Pelakor Cantik Itu, Aku

Pelakor Cantik Itu, Aku
Bertemu adik Gilang


__ADS_3

Sudah masuk hari ketiga Sinta berada dirumah orang tuanya, selama itu juga Dani tidak menghubungi nya sama sekali. tapi Sinta sudah membulatkan tekad, untuk tidak ambil pusing masalah Dani lagi. cukup sudah goresan luka yang diberikan oleh Dani selama ini.


Sinta tidak peduli lagi dengan Dani, yang terpenting baginya sekarang. kebahagiaan dan masa depan nya bersama calon anaknya, Sinta mengelus perutnya yang mulai terlihat dengan penuh kasih sayang.


Mungkin dengan jalan-jalan sore, perhatian ku sedikit banyak bisa teralihkan dari laki-laki penghianat itu.


" Bu, Sinta keluar bentar ya."


" Iya nak, kamu hati-hati ya."


Sinta berjalan pelan, menikmati sore pemandangan indah kampung halaman nya, sementara dibelakang nya. sang ibu masih menatap punggungnya yang berjalan mulai menjauh.


" Sinta anakku, ibu tahu permasalahan mu cukup berat saat ini, meski kamu tidak mau cerita, tapi ibu bisa melihat luka dari pancaran matamu, yang sengaja dan seolah-olah menutupinya dari kami, orang tuamu."


***


Langkah kaki Sinta terhenti, sebuah mobil mewah keluaran terbaru berhenti tepat menghalangi langkahnya, jalanan kecil itu membuat Sinta sedikit banyak menoleh penasaran, siapa pemilik mobil itu.


Seorang perempuan cantik keluar, sambil tersenyum manis berjalan mendekati Sinta.


" Sinta, kamu Sinta kan?"


" Caca."

__ADS_1


" Nggak nyangka ya kita akhirnya ketemu, setelah sekian lama kamu nggak pernah pulang ke kampung ini." ucap ku.


" Kamu yang jarang pulang, Sinta "


Caca langsung memeluk ku dengan hangat, Caca merupakan adik bungsu dari Gilang. kami pun saling melepas rindu duduk disebuah pondok kecil yang terdapat dipinggiran kali dekat jalan.


"" Oya Cha, gimana kabarmu sekarang."


" Aku baik banget Sinta, bahkan aku sudah menikah dan punya sepasang anak kembar."


" Wah, selamat ya."


" Terimakasih Sinta, tapi kebahagiaan ku tidak seperti kak Gilang."


" Apa maksudmu Cha."


" Ha...ha...sudah aku duga, Gilang itu adalah laki-laki yang sangat susah untuk jatuh cinta." balas ku.


" Iya Sinta, sehingga sekali jatuh cinta. sampai detik ini. dia tidak bisa jatuh cinta pada perempuan lain, bahkan dia masih sangat berharap Perempuan yang dicintainya itu kembali. sesuatu yang mustahil terjadi."


" Kenapa, apa wanita itu sudah meninggal?"


" Tidak Sinta, tapi dia sudah menikah dengan laki-laki lain."

__ADS_1


"Tega sekali dia meninggalkan Gilang," ucap ku.


" Tidak Sinta, ini bukan salah perempuan itu. tapi kak Gilang yang tidak pernah berani untuk berterus terang tentang perasaan nya yang sesungguhnya, mereka juga tidak berpacaran, hanyalah sebatas sahabat."


" Aku jadi penasaran siapa perempuan itu, mengingat Gilang pasti mempunyai banyak sahabat, mengingat dia cukup tampan dan pintar, sehingga mendapatkan beasiswa berprestasi sampai keluar negeri."


" Iya Sinta, bahkan karna kepintaran dan kegigihannya, sekarang kak Gilang sudah menjabat sebagai CEO diperumahan besar."


" Wah, Alhamdulillah. aku ikut bahagia mendengar nya Cha. semoga seiring dengan kesuksesan nya itu, Gilang bisa menemukan perempuan yang tepat ya, Cha."


" Ya Sinta, meskipun selama ini sudah banyak wanita cantik yang berlomba-lomba untuk mendapatkan cintanya. tapi belum ada satupun yang berhasil mendapatkan hatinya yang sudah beku."


Cukup lama kami ngobrol-ngobrol dengan Caca, bahkan dia mengajakku main kerumahnya, bertemu dengan sepasang anak kembar dan suaminya yang baik. aku sangat senang melihat kebahagiaan keluarga Caca yang harmonis dan bahagia.


"Sinta, coba lihat foto ini. dan tebak ini siapa?"


Deeeehhhg.... seketika detak jantungku berpacu lebih kencang dari biasanya.


Tidak mungkin, Gilang berubah menjadi laki-laki yang sangat tampan. ada apa dengan ku? aku merasa hati dan pikiran ku kembali ke masa-masa, tubuh belas tahun silam, Gilang yang baru beranjak remaja, wajah polos, culun dan tentunya paling baik padaku dibandingkan dengan teman-teman kami yang lainya.


" Apa Gilang masih mengenaliku sekarang?"


" Tentu Sinta, mana mungkin Gilang melupakan mu."

__ADS_1


" Tapi jika bertemu secara langsung, aku pasti lupa. mengingat banyak yang berubah dari Gilang."


" Tidak Sinta, dia masih seperti yang dulu. meski kalian sudah lama tidak pernah bertemu."


__ADS_2