
" Tidak, aku bukan anakkmu."
Lani kembali lari sambil ketakutan meninggalkan taman kota, sampai dirumah segelas air putih tidak mampu mengurangi dahaganya.
" Syukurlah, kamu nggak kenapa-napa nak." ucap Lani mengelus perutnya.
"Kenapa mas Dani belum pulang? sebenarnya apa sih pekerjaan mas Dani sekarang. mulai besok aku harus mengikutinya, jangan-jagan dia bekerja sama lagi dengan Sinta diperusahaan nya. tidak bisa, mereka tidak boleh mempermainkan aku dari belakang." Lani sangat marah.
Sesuai rencana yang sudah diatur Lani, dipagi yang cerah ini. setelah Dani sarapan dan pamit untuk bekerja, Lani melepas kepergian suaminya dengan bersikap ceria.
" Lani, mas berangkat kerja dulu. doain saja moga hari ini rezeki kita lancar, dan rumah besar laku terjual sesuai harga yang kita inginkan, agar mas bisa membuka usaha lagi."
" Iya mas, aku selalu mendoakan yang terbaik untuk keluarga kita."
__ADS_1
Dani berangkat dengan jalan kaki menuju pusat kota, Lani sengaja mengikuti langkah suaminya, dia mengunakan masker dan hijap agar tidak diketahui oleh Dani.
Dani yang tengah berjalan, tiba-tiba menghentikan langkah kakinya, saat merasakan seseorang seperti mengikuti langkah nya dari belakang, namun saat dia menoleh tidak ada, hanya beberapa orang pejalan kaki biasa.
"Ah mungkin ini perasaan ku saja, lagian siapa juga yang akan membuntuti laki-laki kere sepertiku ini, bahkan untuk bekerja pun aku serabutan." gumam Dani mersa lucu dengan kehidupan nya yang sekarang.
Dani terus berjalan, memasuki sebuah gang kecil yang becek dan sedikit kumuh.
" Untuk apa mas Dani masuk ketempat seperti ini?"
Dani masuk kesebuah bangunan yang menyerupai sebuah ruko, bertingkat dua. disana ada beberapa orang yang langsung menyambut kedatangan Dani. tidak begitu lama, rasa penasaran Lani langsung terjawab. ketika dia dengan mata kepala nya sendiri Dani beserta teman-temannya yang baru itu, memakai pakaian badut karakter. keluar melalui jalan pintas menuju taman kota, yang juga berdekatan dengan pusat perbelanjaan, dimana akan selalu ramai pengunjung, termasuk anak-anak.
" Ternyata ini pekerjaan mas Dani, aku salah. maaf kan mama nak yang berfikir buruk dan selalu mencurigai ayahmu." Lani mengelus perutnya yang sudah membesar, rasa bersalah membuat nya meneteskan air mata.
__ADS_1
" Aku harus tetap mengikuti mas Dani."
Lani kembali berjalan pelan, mengikuti segerombolan badut itu dari belakang. pikirannya bertambah kalut dan berkecamuk, menyesali kehidupan nya yang hancur.
" Serang bukan aku saja yang hancur, tapi aku juga sudah menyeret kehidupan mas Dani yang dulunya kaya, gagah dan juga seorang pengusaha besar itu ikut merasakan bagaimana kertasnya mengais rezeki dijalankan seperti ini."
Ditaman kota ini, Dani dan teman-teman mulai beraksi, bahkan banyak yang mengajak nya untuk berfoto bareng. namun, diantara pengunjung itu ada juga yang jail terhadap Dani.
Air mata terus menetes membasahi wajah Lani, hingga rasa sakit di bagian bawah perutnya tidak bisa dia tahan lagi.
"Aduuuh sakiiit banget. aku tidak tahan lagi...tolong.....tolong......" pandangan Lani semakin memudar, orang-orang ribut mengelilingi tubuhnya yang meringkuk kesakitan.
Meskipun begitu, Lani masih bisa melihat suaminya Dani berlari dengan wajah panik mendekati nya. Dani segera melepaskan pakaian badut dan langsung merengkuh tubuh Lani yang sudah hilang kesadarannya.
__ADS_1
" Lani.... kamu....kamu kenapa, bagunlah Lani." teriak Dani.
" Cepat tolong aku, istri ku sedang sakit keras aku mohon cepat bantu aku."