Pelakor Cantik Itu, Aku

Pelakor Cantik Itu, Aku
Berliana Fransisca


__ADS_3

Lani terus berjalan mengayunkan langkah, perasaan sedih dan mersa dicampakan membuat nya benar-benar merasa terhina dan tidak berguna lagi.


Ingin rasanya dia mengadu pada seseorang, tapi siapa. dia hanya hidup sebatang kara selama ini, tanpa orang tua maupun seorang sahabat yang bisa menyayangi dan mengayomi nya kejalan yang lebih baik.


Langkah kaki Lani terhenti pada kursi yang terdapat ditaman kota, suasana yang tenang dan adem membuat nya sedikit tenang. mengingat Lani duduk di kursi yang diatasnya terdapat pohon besar yang rindang.


Cukup lama Lani melamun dikursi taman kota sendirian, hingga suara wanita paruh baya yang sedang menangis menyebut kata-kata anakku membuyarkan lamunan Lani, yang duduk tidak jauh dari posisinya sekarang.


Seorang wanita paruh baya yang sangat cantik, menangis duduk di kursi roda sambil memangku bayi boneka yang dianggap sebagai anaknya, Ditemani dua orang perawat yang menjaga disisi kanan kirinya.


Lani memperhatikan wanita yang terlihat sedang mengalami gangguan jiwa itu, ada kemiripan diantara mereka. seketika kami mengusap air matanya, menatap iba kearah ibu itu.


“ Kasihan ibu ini!”

__ADS_1


Lani mendekat, tanpa sadar dia mengelus pelan tangan wanita tersebut, yang refleks menatap balik kearah Lani.


“ A…anakku….anakku.” dia menjulurkan tangannya ingin memeluk Lani, spontan Lani menghindar ketakutan.


“ Maaf Nona, nyonya ini sudah lama mengalami gangguan jiwa. Semenjak kehilangan bayinya.” terang salah seorang perawat yang menjaganya.


“ A...anakku….anakku Berliana Fransisca.” Dia kembali menatap Lani penuh haru. tatapan wanita itu sangat dalam dan tajam, membuat Lani ketakutan dan mundur perlahan.


" Sebaiknya, kita bawa nyonya besar pulang. sudah cukup jalan-jalan nya." perawat membujuk dengan lembut, lalu membawa wanita itu kedalam mobil mewah yang melaju meninggalkan taman.


“ Kasihan ibu itu, dia kaya raya. Namun sayang, dia mengalami gangguan jiwa. Sehingga percuma dia memiliki segalanya, jika mengalami gangguan jiwa.” Gumam Lani masih menatap mobil yang membawa ibu itu menghilang dari pandangan matanya.


" Mungkin sudah saatnya juga, aku belajar melupakan mas Dani, aku tidak ingin hidup ku berakhir tragis, seperti ibu-ibu itu. hancur dan terkena gangguan jiwa. karena kehilangan orang-orang yang dicintainya."

__ADS_1


Melani mengusap air matanya, memaksakan senyum untuk menguatkan hati, melupakan laki-laki yang merupakan cinta pertama nya, meskipun Lani, yakin jika cinta tidak pernah salah.


"Cintaku tidak salah mas, dia mengalir begitu saja tanpa aku bisa melarangnya. mungkin aku akan mencintaimu dalam diam. menerima keputusan yang terbaik untuk kita semua."


Lani kembali pulang kerumah mewah pemberian Dani, yah... paling tidak sekarang dia tidak hidup miskin lagi, punya uang dan rumah mewah. meskipun dia tidak bisa lagi bersama laki-laki yang dicintainya. paling tidak Dani sudah memberikan kehidupan yang layak untuk dirinya.


" Terimakasih mas Dani, engkau sudah hadir dalam hidup ku, dan merubah kehidupan ku seperti ini. sekarang aku sudah lega dan mulai ikhlas menerima semua ini." ucap Lani mengusap air mata nya kembali.


Perlahan Lani memejamkan mata, bayangan ibu-ibu yang ditemui nya ditaman kembali melintas dipikiranya.


" Aaagggh... kenapa aku kembali teringat ibu-ibu gangguan jiwa, aku merasa begitu dekat dengan nya. dan hati ini langsung tersentuh ketika dia bilang anakku.... Berliana Fransisca, nama yang cukup bagus." gumam ku seketika.


Semoga aku bisa dipertemukan dengan ibu itu lagi, sapa tahu dengan kasih sayang dan perhatian yang lembut dia bisa disembuhkan, entah dorongan dari mana, aku tiba-tiba ingin bertemu dengan nya.

__ADS_1


__ADS_2