
Rumah mertua Lani, memang jauh lebih besar dan mewah. namun hanya rumah besar inilah satu-satunya sisa harta yang dimiliki oleh mas Dani dan mamanya.
Lani ikut membantu menyusun pakaian mereka, menempati kamar yang dulunya digunakan Dani semasa belum menikah, mengingat setelah menikah dengan Sinta, Dani langsung pindah kerumah baru mereka.
Dani memasang plank merek, jika rumah atas nama Lani itu dijual. dia sengaja tidak menggunakan jasa perantara, bahkan Dani sempat menghubungi teman-teman nya secara langsung, menawarkan harga, termasuk memasang di media sosial nya sendiri.
Banyak yang langsung menghubungi Dani, baik sekedar tanya-tanya ataupun menawar, tapi kebanyakan dari mereka menawar dengan harga yang murah. sehingga Dani belum berani melepas rumah tersebut.
Dani selalu meredam emosi, amarah, perasaan sedih dan kecewa nya sendiri. dia tidak ingin Lani yang tengah hamil besar itu ikut terbebani oleh situasi dan kondisi yang tengah dihadapi Dani sekarang. sehingga sebisa mungkin Dani bersikap ceria dan perhatian pada istri nya itu agar Lani tidak ikutan resah, mengingat kondisi kesehatan nya juga baru membaik.
Pagi ini Dani kembali berpakaian rapi, dengan stelan kemeja. seperti biasanya, Dani tidak pernah tinggal diam dan ongkang kaki dirumah, mengingat dia merupakan tipe pekerja keras dan mudah menyerah pada keadaannya.
" Minum dulu mas." Lani sudah menyiapkan sarapan dan kopi hitam kesukaan Dani.
Dani duduk dan sarapan dalam diam, sedangkan mama lebih banyak menyibukkan diri dengan beribadah dan baca Al Quran, pagi-pagi begini. setelah sekian banyak permasalahan yang menimpa anaknya, mama juga mulai lebih memperdalam agama dan mendekatkan diri pada Tuhan, bahkan dia sering menasehati Dani.
"Lani, aku harap kamu tetap sabar, meskipun kehidupan kita tidak seperti dulu lagi."
__ADS_1
"Iya mas, semoga apapun yang kamu rencana kan bisa berjalan dengan baik."
" Ya Lani, aku pergi dulu ya."
" Ya, hati-hati mas."
"Perasaan ku selalu tidak enak beberapa hari ini, ya Allah ada apa dengan mas Dani. ya Allah bantu dan ringankan lah beban suami hamba, dia laki-laki yang baik." doa Lani dalam hatinya, sambil menatap Dani yang terlihat berusaha tegar dan tersenyum.
"Mas pergi dulu, assalamualaikum." ucap Dani.
"Hati-hati ya mas, waalaikumsalam." balas Lani sambil mencium punggung tangan Dani.
"Ternyata mencari pekerjaan tidak semudah yang aku pikirkan selama ini." tubuh Dani terhenyak bersandar pada sandaran kursi taman kota. pikiran dan tubuhnya tersa lelah. hingga tanpa sadar Dani tertidur beberapa saat dikursi taman yang dilalui lalu lalang perjalan kaki yang hendak menuju pusat perbelanjaan.
"Ha...ha....hi...ha..." suara heboh dan gelak tawa, serta iringan tepuk tangan yang meriah, membuat tidur Dani terjaga, segera dia mengedarkan pandangannya ke asal suara yang heboh dan ramai.
Tidak jauh dari posisi Dani sekarang, nampak banyak orang dan anak-anak berkumpul menyaksikan beberapa badut karakter yang sedang menari menghibur para pengunjung taman kota.
__ADS_1
Mata elang Dani memperhatikan seksama setiap gerakan para badut karakter tersebut. kegesitan nya memainkan bola. sangat menarik perhatian, ya semenjak kecil Dani sangat menyukainya permainan dan badut.
Setelah pertunjukan selesai, Dani mengikuti dari belakang langkah kaki para pemain yang menuju salah satu ruangan dalam mall yang berlokasi tidak jauh dari taman.
"Siapa kamu?" tanya salah satu dari mereka yang melihat kedatangan Dani.
"Bo... bolehkah saya ikut bergabung dengan kalian," ucap Dani terlontar begitu saja.
Semua yang disana saling pandang, dan tertawa.
"Apa kamu yakin bisa seperti kami?"
"Saya yakin bisa, dan berusaha belajar." ucap Dani antusias.
Ketua dari komplotan mereka, melihat keseriusan Dani.
"Baiklah, berhubung salah seorang anggota kami mengundurkan diri, kami saya terima untuk menggantikan nya, mulai sekarang belajarlah mengikuti gerakan senior mu itu."
__ADS_1
"Ba...baik pak, terimakasih." ucap Dani tersenyum bahagia.