."


"Baik pak, saya akan berusaha semaksimal mungkin." balas Dani, yakin dengan kemampuan nya sendiri.


Dani tidak merasa terbebani, bahkan dia terlihat enjoy dengan pekerjaan barunya itu, meskipun penghasilan yang didapatkan tidak seberapa, setiap pulang kerja Dani selalu menyempatkan membawakan mainan untuk Rayanza, meskipun dengan harga yang murah saja, yang dibelinya dari pedagang kaki lima.


" Mudah-mudahan anakku Rayanza, menyukai mainan dariku. meski ini tidak ada apa-apanya dibandingkan mainan mahal yang dibelikan Sinta ataupun Gilang.


Dani langsung pulang kerumah yang dulu dia tempati dengan Sinta, nampak anak laki-laki kebanggaan nya itu tengah bermain bersama kakek dan neneknya, semenjak bercerai dari Dani, kedua orang tua Sinta, sengaja ikut pindah ke kota, rumah Sinta. mereka berdua mengasuh Rayanza dengan penuh kasih sayang.


" Assalamualaikum, ibu, bapak."

__ADS_1


Dani menyalami ke-dua mantan mertuanya itu, ibu Sinta merasa terenyuh melihat penampilan Dani yang terlihat kurus, tidak terawat seperti dulu lagi.


" Jagoan papa," Dani Mengendong Rayanza, sambil memberikan mainan baru, Dani terharu melihat putranya yang menyukai mainan murah yang didapat Dani dengan bekerja keras sebagai badut, menghibur para pengunjung taman kota.


" Sinta, mana Bu?"


" Dia belum pulang nak, tadi siang pulang hanya sebentar, menyusui dan sedot asi buat anaknya, setelah itu balik lagi, katanya perusahaan nya akan mengadakan acara besar, sehingga membuat Sinta sibuk banget."


" Begitu ya, Bu. Sinta sangat cerdas dan pekerja keras, aku yakin dia akan menjadi wanita yang sukses."


***


Sampai dirumah, Lani menyambut hangat kedatangan suaminya.


"Mas Dani, kamu pasti capek ya?" tangan mungil Melani memijid bahu Dani perlahan.

__ADS_1


"Iya, ini uang belanja hasil kerjaku hari ini, meskipun tidak seberapa. paling tidak bisa kita gunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sampai rumah itu berhasil terjual dengan harga yang sesuai."


" Iya mas, aku juga kasihan melihat mu seperti ini. mudah-mudah setelah rumah itu terjual. mas bisa membuka usaha baru, dan kembali bangkit seperti dulu lagi ya mas."


"Mas, Minggu besok jadwal cek up ku, kamu bisa Nemani nggak?"


" Minggu besok ya."


" Iya mas."


Dani teringat jika Minggu besok, kelompok mereka juga akan mengisi acara besar, dengan bayaran yang lumayan fantastis untuk mereka dapatkan, sehingga di tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas itu. paling tidak pemasukan Dani hari itu bisa dia simpan untuk kebutuhan mereka kedepan nya.


"Lani, kalau kamu pergi kesana tanpa didampingi mas. ngak papa kan, atau kamu minta mama untuk menemani mu kerumah sakit."


"Ngak papa kok Mas," ucap Lani tersenyum manis. membalas perkataan suaminya, Lani sekarang sudah mulai iklas menerima kehidupan nya.

__ADS_1


__ADS_2