Pelakor Cantik Itu, Aku

Pelakor Cantik Itu, Aku
Keputusan Sinta


__ADS_3

Entah kenapa disaat panik seperti ini, dipikiranku hanya ada Sinta dan Sinta, mengingat selama ini dialah yang selalu mampu menenangkan aku dikala resah dan membantu ku jika sedang dalam permasalahan berat.


Tapi sekarang, apa yang harus aku katakan padanya, minta bantuan untuk menolong Lani, tidak mungkin. Sinta pasti bakal marah besar, lalu apa yang harus aku katakan. minta dia untuk tetap menjadi istri ku, itu juga mustahil karena Sinta pasti bakal lebih marah lagi, pikiran yang kalut membuatku tanpa sadar sudah masuk kedalam rumah kami dulunya.


"Mas, ada apa? tumben pagi-pagi sekali berkunjung kerumah?"


" Aku kangen Rayanza."


Dani langsung menghampiri buah hati hasil pernikahannya dengan Sinta. yang tengah asyik dengan mainannya.


" Hallo jagoan papa,"


Membawa Rayanza kepangkuan nya, Dani mencium kedua pipi gembul itu. rasanya begitu tengang dan nyaman ketika berkumpul dengan Sinta dan anak Nya. seandainya waktu bisa diulang, ingin rasanya Dani kembali ke masa-masa indah pernikahan nya dengan Sinta dulunya, meski sekarang tidak akan bisa kembali untuk seperti sedia kala.

__ADS_1


Meskipun begitu, dihati terkecilnya. Dani masih sangat mengharapkan agar Sinta mau merubah keputusannya untuk berpisah darinya.


" Sinta, apa tidak ada sedikit celah untuk kita memperbaiki hubungan ini." ucap Dani hati-hati dan duduk disebelah Sinta, namun Sinta langsung menjaga jarak.


" Tidak mas, keputusan ku sudah bulat." jawab Sinta dingin, sedingin suasana pagi ini, dimana diluar tengah hujan gerimis dengan udara yang sangat mendung, seperti suasana hati Dani.


Dalam hati Sinta sekarang, Dani tidak lebih sebatas ayah biologis dari Rayanza putranya. sedangkan dalam hatinya sudah tidak ada lagi cinta dan kehangatan yang dulu pernah ada diantara mereka berdua.


Dani kembali mencium Sayang Rayanza, bayi mungil tampan itu, terlihat sangat nyaman dalam dekapan sang ayah, Dani saat ini berusaha untuk menyembunyikan kesedihan dan raut wajahnya yang saat ini ingin menagis. rasa begitu perih membayangkan rumah tangga yang dia bina bersama Sinta selama ini akan berakhir, mengingat besok merupakan sidang putusan akhir perceraian mereka berdua.


Dani hanya bisa menyesali, kenapa dia dulu nya sangat mudah tergoda oleh pesona Lani. yang telah memberikan nya kenikmatan sesaat, namun menghancurkan semua yang sudah dia bina bersama Sinta selama ini.


" Aku laki-laki bodoh yang mudah tergoda, aku sadar kesalahan ku ini terlalu besar. saat ini aku hanya ingin bertaubat dan berubah menjadi laki-laki dan ayah yang baik buat Rayanza, dan anak yang dikandung Lani, dimana sekarang mereka berdua betjuang melawan penyakitnya, ditengah-tengah kehamilan Lani, yang sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari Dani.

__ADS_1


Aku hancur sekarang, mau tidak mau aku harus bisa melepaskan Sinta. karena bagaimanapun dia tidak akan mau menerima kehadiran Lani, meskipun kami sudah resmi menikah.


" Sinta, maaf... maafkan mas."


" Ya mas, aku memaafkan mu, tapi maafmu tidak akan membuat semuanya kembali utuh seperti semula, sekarang tidak ada gunanya untuk menyesal. mungkin sudah jalanya kita untuk berpisah dan menjalani kehidupan kita masing-masing, mas."


"Mas malu padamu Sinta, bahkan pada diri mas sendiri."


" Sudahlah mas, lebih baik kita ikhlas menerima keputusan perceraian kita besok."


" Sinta, apa setelah berpisah nantinya, mas masih bisa bertemu dengan Rayanza."


" Bisa mas, bagaimana pun. kamu adalah ayah kandungnya, aku tidak akan memutuskan tali darah dan kasih sayang diantara ayah dan anak."

__ADS_1


" Terimakasih ya Sinta."


__ADS_2