
"Nyonya Vanesa, maafkan aku. yang telah memisahkan kamu dengan bayimu..hu....hu...aku yang bersalah, karena tanpa mencaritahu kebenaran nya, aku langsung percaya dengan rumor yang beredar, aku minta maaf."
Tangis ibu Rey pecah mengisi setiap sudut ruang perawatan Vanesa, yang masih tercekat seakan tidak percaya, jika yang berdiri dihadapannya ini adalah Ratna, istri sopir pribadi nya yang sudah melakukan penculikan terhadap bayinya sendiri.
" Kamu.... kamu Ratna Khan, cepat katakan Nana bayiku.....mana anakku yang sudah kamu culik." Vanesa yang semula tenang tidak mampu mengendalikan amarahnya, dia berteriak-teriak sambil menguncang bahu Ratna emosi.
"Aku...mohon kembalikan bayiku, dia tidak bersalah....aku mohon Ratna....." tangis Vanesa sangat pilu.
"Maafkan aku nyonya, bayimu tidak bersamaku lagi."
Mendengar penuturan Ratna, seketika emosi Vanesa hilang kendali, dia mengamuk sambil berisi memanggil-manggil anaknya, seketika ruangan perawatan Venesia menjadi heboh. termasuk Rey yang membantu menenangkan ibu Vanesa yang terus-menerus menagis dan meronta-ronta.
" Bagaimana ini, tolong cepat panggilkan dokter." teriak Rey. perawat segera memangil kan dokter untuk membantu menenangkan ibu Vanesa kembali.
" Ada apa ini?" ucap dokter saat melihat ruangan yang sudah berantakan.
"Maaf dok, ibu Vanesa syok ketika bertemu dengan ibu saya."
Dokter langsung memeriksa kondisi Vanesa, diapun memberikan suntikan penenang, sehingga Vanesa kembali tertidur, sesekali masih terdengar indah tangisan nya. dan genangan air mata dipelupuk matanya yang sembab karena keseringan menangis.
__ADS_1
Melihat penderitaan Vanesa, membuat rasa bersalah dan penyesalan mendalam bagi ibu Rey. namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, selain berencana akan mencari putri Berliana yang dia Huang beberapa tahun silam.
" Rey, bantu dan temani ibu ya nak. ibu ingin mencari putri Berliana ketempat ibu membuang nya dulu."
" Baiklah Bu."
Siang itu Rey, bersama ibunya pergi perkampungan dan pemukiman penduduk yang dapat dikatakan garis menengah kebawah, tidak ada yang kaya disini, mereka hidup dari hasil mulung, oesanfang asongan dan kaki Lima. menelusuri gang kecil. hingga mereka berdua sudah sampai didepan rumah kecil yang sangat sederhana, tapi sudah terkunci dari luar, menandakan jika rumah tersebut kosong.
" Ibu, benar ibu membuangnya di depan rumah ini." ucap Rey meyakinkan, sapa tahu saja ibunya lupa.
" Benar nak, karena ibu tahu jika pasangan penghuni rumah ini tidak memiliki seorang anak, sehingga ibu berfikir mereka bisa merawat Berliana dengan baik."
" Iya, apa mereka sudah pindah rumah ya nak?"
"Sebaiknya, kita tanyakan langsung pada RT tempat ini."
Rey mengajak ibunya menemui RT setempat, mereka disambut baik dan dipersilahkan untuk masuk kerumah sederhana tersebut.
" Maaf bapak mengganggu, perkenalkan nama saya Rey, dan ini ibu saya." mereka pun bersalaman.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya, apa ada yang bisa saya bantu, dek."
" Iya pak, saya dan ibu saya ini, ingin bertemu dengan pemilik rumah didepan gerbang itu." Rey menunjukkan rumah tersebut.
" OOO, ibu Ani dan suaminya sudah lama meninggal dunia, jadi rumah itu kosong Sekarang."
" Meninggal Dunia, terus apa mereka tidak mempunyai seorang anak?" ucap Rey tidak sabaran.
" Kalo anak, ada. namanya Melani. tapi dia itu sepertinya anak angkat mereka. dan sudah lama pergi ketempat lain mencari pekerjaan."
"Apa, namanya Melani?"
" Iya dek."
" Apa Melani yang bapak maksud wanita yang ada di foto ini!" Rey memperlihatkan foto Melani yang ada di ponselnya. dengan detak jantung yang berpacu, dia sangat yakin jika Melani tersebut adalah orang yang sama dengan Lani, istri bos Dani.
" Benar, sekali dek. ada apa kalian mencarinya. apa dia sudah melakukan tindak kriminal, atau sesuatu yang sudah merugikan kalian?"
" Degh....."
__ADS_1