
Dani terlihat sangat kacau, bahkan dia tidak perduli dengan penampilan nya saat ini, Dani terhenyak duduk dihadapan Sinta yang menatapnya dengan wajah tajam, bingung dan penasaran. semua berkecamuk dipikiran Sinta saat melihat laki-laki yang masih berstatus sebagai suami nya tersebut.
" Ada apa dengan mas Dani sekarang, apa dia bertengkar dengan Lani atau malah Lani, juga sudah pergi meninggalkan mas Dani?" gumam Sinta.
" Sinta."
" Ya mas."
" Perusahaan bangkrut, dan anak cabang perusahaan yang dulu kamu pimpin. sekarang jatuh ke tangan perusahaan Gilang group."
"Kamu tidak salah mas, mengatakan jika anak perusahaanmu sudah diambil alih perusahaan Gilang?"
" Tidak Sinta, ini semua Kesalahan yang dilakukan oleh papa, dia terlilit hutang yang cukup banyak pada perusahaan Gilang. sehingga anak perusahaan itulah yang menjadi jaminan nya. dan sekarang dia tidak mampu mengembalikan nya."
" Astaghfirullah" Sinta menutup mulutnya tidak percaya.
" Apa Gilang yang dimaksud mas Dani sahabat kecilku dulu, atau Gilang yang lainya?"
__ADS_1
" Terus kita harus gimana mas?."
Sinta ikut-ikutan cemas, mengingat dia dan Dani dulu bekerja keras, hingga perusahaan itu maju dan berkembang pesat.
"Sinta, kembali lah dan kita berdua harus berjuang untuk merebut perusahaan itu kembali. aku tidak rela hasil kerja keras kita berdua hilang begitu saja."
" Tapi mas, apa yang akan aku dapatkan, jika aku berhasil mendapatkan perusahaan itu kembali."
" Sayang, kita kan suami istri, jadi apa yang aku miliki itu juga milik mu."
" Tidak mas, sekarang sudah ada Lani diantara kita."
" Jika aku berhasil mendapatkan perusahaan itu lagi, aku ingin itu menjadi milikku dan calon anakku sendiri."
" Baiklah sayang, aku ikhlas asalkan itu untuk mu dan anak kita." ucap Dani melunak.
" Jangan senang dulu mas, ingat aku membantu mu. bukan berarti kita kembali baikan seperti dulu lagi. "
__ADS_1
"Baiklah sayang, yang penting perusahaan itu tidak jatuh ke tangan orang lain."
Setelah berhasil membujuk Sinta, Dani dan Sinta kembali pulang kerumah yang dulu mereka tempati berdua, dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Sepanjang perjalanan jauh kembali pulang. baik Sinta maupun Dani, mereka berdua lebih banyak diam. larut dengan pikiran masing-masing. bahkan Dani sama sekali tidak menghiraukan panggilan masuk dari Lani, yang kawathir dengan keberadaan dirinya yang menghilang dari kemaren.
" Angkat dong mas, kamu dimana sih."
Lani berjalan mondar-mandir didepan pintu masuk rumahnya, sesekali dia mengelus-elus penuh kasih sayang perutnya yang juga sudah ada benih Dani didalam nya, Lani sangat yakin sekarang dia dan calon anaknya, adalah pewaris tunggal kekayaan Dani, mengingat Sinta yang sebentar lagi akan bercerai dari Dani.
***
Sinta, melangkah masuk kedalam rumah dan kamar yang sudah beberapa hari ini, dia tinggalkan.
" Selamat datang kembali dirumah Bu." sambut Bi jah.
" Ya."
__ADS_1
Sinta hanya menanggapi singkat dan dingin sapaan Bi jah, entah kenapa akhir-akhir ini. dia merasa curiga dan tidak menyukai asisten art nya itu. Sinta bisa membaca ekspresi wajah dan sikap bi jah tidak setulus dulu lagi.
"Mulai sekarang aku harus waspada dan hati-hati terhadap bi jah, perasaan ku mengatakan jika dia bukan Bu jah yang dulu patuh dan jujur, bahkan cctv yang aku pasang dikamar Lani dulu, hanya dia yang tahu. tapi kenapa aku merasa mereka seperti dia ikut bekerja sama dengan mas Dani, untuk mengalihkan perhatian ku. jika terbukti kecurigaan ku ini beralasan, aku akan memecatmu bi jah." gumamku sambil memperhatikan gerak-gerik nya dari jauh.