Pelakor Cantik Itu, Aku

Pelakor Cantik Itu, Aku
Jujur pada ibu


__ADS_3

" Sinta, kali ini, tolong jujur sama ibu nak. naluri seorang ibu tidak pernah salah. ibu yakin saat ini kamu tengah menghadapi masalah berat, dan ibu yakin jika itu bukan masalah perekonomian, melainkan masalah rumahtangga yang berhubungan dengan komitmen dan kesetiaan diantara kalian berdua."


" Ibu, aku ngak papa kok, jadi ibu, ngak perlu cemas dan kawathir seperti ini."


Sinta berusaha tegar, dan tersenyum dalam kerapuhan nya. bahkan dia berusaha mengalihkan pandangan kearah lain, saat tatapan mata ibu yang intens menunggu jawaban nya. tangan ibu menarik dagu Sinta menahannya.


" Jujurlah nak."


" Tidak apa-apa kok, Bu." berusaha menahan genangan yang hampir tumpah di pelupuk matanya.


" Sinta, ibu sudah mengetahui semuanya."


" Hiks....hiks....hiks..."


Mendengar itu, Sinta tidak mampu lagi menahan, dia mengeluarkan air mata nya, dan menghambur memeluk ibunya, seakan-akan ingin meluahkan kesedihan dan hatinya yang hancur.

__ADS_1


" Sudahlah nak, terima ini dengan ikhlas." ibu mengusap punggung Sinta dengan kasih sayang.


" Yah, meskipun aku selalu berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata lagi, namun nyatanya aku tetap lah perempuan yang rapuh. aku kembali memaksakan senyum menatap ibu. saat ini Sinta mersa otaknya tidak mampu bekerja ataupun berfikir tenang, hanya ini yang bisa dia lakukan.


" Ibu aku akan kuat, apalagi jika ibu selalu ada didekat ku."


" Tentu nak."


Sekuat tenaga ibu menahan air mata nya, namun cairan bening tetap mengalir Dimata keriput nya memeluk sayang tubuh anaknya, tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika nasib Sinta akan seperti ini ditengah kehamilan yang selama ini mereka nanti-nantikan.


" Ibu aku akan bertahan, sampai aku melahirkan nanti nya. aku tidak rela mereka berbahagia diatas penderitaan ku, terurama Lani, dia harus merasakan bagaimana pedih yang aku terima, mengambil miliki orang lain, setelah aku berhasil memisahkan mereka, aku dan anakku, akan meninggalkan mas Dani juga. bagaimana pun, rasa sakit ini tidak akan dapat terobati bu.. hiks...hiks..." kembali menangis terisak-isak.


" Ibu hanya tidak ingin, hidup mu dipenuhi oleh dendam nak. sebagai seorang ibu, hanya kata sabar dan ikhlas yang dapat ibu katakan, ibu tidak bisa terlalu jauh masuk pada permasalahan rumahtangga mu ini, kamu sudah dewasa dan menikahi Dani adalah pilihan mu sendiri, ibu harap berfikir bijaklah nak."


" Iya Bu."

__ADS_1


" Yang terpenting saat ini, kamu dan bayimu harus tetap sehat. "


" Uta Bu, Aku berharap kelak anakku tidak menuruti sifat buruk mas Dani itu."


" Iya sayang, ibu yakin dengan didikan dan kasih sayang yang tulus, kelak anakmu tumbuh menjadi anak yang baik dan berbakti."


***


Pagi sangat cerah, Sinta menikmati suasana pagi ini dengan senyuman, duduk sendiri diteras depan rumah nya, meskipun hatinya terus merutuki perbuatan Dani dan Lani saat ini. bahkan berita seputar perselingkuhan mereka sekarang sudah bertukar dengan pernikahan yang telah mereka lakukan, jauh sebelum kejadian dimana aku memergoki mereka.


Dani dan Lani semakin berani tampil didepan umum, bahkan mereka tidak malu dan takut lagi memberitahu kan kepada publik. tentang pernikahan keduanya.


" Aku tidak akan melepas pernikahan kalian dengan mudah, meskipun kamu berhasil membuat surat izin dan menipulasi surat izin dariku, seolah-olah aku memberikan restu atas pernikahan kalian tersebut." gumam Sinta, mencoba mengingat surat yang memberikan izin darinya untuk Dani menikah dengan Lani, bahkan tanda tangan yang tertera juga asli tanda tangan nya.


" Mereka berdua benar-benar licik,"

__ADS_1


Semoga kamu tidak kenapa-kenapa nak, ibu takut kondisi spikis ibu membuat mu ikutan lemah, kita harus kuat dan mempertahankan apa yang seharusnya kita berdua dapatkan, setelah itu kita akan tinggalkan ayahmu."


__ADS_2