
Ditengah-tengah lamunanku, mobil Dani tiba-tiba masuk kedalam perkarangan rumah Sinta.
" Mas Dani, untuk apa dia kesini. mencari ku atau ingin menjelaskan tentang pernikahan nya dengan Lani, yang menggunakan surat izin palsu dariku, dan mengklarifikasi didepan publik jika mereka adalah pasangan menikah atas izin resmi dariku."
Dani melangkah turun, nampak raut wajahnya sudah melunak dan tersenyum kearahku sambil mengayunkan langkah panjang.
"Assalamualaikum, Istriku."
" Waalaulikumsallam."
Aku menjawab datar dan mencoba memalingkan wajah, mas Dani duduk didepan ku seperti tanpa dosa dan kesalahan.
" Sayang, mana bapak dan ibu?"
" Sedang pergi ke kebun." jawab ku singkat.
" Bagaimana dengan kondisi mu dan bayi kita, apa kalian berdua sehat-sehat kan."
Mas Dani mencoba mendekat, dia
ingin memeluk dan memegangi perut ku yang sudah mulai membesar, seketika aku menepis tangannya, aku tidak Sudi disentuh oleh tangan mas Dani yang menurut ku kotor.
" Sayang, kamu kok jadi berubah dan cuek gini. emangnya kamu, nggak kangen sama mas. udah lama kita perang dingin seperti ini, mas rindu Istri mas yang dulu sering tersenyum manis dan kemah lembut."
__ADS_1
"Apa mas, kamu lupa atau benar-benar amnesia dadakan. mudah banget kamu lupa perbuatan mu yang sudah membuat hatiku hancur berkeping-keping, kamu pikir dikhianati dan diselingkuhi itu perkara ringan? sehingga aku mudah memaafkan dan tidak boleh marah berlarut-larut, aneh kamu mas."
Aku berdiri dan pindah duduk, menjarak dari mas Dani yang kembali pindah mengikutiku, ekspresi nya tetap tenang, seperti tanpa dosa.
Bahkan mas Dani Kembali mencoba memelukku, dengan cepat aku menepisnya.
" Sinta, mas datang baik-baik. menjemputmu pulang kerumah kita. begini caramu menyambut kedatangan suamimu yang sudah capek-capek menempuh perjalanan jauh, seorang istri yang baik itu harus patuh dan menghargai suaminya nya. bukan menyambut dengan wajah masam seperti ini."
Sinta memalingkan wajahnya, menatap burung-burung berterbangan yang hinggap di atas ranting, dari pada meladeni ucapan Dani.
" Please Sinta, kita berdamai saja."
" Hah, Berdamai mas. maksud seperti apa?"
" Ha...ha...aku bisa gila meladeni laki-laki seperti mu bicara mas, kamu hanya mengedepankan hawa nafsumu saja. satu istri saja kamu tidak mampu untuk menjadi imam yang baik, apalagi dua istri, apa kamu mampu mempertanggungjawabkan dihadapan Tuhan nantinya mas? yang mana sholat lima waktu saja tindak mampu kamu laksanakan."
Mas Dani tertunduk mendengar ucapan ku, tapi aku yakin. meskipun begitu laki-laki yang suka berselingkuh dan mengutamakan nafsu disegela tindakan nya tidak akan pernah berubah.
"Sinta, mau tidak mau kamu harus menerima Lani. mas sadar tindakan mas ini salah, tapi mas tidak punya pilihan lain. sekarang kami juga sudah mengandung benih mas."
" Degh.... brengsek kamu mas, bahkan kamu tega menipulasi surat izin dimana aku telah merestui pernikahan kalian secara resmi. dimana aku sendiri tidak tahu kapan kamu berhasil mencuri tandatangan ku sendiri,"
" Sayang, maafkan mas."
__ADS_1
Suara mas Dani melunak, bahkan dia terhenyak memeluk kedua kakiku, untuk meminta maaf, seperti nya dia menagis dengan suara bergetar dia terus menyebut kata maaf, tapi kalian ini aku tidak boleh lemah dan luluh lagi.
" Mas, semua ini sudah terjadi. kalian menikah di belakangku, pergilah bersama kami dan tinggalkan aku, aku tidak Sudi menyandang status sebagai istri pecundang seperti mu lagi, aku ingin kita pisah, mas."
" Pisah, tidak aku tidak akan mau berpisah dengan mu sayang." Dani mengeratkan pelukannya dikaji Sinta yang masih berdiri mematung, suaranya bergetar, rasanya sangat sedih dan perih, ketika Sinta mengatakan ingin berpisah. Dani berusaha berfikir untuk mencari celah agar Sinta berubah pikiran.
" Sayang, Allah sangat membenci yang namanya perceraian."
"Capek ngomong dengan mu mas." aku melepaskan diri dari rangkulan mas Dani yang masih berusaha memeluiku, aku tidak peduli lagi apapun, yang terpenting aku ingin segera berpisah, hati dan pikiran ku saat ini benar-benar labil dan rapuh.
" Pergilah mas, biarkan aku disini dulu. aku ingin tenang."
" Baiklah, tapi ingat Sinta. sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau berpisah apalagi menceraikan mu, kamu hamil anakku dan darah daginggku, dan sampai kapanpun kamu tetap istri ku."
" Egois kamu mas, pergi kamu dari hadapanku....aku benar-benar muak."
" Baiklah sayang, tapi ingat..aku akan balik lagi menjemput mu pulang kerumah kita."
Sebelum melajukan kencang mobil nya, Dani masih menatap sayang dan rasa bersalah nya terhadap Sinta yang madih menagis, hatinya ikut perih melihat wanita yang selama ini dengan setia mendampingi nya, rasanya Dani ingin turun dan membawa Sinta kepelukanya.
Dani melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, pikiran dan hatinya begitu kalut, tanpa sadar cairan bening ikut menetes menyesali perbuatannya.
" Maaf kan mas sayang."
__ADS_1