
Dalam doa panjangku, aku minta selalu diberikan kekuatan, meski rasanya aku tidak sanggup menanggung beban berat ini, tanpa terasa air mataku kembali membanjiri wajah dengan hatiku yang rapuh, bagaimana pun aku mencoba untuk kuat, namun sesungguhnya aku tetap lah wanita lemah yang sewaktu – waktu bisa hancur.
Hari Minggu pagi ini, mas Dani sengaja ingin menghabiskan waktu berdua dengan ku dirumah, meski tidak ada lagi pelukan dan ciuman penuh kasih sayang seperti dulu lagi. mengingat aku selalu berusaha untuk menghindar setiap mas Dani igin bermesraan dengan ku.
Mas Dani berjalan mendekati ku, sambil memegangi tengkuknya. raut wajah nya terlihat sangat keletihan karena habis bercinta dengan Lani atau memang bekerja mencari nafkah untuk kami.
“ Capek banget ya mas, akhir-akhir ini mas sering lembur terus.” Aku memaksakan senyum melirik mas Dani yang sekarang sudah beralih posisi merebah tubuhnya di pangkuanku.
Meskipun dengan perasaan jijik yang bercampur aduk, aku tetep menyembunyikan perasaan ku yang sesungguhnya, terutama tentang kehamilan ku.
Mas Dani tidak pernah mau membalas tatapan ku, meskipun aku berusaha untuk melihat kedua bola matanya, yang dulu selalu menatapku penuh cinta dan kasih sayang. sehingga hal ini membuat ku merasa sakit, sambil melamun larut dalam pikiran ku yang kacau karena penghianat nya.
“ Ku pejamkan mata ini, mencoba untuk melupakan, segala kenangan indah, tentang dirimu dan diriku, semakin aku mencoba, bayangmu semakin nyata. Tak pernah kah engkau sadari, arti cinta ku untuk mu….”
__ADS_1
Tanpa sadar bibir Sinta, bergumam mengikut lirik lagu grup band favorit nya. Yang sangat pas menggambarkan suasana hatinya yang sesungguhnya.
“Semoga mas Dani tidak meminta haknya, aku sudah sangat jijik untuk berhubungan dengannya lagi, dasar penjahat kelamin kamu mas.” Gumam Sinta beranjak dari Dani.
“ Semoga kamu tetap kuat dan sehat ya nak, bunda akan selalu menyayangi dan menjagamu sebaik mungkin.”
Dani menyadari jika kondisi istrinya tidak dalam keadaan baik-baik, tapi dia tidak berani dan rasa bersalah membuat nya ikut lebih memilih diam, berharap Sinta akan luluh dan mau memaafkan nya dan menerima dirinya dan Lani suatu saat nanti.
***
Huuueekk…huuekk..,
Sinta ingin memuntahkan seluruh isi perutnya, kondisi nya sangat lemah, termasuk selera makan singa yang benar-benar menurun dtratis, Dia mengusap keringat dingin yang membasahi wajahnya dengan punggung telapak tangan, sambil menyeret langkah pelan menuju ranjang.
__ADS_1
Brunggg…. Sinta kehilangan kesadaran nya, saat kakinya hendak mencapai sisi ranjang, dia ambruk dilantai keramik bewarna putih ini.
Kondisi rumah yang sepi, mengingat Dani juga sudah berangkat pagi-pagi sekali, meskipun sering pulang akhir-akhir ini, namun hubungan mereka tidak seindah dulu lagi. Mengingat Sinta yang masih menjaga jarak dari suaminya itu, bahkan Sinta tidak pernah mau meminta maaf, seperti yang diharapkan Dani.
“ Kenapa Bu Sinta belum turun juga ya?”
Karena penasaran, bi jah berjalan mendekati kamar Sinta. Mengingat tubuh Sinta yang sedikit kurusan dan terlihat sedang tidak dalam keadaan baik-baik.
“ Astagfirullah Bu Sinta.”
Bi jah yang panik, langsung menghubungi Dani.
“ Tuan, Bu Sinta pingsan dikamarnya.”
__ADS_1
“ Apa? Istri ku pingsan. Cepat bawa kerumah sakit pusat secepatnya, aku segera menyusul.”
“Baik Tuan.”