Pelakor Cantik Itu, Aku

Pelakor Cantik Itu, Aku
Menemui Lani


__ADS_3

Sinta membantu suaminya dengan telaten, setelah selesai. mereka bergandengan tangan menuruni satu persatu anak tangga, dimeja makan sudah menunggu Mama yang menanti mereka untuk sarapan bareng.


" Pagi ma." ucap mereka serempak.


" Pagi juga, nak. Dani, tumben kamu berangkat nya kepagian."


" Iya ma, lagi sibuk."


" Bagus nak, calon ayah yang baik harus giat bekerja untuk mencari nafkah untuk anak dan istri mu, seperti papamu dulu."


" Justru itu ma, ini semua demi Sinta dan calon anak kami." jawab Dani sambil tersenyum melirik Sinta disebelah nya.


Sinta membantu mengambilkan sarapan untuk Dani, dia sangat menikmati perannya sebagai istri dan calon ibu yang baik untuk keluarga kecil tercinta.


" Terimakasih sayang."


" Iya mas."

__ADS_1


Mereka menikmati sarapan, suasana hati Sinta yang membaik, membuat selera makannya juga ikut naik, bahkan dia juga minum susu dan vitamin nya dengan rutin. semua juga tidak terlepas dari perhatian suami dan mama mertuanya.


Selesai sarapan, Dani berangkat pagi-pagi sekali dari rumah, Sinta mengantarkan suaminya sampai teras depan rumah mewah mereka. memperhatikan mobil suaminya sampai menghilang dan berbaur dengan kendaraan lainnya.


***


Dalam mobil, Dani kembali resah.


" Lani, kenapa kamu tidak pernah menemui dan menghubungi mas lagi, apa kamu benar-benar sudah menerima keputusan mas yang waktu itu meminta mengakhiri hubungan kita. Lani, sekarang mas sadar jika mas tidak bisa melepaskan kalian berdua. kamu dan Sinta benar-benar berarti dalam hidup mas."


Tangan Dani terangkat untuk mengetuk pintu, namun kembali dia urungkan.


" Apa Lani masih mau menerima kehadiran ku, apa dia mau untuk memaafkan aku?" berbagai pertanyaan dan kekawatiran membuat Dani diam terpaku beberapa saat.


" Aku harus bisa dan tidak boleh kehilangan Lani, dia itu sangat cantik. aku tidak ingin orang lain akan memiliki dirinya. tidak ....Lani dan Sinta, adalah milikku. toh aku laki-laki normal kaya, tampan dan mapan, jadi tidak ada salahnya jika aku poligami dan memiliki keduanya, asalkan aku bisa berbuat adil terhadap istri-istriku nantinya." Dani berusaha mencari pembenaran dari tindakan dan kesalahannya.


Dani semakin berani dan membulatkan tekadnya, sebelum turun dari mobil, Dani merapikan penampilan nya, berjalan mantap. dia mengetuk pintu depan, detak jantung yang terus berpacu, entah kenapa dia tiba-tiba merasa gugup untuk bertemu lagi dengan Lani. dan rasa takut yang membuat nya semakin resah, jika ada laki-laki lain bersama Lani saat ini.

__ADS_1


Tok....tok..tok....mengetuk pintu secara tidak sabaran lagi.


Begitu mendengar pintu diketuk dari luar, Lani memperhatikan tamu yang datang melalui monitor yang terhubung langsung, dia takut dan tidak ingin menerima tamu sembarangan, mengingat dia sendirian tunggal dirumah mewah ini.


“ Mas Dani, untuk apa dia kesini lagi, atau ada yang sangat penting, sehingga dia kembali menemuiku?"


Cekklek...pintu dibuka Lani dari dalam.


“ Hai Lani, pa kabar sayang.”


“ Baik mas, silahkan masuk.


Lani mengerutkan keningnya bercampur kaget, dengan kedatangan Dani yang tiba-tiba dipagi hari ini, dan memanggilnya dengan sebutan kata sayang lagi.


namun dia tidak ingin terkecoh dengan tipu daya Dani, Ekspresi yang ditunjukkan Lani terlihat datar, tidak menggebu-gebu seperti dulu.


Dani sengaja berjalan dan posisi begitu dekat dengan Lani, seolah-olah ingin segera memeluk tubuh Lani dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2