
Dani tak kuasa menyembunyikan kesedihan dan kehancuran nya, ketika hakim membacakan sidang putusan akhir perceraian mereka.
Dilihatnya Sinta, yang dulu dinikahinya dan berjanji hanya maut yang akan memisahkan mereka berdua. namun sekarang apa, hitungan tahun mereka membina dan menjalani bahtera rumah tangga, dalam hitungan detik, hakim sekarang sudah memutuskan jika diantara mereka sudah tidak memiki hubungan apa-apa lagi.
Dani tertunduk lama, sambil berusaha menahan rasa sesak di dada nya. mengabaikan pertanyaan mama yang tiba-tiba kwuatir sambil mengelus punggungnya.
"Dan....Dani kamu kenapa nak."
" Bagaimana pun, kita harus ikhlas dan sabar nak." mama mengelus punggungku. tapi aku hanya ingin menenangkan hati ku yang terasa semakin sesak. bahkan untuk duduk dengan sempurna pun aku tidak bisa, sehingga tubuh ku hilang keseimbangan dan jatuh dari kursi lalu terguling kebawah. sehingga suasana persidangan yang baru selesai ketuk palu itu seketika heboh.
Aku mengabaikan ucapan orang-orang yang panik dan terkejut, bahkan mungkin ada yang berfikir jika ini akting ku, yang tidak terima berpisah dari Sinta. tapi aku jujur, dan benar-benar merasakan sakit saat ini. anggota tubuh ku yang lain terasa kaku dan sulit untuk digerakkan dengan leluasa.
Sebisa mungkin aku menggerakkan tangan, untuk menekan kuat bagian dada berharap itu bisa mengurangkan rasa sakit.
" Sakiiit.... sakiiit mama, Sinta...." ucap ku lirih tanpa suara. namun aku masih bisa melihat Sinta ku menagis berusaha memanggilku.
__ADS_1
" Mas bertahanlah, kita akan kerumah sakit segera." terdengar ucapan Sinta yang panik. melihat hal itu, aku sedikit lega, paling tidak di dia masih mencemaskan keadaan ku ini.
" Minum dulu mas." Sinta membantu meminumkan segelas air putih, meskipun hanya beberapa teguk. namun bisa membuat ku sedikit lega.
" Kamu kenapa nak?"
" Nggak tahu ma, dadaku tiba-tiba sesak dan sangat sakit." terangku.
" Nanti kita periksa ke dokter ya." ucap mama lembut, akupun menggangguk pelan, dan kembali menatap Sinta yang berdiri hendak bersiap untuk pulang.
"Ya, ada apa mas."
Aku bingung apa yang harus aku katakan sekarang, Sinta bukan Istriku lagi. melainkan hanya mantan. kata-kata mantan itu membuat hatiku kembali perih, sehingga aku menangis dalam diam. Sinta seolah-olah mengerti.
" Mas, aku harap kamu iklas dengan semua ini. mendingan sekarang mas fokus pada kesehatan mas dan juga Lani." ucap Sinta bijak.
__ADS_1
" Sinta, perlu kamu tahu. sampai kapanpun mas akan tetap mencintai dan menyayangi mu. tolong jangan benci mas setelah ini ya."
" Iya mas, bagaimana pun kamu ayah dari bayiku Rayanza."
" Sinta, peluk aku untuk yang terakhir kalinya." ucap ku sambil berusaha menyembunyikan rasa sedih dan hancur ku.
" Maaf mas, aku bukan Sinta mu lagi, sekarang kita tidak muhrim lagi untuk bersentuhan." tolaknya.
Hatiku semakin hancur mendengar kata-kata yang terlonrat dari bibir Sinta, dia sudah menjaga jarak dan seperti orang lain terhadap ku sekarang.
" Maafkan aku Sinta."
" Mama, mas Dani aku pulang dulu. semoga mas cepat sembuh. cintai dan sayangi lah Lani mas, semoga kejadian ini tidak terulang lagi."
" Iya Sinta." jawabku meskipun dalam hati aku belum siap dengan kenyataan ini.
__ADS_1
" Dani, sebaiknya sekarang kita juga pulang nak, kamu harus istrahat yang cukup. mama kasihan melihat mu sekarang. kurus dan penampilan mu juga sudah berantakan. tidak seperti Dani anakku yang dulu selalu bersih dan rapi." bujuk mama yang memapah ku untuk berdiri, aku pulang dengan mobil mama, sedang kan mobilku sudah aku jual untuk terapi pengobatan Lani, seiring dengan asetku dan harta kekayaan ku yang juga mulai berkurang.