
Pagi ini Lani mengikuti langkah, dia membantu menyiapkan sarapan untukku, sudut mataku yang tajam kembali melihat sesuatu yang ganjil pada tubuh gadis itu. leher dan belahan dada nya terdapat tanda merah, yang aku sangat paham tanda seperti itu, karena mas Dani sering memberikan nya jika dia sedang sangat bergairah jika bercinta dengan ku.
“Lani, kenapa dengan leher dan banyaknya tanda merah di tubuhmu?”
“Ini...Cuma bejas gigitan serangga Bu, dan jika digaruk dia akan semakin melebar.” Jawabnya polos seperti tanpa dosa.
“Tumben sekali, rumah besar dan mewah ku ini sekarang ada serangga nya.” Ucap ku sambil melirik sinis kearah Lani yang berusaha untuk menutupi bekas itu dengan memperbaiki bajunya yang pendek.
"Iya Bu, padahal kamarku bersih dan rapi kok."
"Hati-hati saja, jangan-jangan serangga nya bisa masuk ke tubuhmu, dan bisa membuat perutmu tiba-tiba buncit."
"Ah ibu bisa aja, mana ada serangga macam itu."
"Mana tahu saja, ada serangga jadi-jadian. mengendap masuk ke kamarmu malam-malam." aku juga tidak tahu, perkataan itu meluncur begitu saja dari mulut ku, wajah Lani langsung berubah pucat setelah mendengar perkataan ku barusan.
"Maaf Bu, saya kebelang dulu ya."
Aku hamya mengangguk pelan, dan melanjutkan sarapan, meskipun hatiku kembali berkecamuk dan curiga lagi.
“Aku tidak boleh gegabah, dan menuduh suamiku yang sangat baik, mungkin itu beneran gigitan serangga atau malah pemberian dari pacarnya.” Pikirku untuk tetap berusaha berpikir positif.
__ADS_1
Seharian ini aku lebih banyak bersantai, biasanya aku berbelanja atau ketempat yang membuat ku tenang bersama sahabat ku Dita, tapi kali ini rasanya begitu malas untuk pergi meninggalkan rumah. bahkan aku ingin memulai menjafi istri yang gaik, menunggu suami pulang kerja dirumah.
***
Malam ini aku dan suamiku ngobrol-ngobrol berdua di balkon kamar, aku meminta bi jah untuk membawakan teh hangat dan makanan kecil. tapi yang mengantarkan nya bukan Bi jah melainkan Lani dengan pakaian dan cara jalan nya yang seperti dibuat-buat. tatapan matanya sesekali melirik kearah mas Dani yang juga membalas senyumannya.
"Silahkan Bu, mas Dani."
"Lani kenapa kamu memanggil ku dengan sebutan ibu, dan suamiku mas?"
Mas Dani dan Lani sama-sama terlonjak kaget, dengan pertanyaanku yang secara tiba-tiba.
"Sinta, kenapa kamu mempermasalahkan panggilan ini sih, lagian semenjak kedatangan Lani pertama kali dirumah ini, dia juga memanggilku dengan sebutan Mas, dan kamu tidak mempermasalahkan nya?"
Lani tidak menjawab sama sekali, dia tersenyum seakan-akan begitu senang mendapatkan pembelaan dari suamiku.
Saat hendak menaruh teh, buah dada Lani seakan ingin keluar dari sarangnya nya, saking besar dan baju yang dikenakan nya cukup ketat dan terutama dibagian dadanya.
“Lani, apa kamu tidak Mempunyai pakaian yang jauh lebih sopan lagi, mataku sakit melihat tubuh yang diumbar dihadapan suamiku, termasuk mang Ujang tukang kebun dan juga penjaga keamanan rumah ini.” Bentakkku kasar, entah kenapa aku tiba-tiba hilang kendali saat melihat cara pakainya, apa lagi mas Dani seperti nya sangat menyukai hal itu, sehingga emosiku kembali memuncak.
“Maaf Bu, tapi ini pakaian yang lagi ngetrend sekarang.” Balasnya mulai berani.
__ADS_1
“Berani ya kamu melawan ku.”
“ Sudahlah sayang, kendalikan emosi mu, Lani itu masih remaja dan rasa penasaran dan ingin coba-coba sesuatu yang menurutnya baru itu masih besar. kamu kan bisa menasehati nya baik-baik, lagian dulu kamu begitu baik pada Lani, bahkan sudah menganggap nya seperti adik sendiri.” Bujuk mas Dani. Sedangkan Lani sudah kembali dengan gaya jalanya yang sengaja lenggang lengok dihadapan ku, ingin rasanya aku lempari dengan gelas berisi teh panas jika aku tidak segera menguasai keadaan.
“ Aku harus sabar... sabar Sinta, kamu tidak boleh gegabah dalam bertindak, jika Dani bermain api di belakangmu, kamu juga harus pintar menguasai laki-laki belang ini, yah paling tidak hidupku harus mapan dan terjamin jika sudah berpisah darinya nanti." gumam ku.
Setelah Lani pergi, mas Dani kembali merangkulku, tidak ada yang berubah dari sikapnya yang selalu manis dan memperhatikan ku. meskipun aku masih kesal karena barusan dia membela Lani.
“Sayang, jangan sering marah-marah, sekarang mau apa perhiasan atau pakaian baru lagi?”
“Ngak mas, aku Cuma mau nagih janji tentang rencana kita untuk jalan-jalan yang selalu-tunda.”
“Mas kan udah bilang jika mas sangat sibuk."
“Tapi sampai kapan mas, aku pikir mungkin dengan kita liburan berduaan, aku bisa hamil.”
“Sabarya, jika sudah menemukan waktu yang tepat. Dan kesibukan mas berkurang. Kita akan liburan berduaan”
“Janji ya mas.”
“Ya sayang.”
__ADS_1