Pelakor Cantik Itu, Aku

Pelakor Cantik Itu, Aku
Pulang kampung


__ADS_3

Aku bisa melihat raut wajah mama mertuaku yang sedih melepas kepergian ku, tapi saat ini aku juga tidak punya pilihan lain. bahkan keputusan ku untuk berpisah dari mas Dani semakin bulat, jika teringat bagaimana dia membela Lani selama ini, hatiku tiba-tiba kembali sakit teringat hal itu.


Sepanjang perjalanan panjang yang aku lalui, aku lebih fokus menatap keluar jendela kaca mobil yang melaju dengan kecepatan sedang, sesekali tanpa aku sadari air mata menetes membasahi pipiku, padahal dari awal aku sudah berusaha kuat, dan bertekad tidak akan membuang-buang air mataku untuk mengisi perbuatan mereka.


" Ya Allah, ternyata hatiku begitu rapuh. tolong bantu aku untuk menghapus semua kenangan indah yang sudah aku lalui bersama mas Dani selama ini."


Deringan ponselku tidak aku hiraukan, aku hanya ingin tenang dan tenang, bahkan aku langsung mematikan ponselku. saat ini aku akan menata kembali hatiku yang sudah hancur berkeping-keping, meskipun mustahil akan kembali utuh kebentuk semula.


Aku memejamkan mata, mencoba melupakan sejenak beban yang ada di kepalaku, semakinku mencoba bayangan Indah hari-hari dan kebersamaan yang sudah kami lalui, melintas kembali yang menyayat perih kehulu hati terdalam ku.


Tanpa sadar perjalanan jauh, membuat Sinta ketiduran cukup lama, meskipun sesekali masih terdengar seperti isakan tangis dan hembusan nafasnya yang berat.


" Non Sinta, kita sudah sampai." ucap bang Agus sopir pribadi mama.


Perlahan Sinta membuka mata, meskipun kepalanya masih berat karena kebanyakan menangis. senyum mengembang dibibir ketika menyadari jika mereka sudah berada di depan halaman rumahnya yang asri.


Tidak lama pintu rumah dibuka oleh ibunya, yang langsung terpancar raut wajah bahagia ketika melihat kedatangan anaknya, Sinta.


" Ibu, bapak."

__ADS_1


" Anakku Sinta, kamu pulang nak."


Sinta menyalami tangan kedua orang tuanya, lalu membalas hangat pelukan mereka.


" Sayang, bagaimana dengan kehamilan mu."


" Alhamdulillah, dia sehat dan kuat Bu."


" Apa Dani tidak ikutan pulang?"


" Dia sibuk banget Bu, cuma nitip salam saja buat ibu dan ayah."


" Ini non barang-barang nya."


" Ya langsung ditaruh dikamar bang."


Setelah mengantarkan Sinta, bang Agus langsung pamit untuk kembali pulang, meskipun Sinta dan keluarga nya menyuruh untuk istirahat dan makan dulu.


Sinta ngobrol-ngobrol dengan kedua orang tua nya, meskipun dia berusaha untuk menyembunyikan beban dan masalah yang dihadapi nya, namun naluri orang tua tidak pernah salah, dia tahu jika anaknya Sinta tidak sedang baik-baik.

__ADS_1


" Sinta, kita makan dulu ya. ibu masak kesukaan mu."


" Baiklah Bu, Sinta juga sudah kangen banget makan masakan ibu." selera makan Sinta kembali membaik, dengan suasana yang tenang dan kehangatan kedua orang tua yang sangat menyayangi nya.


Sinta bisa tidur dan melewati malam dengan tidur nyenyak, paginya dia bangun dengan tubuh segar, saat membuka jendela belakang kamarnya, dia melihat bentangan sawah yang ditumbuhi padi yang menghijau, memanjakan matanya.


Sinta merentangkan kedua tangannya, menikmati udara segar perkampungan nya yang cukup asri dan indah.


Seketika matanya membulat, ketika melihat pohon mangga diperkebunan ditepi bukit tidak jauh dari rumahnya, yang sedang berbuah lebat, keinginan Sinta semakin kuat untuk segera menikmati buah mangga muda tersebut. dengan cepat dia pergi keluar rumah.


" Sinta kamu mau kemana nak."


" Cuma jalan-jalan pagi dekat rumah saja Bu."


" Hati-hati ya nak, ingat jangan manjat pohon mangga lagi seperti hobi mu dengan Gilang dulu. sekarang kamu sudah wanita dewasa yang menikah dan hamil." pesan ibu.


Seketika langkahku tercekat, saat ibu menyebutkan nama Gilang sahabat kecilku dulu. sepulang sekolah aku dan Gilang suka manjat diatas pohon mangga, kami tidak memakan buahnya, tapi mengambil dan membawa pulang saja.


Seketika kerinduan akan Gilang membuat ku tersenyum sendiri, kami main lumpur, layang-layang dilapangan, bahkan sepak bola dimana aku sendiri yang anak perempuan. mengingat aku adalah gadis tomboi dulu, Gilang juga mengajariku banyak hal.

__ADS_1


" Gilang kamu dimana sekarang?" gumamku lirih, Gilang pergi dari kampung setelah mendapatkan beasiswa berprestasi.


__ADS_2