
Sampai di kantor, Dani memeriksa ponselnya, begitu banyak panggilan dan notifikasi pesan masuk, terutama dari Lani.
"Lani ternyata kamu belum menyerah dan menerima keputusan ku."
Seketika tangan Dani mengetik balasan pesan masuk dari Lani, dia ingin Lani mengerti dan menghormati keputusan yang dia ambil.
“ Lani please, jangan hubungi mas ya. kamu mau apa mas akan kirim tambahan uang, tapi tolong jangan usik kehidupan mas lagi, masa depan mu masih panjang Lani, mas yakin suatu saat nanti kamu juga akan menemukan laki-laki terbaik.”
Tidak begitu lama, notifikasi balasan pesan masuk dari Lani. membuat ponsel itu bergetar, Dani segera membacanya.
“ Kenapa mas, semudah ini kamu melupakan kejadian diantara kita, setelah kamu menghisap sari maduku, begitu mudahnya kamu bilang untuk mengakhiri dan mencampakkan aku, mana hati nuranimu mas. “
“Bukan begitu Lani, tapi keadaan sekarang ini, tidak memungkinkan bagi kita untuk bertemu dan menjalin hubungan lagi Lani. Cukup sudah dosa-dosa yang sudah kita berdua perbuat selama ini.” balasku.
“ Jika mas merasa berdosa, kita kan bisa menikah mas. Bahkan aku juga sudah bilang sangat siap meskipun itu yang ke-dua. jadi kamu tidak mempunyai alasan yang tepat untuk menghindar lagi dariku mas.”
__ADS_1
“ Permasalahanya tidak semudah ini Lani.”
“ Kenapa mas, karena Sinta hamil anakmu? Kamu yakin jika itu darah dagingmu!”
“ Tutup mulutmu Lani, Sinta tidak serendah itu. Lani Jangan pancing kemarahan ku.”
Dani langsung mematikan ponselnya, dia benar-benar marah mendengar tuduhan Lani terhadap Sinta, Dani sangat yakin jika anak dikandung Sinta itu adalah darah dagingnya, Sinta gadis baik-baik dan sangat menjaga diri. baik dalam pergaulan nya selama ini.
" Lani, kamu hanya membuat moodku memburuk hari ini, bahkan saat ini aku hanya ingin mengelus calon bayi mungilku bersama Sinta."
" Rey, tolong handle semuanya dulu, saya mau pulang."
" Baiklah bos."
Dani mengabaikan tatapan heran para bawahan nya. yang melihat perubahan sikapnya ini, dia terus mengayunkan langkah menuju parkiran dan kembali melajukan mobilnya kearah jalan pulang kerumahnya.
__ADS_1
Sinta yang tengah bersantai menikmati teh hangat bersama mertuanya diteras depan rumah, setika tersenyum lembut sambil mengelus-elus perutnya yang masih datar, melihat kedatangan Dani berjalan kearah mereka yang sedang asyik ngobrol-ngobrol.
" Mas kok balik pulang lagi, emangnya ada yang ketinggalan?"
" Ada, dirimu sayang." ucap Dani membuat pipi Sinta langsung bersemu merah, apalagi mama mertuanya yang ikut-ikutan tersenyum.
Dani duduk ditengah-tengah, antara sang mama dan Sinta, sebelah tangan nya beralih mengelus sayang perut Sinta, yang ampuh membuat suasana hatinya kembali senang dengan bermanja-manja seperti ini.
Cukup lama Dani menghabiskan waktu dirumah, rasanya dia begitu nyaman jika berlama-lama didekat Sinta.
" Dani kamu persis papamu dulu, sewaktu mama hamil kamu. dia juga sangat manja dan nggak bisa jauh dari mama, dan kehamilan mama juga tidak jauh beda dari Sinta, mama juga sering merasa pusing, mual dan tidak selera makan, sehingga kondisi fisik mama juga menurun, namun dengan perhatian dan kasih sayang penuh dari suami, membuat mama tetap kuat, hingga melahirkan mu sampai proses persalinan normal."
" Ma, Sinta juga pengen proses melahirkan nya normal juga. karena Sinta ingin merasakan bagaimana menjadi seorang ibu yang seutuhnya."
" Iya sayang, mama doakan yang terbaik untuk mu."
__ADS_1